Mau Nonton Inside Out? Jangan Dandan Ketebelan*)

Sebagai penggemar animasi kelas bulu junior, ada dua studio animasi yang sama-sama ada di urutan satu dalam daftarku. Yang satu Ghibli, satunya lagi Pixar.

Sayangnya rilisan Pixar beberapa tahun belakanganseperti Brave atau Monster University—walau masih superior, tapi kurang nancep di otakku. Makanya, begitu muncul How to Train Your Dragon 2-nya Dreamworks sama Wreck It Ralph punya Disney, aku agak-agak melipir dari Pixar.

Tapi di dalem hati (tsah) aku masih nunggu rilisan Pixar yang bisa bikin kepikiran berhari-hari setelah nonton, macam Up, Monster Inc, Toy Story 3, atau Wall E. 

Sampai akhirnya muncul Inside Out!
Malah mungkin, sejauh ini Inside Out adalah film Pixar paling favorit dari yang terfavorit buatku.

Inside_Out_(2015_film)_poster

Ada dua cerita besar di Inside Out. Pertama tentang turbulensi emosi Riley, gadis kecil  11 tahun yang baru saja pindah ke San Fransisco bersama keluarganya. Yang keduadan paling serutentang makhluk-makhluk penghuni kepala Riley.

Ada lima yang penting, yakni Joy, Fear, Disgust, Anger dan Sadness, yang masing-masing mengontrol emosi yang dirasakan oleh Riley. Setiap emosi ini kemudian tertanam dalam kelereng-kelereng ingatan yang disimpan di labirin memori Riley.

Komandan dari kawanan ini adalah Joy, yang begitu bangga dengan hasil tugasnya selama ini, yaitu mayoritas kelereng ini berisi ingatan bahagia Riley. Ingatan bahagia ini juga terekam dalam core memory, kelereng ingatan yang membentuk pribadi Riley.

Kadang, ia menyerahkan kendali emosi pada Anger, Disgust, atau Fearkarena menurut Joy, mereka memiliki fungsi dalam hidup Riley.Namun, tidak dengan Sadness. Joy tidak pernah mengerti apa fungsi kesedihan yang melekat pada Sadness.

Sampai kemudian terjadi kecelakaan yang membuat Joy dan Sadness tersesat dalam labirin memori jangka panjang Riley, bersama dengan core memory. Kedua emosi dengan kutub berlawanan ini kemudian memulai perjalanan mereka kembali ke markas, dan bertemu dengan makhluk-makhluk lain yang mengendap di dalam kepala Riley

***

Alasan aku begitu suka Inside Out, bisa diringkas dalam satu kalimat: karena film ini Pixar banget.

Bah, tentu ini sangat subyektif, jadi argumen ini sebaiknya dipanjangkan sedikit.

Menurutku, kelebihan film-film top Pixar adalah, mereka mampu merangkum satu topik yang biasanya nggak ringan, dengan cara yang ramah bagi anak dan sekaligus tidak membodohi penonton dewasa.
Di Up, misalnya, ada cerita tentang kesendirian di usia senja dan kematian. Atau kritik terhadap eksploitasi bumi yang berlebihan dan gaya hidup masyarakat modern di Wall-E.

20150805_122723 (1)
Sempet ketemu Pete Docter (tengah) sama Ronnie del Carmen (kanan) juga, sutradara+penulis Inside Out 😀

Sementara Inside Out, mereka bercerita tentang banyak hal. Dari mata penonton cilik, Inside Out mungkin dilihat sebagai sebuah film petualangan dengan tokoh di dunia warna-warni. Atau sebuah penjelasan yang menyenangkan tentang cara manusia menyimpan ingatannya.

Tapi buat penonton dewasa, mungkin  ada sesuatu yang rasanya ditarik-tarik di dalam sini. Untukku sendiri, Inside Out membuatku berpikir mengenai apa saja yang telah dikorbankan atau ditinggalkan demi proses menjadi dewasa.
Tentang seberapa banyak ingatan kecil yang sebenarnya berharga, namun tanpa sadar dilupakan.
Dan juga bahwa di tengah masyarakat yang menyanjung kebahagiaan sebagai tujuan hidup, sesekali menarik diri untuk bersedih pun bukan suatu yang buruk.

Kelihatannya suram banget, ya. Tapi jangan salah, Inside Out adalah tontonan yang sangat menyenangkan. Semua-muanya, termasuk karakter, jokes, visual, sampai credit title-nya. Dan menurutku, Pixar berhasil membangun dunia dalam kepala Riley dengan pondasi imajinasi yang kekanak-kanakan , tapi tetap nyambung dengan penonton dewasa. Dan ini juga, menurutku Pixar banget.

Ringkasnya, kalau aku bisa mengendalikan ingatanku, ingin rasanya memasukkan pengalaman nonton Inside Out dalam core memory-ku.

***

*)Apa maksud judul ala-ala berita online ini? Well, aku nggak mau ngejelasin detail, karena potensial jadi spoiler (ha!). Tapi percaya saja padaku, karena seperti kata orang, mencegah lebih baik daripada bedak, maskara dan eyeliner  beleberan pada akhirnya (ha.)

P.S:

  • Tulisan ini, semacam pengembangan dari resensiku di Majalah Tempo 10 Agustus lalu. Poin yang terlalu subyektif dan yang nggak muat masuk ke tulisan 4 ribu karakter, dilempar ke sini.
  • JANGAN TELAT MASUK BIOSKOP. Serius. Seperti biasa, di awal film Pixar ‘mentraktir’ kita dengan satu film pendek. Di Inside Out, ada satu film pendek tentang sebuah gunung berapi yang kesepian. AND I LAVA IT!
  • Film ini mengingatkan aku dengan satu ‘proyek’ yang sudah kutelantarin sejak dahulu kala. Dan ternyata… ada beberapa poin di orat-oretku ini yang mirip dengan di Inside Out 😀

    Apa mungkin ini pertanda…kulanjutkan saja corat-coret-mbuh-iki-opo ini??!!

3

10

Sumber gambar:

Wikipedia

SiAnink (Masih) Belajar Menggambar. Saiki Nggo Layar Tutul

Ini, adalah gambar yang kubikin sekitar dua minggu lalu:

artflow_201501262204

Aku jamin, nggak ada orang yang paham ini gambar siapa.
Tapi kalau Anda menjawab Benedict Cumberbatch, maka selamat. Anda berbakat jadi cenayang yang jago nebak nomer togel.

Lalu, seminggu kemudian aku mencoba menggambar lagi. Kali ini korbannya adalah Hozier, yang lagunya From Eden, kuputer-puter macam gasing selama kurang lebih dua bulan terakhir.

Expectation: Something like this
                                                              Expectation: Something like this

Di tengah jalan, aku berhenti sebentar.

artflow_201502070018

Ini kenapa jadi kayak mbak-mbak? Tapi kulanjutkan saja, karena kupikir nantinya bakal tambah macho juga setelah kutambahi jenggot dan kumis. Namun kenyataannya…

artflow_201502070113

Kenapa jadi kayak Conchita Wurst?

***

Yah, seperti yang pernah aku bilang dulu-dulu, aku suka banget menggambar. Tapi aku nggak bisa menggambar. Namun aku nggak bisa berhenti menggambar. Karena menggambar itu menyenangkan.

Misalnya, proses menggambar si Benadryl (yang jadinya lebih mirip jempol kaki ini) sungguh menyenangkan, karena:

  1. Aku punya alasan untuk nyimpen (buanyak) foto si Benadryl
  2. Aku bisa ngeliatin foto yang bersangkutan selama berjam-jam. Without looking like a creep.

Ehm.

Belakangan ini aku jadi lebih sering menggambar, karena akhirnya menemukan combo aplikasi dan stylus yang mendukung untuk tabletku. Dan menggambar lewat tablet ini rasa-rasanya memberikan sensasi menggambar di atas Wacom Cintiq yang harganya lebih mahal dari sepeda motor itu.

Yang kau butuhkan hanyalah imajinasi...
                                                            Yang kau butuhkan hanyalah imajinasi…

Dan untuk bernostalgia dengan masa-masa menjadi reporter teknologi, aku mau ngereview sedikit aplikasi + hardware yang kupake.

1. Targus Stylus
Karena tabletku ukurannya kecil, yaitu Nexus 7 inci, rasanya susah menggambar dengan jari. Terutama detail-detail kecil. Karena itu aku beli si stylus ini, harganya waktu itu seratus ribu.

Yang aku suka dari stylus ini adalah bentuk fisiknya yang serupa pulpen. Kadang bentuk stylus suka aneh-aneh, malah jadi susah dipakenya. Materialnya juga lumayan solid dan kokoh, jadi nggak takut retak kalau keinjek (ini sangat mungkin terjadi pada barang-barangku)

IMG_2478
Perbandingan ujung antara pulpen jale, stylus dari Bamboo Manga, dan Targus Stylus. Jari telunjuk sebagai patokan ukuran dan pemanis foto.

Ujung stylus ini standar aja, tumpul dan membulat, tapi karetnya empuk.  Aku nggak bisa terlalu membandingkannya dengan merk stylus lain, karena aku sebelumnya nggak terlalu  banyak menggunakan stylus.

Di bulan-bulan pertama beli, stylus ini tergolong responsif banget. Nggak harus menekan kuat-kuat ke layar, jadi lumayan enak dipakai menggambar. Beberapa stylus yang pernah kucoba sebelumnya, ada yang harus digunakan dengan sudut-sudut kemiringan tertentu. Tapi si Targus ini oke aja, mau dipake miring sedikit, atau tegak lurus.

Setelah kurang lebih setengah tahun dengan pemakaian hardcore (baca: sembrono), si stylus mulai berkurang performanya. Kadang harus ditekan lebih keras, kadang kalau narik garis panjang tiba-tiba terputus.
Ya ini salahku juga sih sebenarnya, karena si Targus ini sempat kuaniaya sampai karetnya hampir copot -_-;

2. Aplikasi Artflow

Yak, ini dia aplikasi ilustrator favoritku di Android.
Karena tabletku ukuran layarnya lumayan mini, aku jadi rewel sama antarmuka aplikasi. Si Artflow ini punya antarmuka yang bersih, sama sekali nggak ada iklan di dalemnya. Aku juga bisa mengatur panel mana aja yang tampil di layar selama aku bekerja dengan aplikasi ini.

Screenshot_2015-02-06-23-12-00

Screenshot_2015-02-06-23-48-33

Fungsi-fungsi di dalemnya juga lumayan lengkap, macam Adobe Photoshop kemasan super-ekonomis. Ada brush, pencil, airbrush, smudge, penghapus, fill in, layer options dan beberapa lainnya.

Untuk versi trial gratisan (yang bisa dipakai selamanya tanpa batas waktu), sebagian jenis kuas atau pencil dikunci.
Layer yang tersedia untuk versi gratis juga memang cuma dua, tapi cukup lah untuk gambar-gambar sederhana.
Adapun format penyimpanan gambar, bisa dilakukan dalam .jpg dan .png untuk versi gratisan, ditambah dengan .psd untuk versi berbayar.

Yang kurang dari aplikasi ini menurutku, adalah fungsi selection tool dan opsi untuk mengubah ukuran kanvas yang masih absen di aplikasi ini. Semoga nanti bisa dilengkapi di update berikutnya

Ini adalah salah satu aplikasi yang rasanya bakal kubeli versi full-nya. Hanya saja masih harus menunggu Ind*s*t ngebuka opsi bayar app pake pulsa untuk semua pengguna. Lama bener, dah.

BONUS!

Di orat-oretku yang ini,  aku sebenarnya memakai tipe font dari tulisan tanganku sendiri. Aku membuatnya lewat aplikasi gratisan (tentu saja) InstaFont Maker. Cara membuatnya gampang saja, kita tinggal mengikuti (atau bahkan melanggar!) patokan ukuran dan bentuk yang disediakan oleh aplikasi ini.

Screenshot_2015-02-11-19-26-33

 Dan aplikasi ini nggak butuh layar lebar atau stylus untuk mengoperasikannya. Ujung jari dan hp berlayar 3,5 inci pun sudah cukup. Font DIY ini juga bisa ditransfer ke PC, dan membuatmu sadar bahwa tulisanmu ternyata masuk pada aliran ekspresionis cenderung abstrak.

***

Biarpun aku demen ngegambar secara digital, masih ada masalah yang ngeganggu banget. Yaitu tampilan gambar yang bisa beda antara satu perangkat dengan perangkat yang lain, tergantung kondisi monitor.

Seperti gambar Hozier/Beben di atas yang kelihatan baik-baik saja di layar tablet. Tapi ternyata kalau dilihat lewat laptop dengan monitor yang sedikit didongakkin, kelihatan residu hapusan gambar yang ternyata masih bersisa atau malah goresan kuas yang keliatan masih kasar.

Ppffttttt…..

Sumber Gambar:

 Hozier: Screenshot dari video YouTube ini
Spongebob 

Review Life of Pi. Or My Never Ending Hatred Towards Hyena

Apa ada hal yang lebih buruk dibanding kapalmu karam di Laut Pasifik dan sebatang kara terapung-apung dalam sekoci penyelamat?
Jawabannya: Ada.

Kapalmu karam di Laut Pasifik, sebatang kara terapung-apung dalam sekoci penyelamat dengan hanya ditemani seekor harimau bengal yang punya nama jauh lebih keren dari namamu.

Inilah yang dialami Piscine Molitor Patel, alias Pi, remaja tanggung India yang namanya terinspirasi dari… nama kolam renang. Pi harus meninggalkan tanah kelahiran dan gebetan pertamanya saat hijrah ke Kanada, bersama puluhan hewan koleksi kebun binatang milik keluarganya dengan kapal laut ‘TsimTsum’.

Di tengah badai, kapal ini karam dan menelan seluruh isi kapal ke dalam lautan, kecuali Pi, dan beberapa hewan yang terangkut dalam sekoci penyelamat, termasuk si harimau ganteng Richard Parker.

Mampukah Pi bertahan hidup menghadapi ganasnya laut, depresi dan kesepian, juga  Richard Parker?

***

Jawabannya: Bisa.
He.. tenang… ini bukan spoiler. Film ini memang berjalan dengan alur flashback. Sejak awal ditampilkan Pi dewasa yang menceritakan pengalamannya pada seorang penulis. Sekitar 15 menit awal Pi bercerita panjang lebar mengenai nama, agama, hingga gebetannya.

Untung ada beberapa penyelamat di bagian yang sedikit bertele-tele ini. Pertama Pi kecil yang ganteng (atau aku yang pedofil?), Anandi, gebetan Pi,  juga  Mamaji, paman Pi dengan bentuk badan yang sedikit absurd.

Dan tentu saja Richard Parker.

Halooo ganteng
Halooo ganteng

Kemunculan pertama si harimau ini sukses membuat penonton satu bioskop tempatku nonton ber-woooah.  Men, salut sama tim cgi yang sukses menampilkan si Richard Parker dengan gagah. Yap, CGI. Si Richard Parker lebih banyak ditampilkan lewat bantuan teknologi, bukan hewan aseli.

“Kami nggak mau aktor kami dimakan,” begitu katanya.

***

Selain untuk CGI,  aku juga suka cast Life of Pi, terutama Suraj Sharma, pemeran Pi remaja. Nggak seperti Irfan Khan (Pi dewasa) yang biasa nongol di film-film Hollywood, ini pertama kalinya aku lihat Suraj.

Cemerlang, mungkin cocok menggambarkan Suraj. Bayangin, lebih dari setengah bagian film berdurasi dua jam ini hanya mengandalkan Suraj sendiri, terapung di tengah setting minimalis. Apalagi ia harus berinteraksi dengan macan yang sebenarnya nggak pernah ada, cuma efek visual belaka.

Bukan cuma itu, Suraj juga berhasil mengaduk emosi di beberapa adegan kunci. Misalnya  saat Pi yang seorang vegetarian meminta maaf pada seekor ikan yang terpaksa dibunuhnya demi bertahan hidup, juga saat perpisahan dengan Richard Parker.

Untuk sinematografisnya… yah gimana ya, film ini memang dibuat untuk 3D, karena itu banyak potongan adegan yang tampilannya dilebih-lebihkan. Aku nggak bilang ini jelek,   it’s just a little bit silly. Macem mbak-mbak cantik yang kebanyakan bergincu.

Tapi dari semua potongan gambar pemanis mata ini, favoritku justru gambar sederhana,  yang menyorot Pi dan Richard dari atas. Soalnya itu persis cover buku Life of Pi yang kubaca dulu, dan ilustrasinya keren abis kaka..

cover lifeofpi

***

Ngomongin film Life of Pi nggak bisa cuma dari aspek teknis doang, tapi isi filmnya. Bukan cuma jalan ceritanya, tapi pemikiran di baliknya. Nggak harus takut untuk nonton Life of Pi, karena film ini memang ngajak mikir, tapi nggak harus mikir untuk ngerti ceritanya.

Aku liat dari twit, blog, dll, ‘pesan moral’ yang ditangkep orang-orang yang udah nonton pun beda-beda. Mungkin tergantung apa pikiran yang putarannya paling kenceng di kepala. Ada yang nangkep tentang sisi religiusnya, tentang menghadapi ketakutan, dan sebagainya.

Ini indahnya film ini.

Buatku sendiri ‘pesan moral’ film ini: mungkin biasanya kita memang memilih untuk percaya hanya pada hal yang ingin kita percayai.

***

Ah, aku belum menyebutkan satu hal lagi yang aku suka banget dari Pi: background musiknya, terutama lagu ini, yang digubah Om Mychael Danna:

Aku nggak tau isi lagunya tentang apa, tapi lagu ini memunculkan semacam bittersweet feeling waktu didengerin. Menenangkan sekaligus memilukan. Dan yang paling penting, si mbak Bombay Jayashri  berhasil mematahkan stereotip bahwa penyanyi cewe India cuma bisa melengking nyakitin kuping.

***

Eniwei, hari Sabtu  dua minggu lalu waktu aku nonton film ini banyak keluarga ngajak anaknya yang masih kecil nonton Life of Pi.
Ini. Salah. Besar.
Biarpun tentang binatang, Life of Pi bukan Lion King atau Bambi, Bapak Ibu.

Ada beberapa adegan sadis yang cukup eksplisit disini, lumayan bikin hati mencelos. Terutama kalo kamu seperti aku, lebih peduli nasib binatang daripada nasib manusia dalam film.

Kecuali si Hyena.
Sejak kecil aku suka nonton tayangan soal fauna, dan nggak pernah bisa dapet dimana bagusnya binatang yang punya suara macem Mak Lampir ini.
Dan film ini makin meneguhkan ke-enggak sukaanku ama si Hyena, terima kasih banyak.
(“No, not the Orang Utan, you filthy animal!! Pi! Kill it KILL IT!!!)

 

Bonus:India punya Pi, bocah yang berkawan dengan Richard Parker si harimau bengal.
Indonesia? Jangan khawatir… Indonesia punya Abdullah Soleh :

 

Pic Source :

Richard Parker

 – Cover buku Life of Pi