Mau Nonton Inside Out? Jangan Dandan Ketebelan*)

Sebagai penggemar animasi kelas bulu junior, ada dua studio animasi yang sama-sama ada di urutan satu dalam daftarku. Yang satu Ghibli, satunya lagi Pixar.

Sayangnya rilisan Pixar beberapa tahun belakanganseperti Brave atau Monster University—walau masih superior, tapi kurang nancep di otakku. Makanya, begitu muncul How to Train Your Dragon 2-nya Dreamworks sama Wreck It Ralph punya Disney, aku agak-agak melipir dari Pixar.

Tapi di dalem hati (tsah) aku masih nunggu rilisan Pixar yang bisa bikin kepikiran berhari-hari setelah nonton, macam Up, Monster Inc, Toy Story 3, atau Wall E. 

Sampai akhirnya muncul Inside Out!
Malah mungkin, sejauh ini Inside Out adalah film Pixar paling favorit dari yang terfavorit buatku.

Inside_Out_(2015_film)_poster

Ada dua cerita besar di Inside Out. Pertama tentang turbulensi emosi Riley, gadis kecil  11 tahun yang baru saja pindah ke San Fransisco bersama keluarganya. Yang keduadan paling serutentang makhluk-makhluk penghuni kepala Riley.

Ada lima yang penting, yakni Joy, Fear, Disgust, Anger dan Sadness, yang masing-masing mengontrol emosi yang dirasakan oleh Riley. Setiap emosi ini kemudian tertanam dalam kelereng-kelereng ingatan yang disimpan di labirin memori Riley.

Komandan dari kawanan ini adalah Joy, yang begitu bangga dengan hasil tugasnya selama ini, yaitu mayoritas kelereng ini berisi ingatan bahagia Riley. Ingatan bahagia ini juga terekam dalam core memory, kelereng ingatan yang membentuk pribadi Riley.

Kadang, ia menyerahkan kendali emosi pada Anger, Disgust, atau Fearkarena menurut Joy, mereka memiliki fungsi dalam hidup Riley.Namun, tidak dengan Sadness. Joy tidak pernah mengerti apa fungsi kesedihan yang melekat pada Sadness.

Sampai kemudian terjadi kecelakaan yang membuat Joy dan Sadness tersesat dalam labirin memori jangka panjang Riley, bersama dengan core memory. Kedua emosi dengan kutub berlawanan ini kemudian memulai perjalanan mereka kembali ke markas, dan bertemu dengan makhluk-makhluk lain yang mengendap di dalam kepala Riley

***

Alasan aku begitu suka Inside Out, bisa diringkas dalam satu kalimat: karena film ini Pixar banget.

Bah, tentu ini sangat subyektif, jadi argumen ini sebaiknya dipanjangkan sedikit.

Menurutku, kelebihan film-film top Pixar adalah, mereka mampu merangkum satu topik yang biasanya nggak ringan, dengan cara yang ramah bagi anak dan sekaligus tidak membodohi penonton dewasa.
Di Up, misalnya, ada cerita tentang kesendirian di usia senja dan kematian. Atau kritik terhadap eksploitasi bumi yang berlebihan dan gaya hidup masyarakat modern di Wall-E.

20150805_122723 (1)
Sempet ketemu Pete Docter (tengah) sama Ronnie del Carmen (kanan) juga, sutradara+penulis Inside Out 😀

Sementara Inside Out, mereka bercerita tentang banyak hal. Dari mata penonton cilik, Inside Out mungkin dilihat sebagai sebuah film petualangan dengan tokoh di dunia warna-warni. Atau sebuah penjelasan yang menyenangkan tentang cara manusia menyimpan ingatannya.

Tapi buat penonton dewasa, mungkin  ada sesuatu yang rasanya ditarik-tarik di dalam sini. Untukku sendiri, Inside Out membuatku berpikir mengenai apa saja yang telah dikorbankan atau ditinggalkan demi proses menjadi dewasa.
Tentang seberapa banyak ingatan kecil yang sebenarnya berharga, namun tanpa sadar dilupakan.
Dan juga bahwa di tengah masyarakat yang menyanjung kebahagiaan sebagai tujuan hidup, sesekali menarik diri untuk bersedih pun bukan suatu yang buruk.

Kelihatannya suram banget, ya. Tapi jangan salah, Inside Out adalah tontonan yang sangat menyenangkan. Semua-muanya, termasuk karakter, jokes, visual, sampai credit title-nya. Dan menurutku, Pixar berhasil membangun dunia dalam kepala Riley dengan pondasi imajinasi yang kekanak-kanakan , tapi tetap nyambung dengan penonton dewasa. Dan ini juga, menurutku Pixar banget.

Ringkasnya, kalau aku bisa mengendalikan ingatanku, ingin rasanya memasukkan pengalaman nonton Inside Out dalam core memory-ku.

***

*)Apa maksud judul ala-ala berita online ini? Well, aku nggak mau ngejelasin detail, karena potensial jadi spoiler (ha!). Tapi percaya saja padaku, karena seperti kata orang, mencegah lebih baik daripada bedak, maskara dan eyeliner  beleberan pada akhirnya (ha.)

P.S:

  • Tulisan ini, semacam pengembangan dari resensiku di Majalah Tempo 10 Agustus lalu. Poin yang terlalu subyektif dan yang nggak muat masuk ke tulisan 4 ribu karakter, dilempar ke sini.
  • JANGAN TELAT MASUK BIOSKOP. Serius. Seperti biasa, di awal film Pixar ‘mentraktir’ kita dengan satu film pendek. Di Inside Out, ada satu film pendek tentang sebuah gunung berapi yang kesepian. AND I LAVA IT!
  • Film ini mengingatkan aku dengan satu ‘proyek’ yang sudah kutelantarin sejak dahulu kala. Dan ternyata… ada beberapa poin di orat-oretku ini yang mirip dengan di Inside Out 😀

    Apa mungkin ini pertanda…kulanjutkan saja corat-coret-mbuh-iki-opo ini??!!

3

10

Sumber gambar:

Wikipedia

Advertisements

SiAnink (Masih) Belajar Menggambar. Saiki Nggo Layar Tutul

Ini, adalah gambar yang kubikin sekitar dua minggu lalu:

artflow_201501262204

Aku jamin, nggak ada orang yang paham ini gambar siapa.
Tapi kalau Anda menjawab Benedict Cumberbatch, maka selamat. Anda berbakat jadi cenayang yang jago nebak nomer togel.

Lalu, seminggu kemudian aku mencoba menggambar lagi. Kali ini korbannya adalah Hozier, yang lagunya From Eden, kuputer-puter macam gasing selama kurang lebih dua bulan terakhir.

Expectation: Something like this
                                                              Expectation: Something like this

Di tengah jalan, aku berhenti sebentar.

artflow_201502070018

Ini kenapa jadi kayak mbak-mbak? Tapi kulanjutkan saja, karena kupikir nantinya bakal tambah macho juga setelah kutambahi jenggot dan kumis. Namun kenyataannya…

artflow_201502070113

Kenapa jadi kayak Conchita Wurst?

***

Yah, seperti yang pernah aku bilang dulu-dulu, aku suka banget menggambar. Tapi aku nggak bisa menggambar. Namun aku nggak bisa berhenti menggambar. Karena menggambar itu menyenangkan.

Misalnya, proses menggambar si Benadryl (yang jadinya lebih mirip jempol kaki ini) sungguh menyenangkan, karena:

  1. Aku punya alasan untuk nyimpen (buanyak) foto si Benadryl
  2. Aku bisa ngeliatin foto yang bersangkutan selama berjam-jam. Without looking like a creep.

Ehm.

Belakangan ini aku jadi lebih sering menggambar, karena akhirnya menemukan combo aplikasi dan stylus yang mendukung untuk tabletku. Dan menggambar lewat tablet ini rasa-rasanya memberikan sensasi menggambar di atas Wacom Cintiq yang harganya lebih mahal dari sepeda motor itu.

Yang kau butuhkan hanyalah imajinasi...
                                                            Yang kau butuhkan hanyalah imajinasi…

Dan untuk bernostalgia dengan masa-masa menjadi reporter teknologi, aku mau ngereview sedikit aplikasi + hardware yang kupake.

1. Targus Stylus
Karena tabletku ukurannya kecil, yaitu Nexus 7 inci, rasanya susah menggambar dengan jari. Terutama detail-detail kecil. Karena itu aku beli si stylus ini, harganya waktu itu seratus ribu.

Yang aku suka dari stylus ini adalah bentuk fisiknya yang serupa pulpen. Kadang bentuk stylus suka aneh-aneh, malah jadi susah dipakenya. Materialnya juga lumayan solid dan kokoh, jadi nggak takut retak kalau keinjek (ini sangat mungkin terjadi pada barang-barangku)

IMG_2478
Perbandingan ujung antara pulpen jale, stylus dari Bamboo Manga, dan Targus Stylus. Jari telunjuk sebagai patokan ukuran dan pemanis foto.

Ujung stylus ini standar aja, tumpul dan membulat, tapi karetnya empuk.  Aku nggak bisa terlalu membandingkannya dengan merk stylus lain, karena aku sebelumnya nggak terlalu  banyak menggunakan stylus.

Di bulan-bulan pertama beli, stylus ini tergolong responsif banget. Nggak harus menekan kuat-kuat ke layar, jadi lumayan enak dipakai menggambar. Beberapa stylus yang pernah kucoba sebelumnya, ada yang harus digunakan dengan sudut-sudut kemiringan tertentu. Tapi si Targus ini oke aja, mau dipake miring sedikit, atau tegak lurus.

Setelah kurang lebih setengah tahun dengan pemakaian hardcore (baca: sembrono), si stylus mulai berkurang performanya. Kadang harus ditekan lebih keras, kadang kalau narik garis panjang tiba-tiba terputus.
Ya ini salahku juga sih sebenarnya, karena si Targus ini sempat kuaniaya sampai karetnya hampir copot -_-;

2. Aplikasi Artflow

Yak, ini dia aplikasi ilustrator favoritku di Android.
Karena tabletku ukuran layarnya lumayan mini, aku jadi rewel sama antarmuka aplikasi. Si Artflow ini punya antarmuka yang bersih, sama sekali nggak ada iklan di dalemnya. Aku juga bisa mengatur panel mana aja yang tampil di layar selama aku bekerja dengan aplikasi ini.

Screenshot_2015-02-06-23-12-00

Screenshot_2015-02-06-23-48-33

Fungsi-fungsi di dalemnya juga lumayan lengkap, macam Adobe Photoshop kemasan super-ekonomis. Ada brush, pencil, airbrush, smudge, penghapus, fill in, layer options dan beberapa lainnya.

Untuk versi trial gratisan (yang bisa dipakai selamanya tanpa batas waktu), sebagian jenis kuas atau pencil dikunci.
Layer yang tersedia untuk versi gratis juga memang cuma dua, tapi cukup lah untuk gambar-gambar sederhana.
Adapun format penyimpanan gambar, bisa dilakukan dalam .jpg dan .png untuk versi gratisan, ditambah dengan .psd untuk versi berbayar.

Yang kurang dari aplikasi ini menurutku, adalah fungsi selection tool dan opsi untuk mengubah ukuran kanvas yang masih absen di aplikasi ini. Semoga nanti bisa dilengkapi di update berikutnya

Ini adalah salah satu aplikasi yang rasanya bakal kubeli versi full-nya. Hanya saja masih harus menunggu Ind*s*t ngebuka opsi bayar app pake pulsa untuk semua pengguna. Lama bener, dah.

BONUS!

Di orat-oretku yang ini,  aku sebenarnya memakai tipe font dari tulisan tanganku sendiri. Aku membuatnya lewat aplikasi gratisan (tentu saja) InstaFont Maker. Cara membuatnya gampang saja, kita tinggal mengikuti (atau bahkan melanggar!) patokan ukuran dan bentuk yang disediakan oleh aplikasi ini.

Screenshot_2015-02-11-19-26-33

 Dan aplikasi ini nggak butuh layar lebar atau stylus untuk mengoperasikannya. Ujung jari dan hp berlayar 3,5 inci pun sudah cukup. Font DIY ini juga bisa ditransfer ke PC, dan membuatmu sadar bahwa tulisanmu ternyata masuk pada aliran ekspresionis cenderung abstrak.

***

Biarpun aku demen ngegambar secara digital, masih ada masalah yang ngeganggu banget. Yaitu tampilan gambar yang bisa beda antara satu perangkat dengan perangkat yang lain, tergantung kondisi monitor.

Seperti gambar Hozier/Beben di atas yang kelihatan baik-baik saja di layar tablet. Tapi ternyata kalau dilihat lewat laptop dengan monitor yang sedikit didongakkin, kelihatan residu hapusan gambar yang ternyata masih bersisa atau malah goresan kuas yang keliatan masih kasar.

Ppffttttt…..

Sumber Gambar:

 Hozier: Screenshot dari video YouTube ini
Spongebob 

Review Life of Pi. Or My Never Ending Hatred Towards Hyena

Apa ada hal yang lebih buruk dibanding kapalmu karam di Laut Pasifik dan sebatang kara terapung-apung dalam sekoci penyelamat?
Jawabannya: Ada.

Kapalmu karam di Laut Pasifik, sebatang kara terapung-apung dalam sekoci penyelamat dengan hanya ditemani seekor harimau bengal yang punya nama jauh lebih keren dari namamu.

Inilah yang dialami Piscine Molitor Patel, alias Pi, remaja tanggung India yang namanya terinspirasi dari… nama kolam renang. Pi harus meninggalkan tanah kelahiran dan gebetan pertamanya saat hijrah ke Kanada, bersama puluhan hewan koleksi kebun binatang milik keluarganya dengan kapal laut ‘TsimTsum’.

Di tengah badai, kapal ini karam dan menelan seluruh isi kapal ke dalam lautan, kecuali Pi, dan beberapa hewan yang terangkut dalam sekoci penyelamat, termasuk si harimau ganteng Richard Parker.

Mampukah Pi bertahan hidup menghadapi ganasnya laut, depresi dan kesepian, juga  Richard Parker?

***

Jawabannya: Bisa.
He.. tenang… ini bukan spoiler. Film ini memang berjalan dengan alur flashback. Sejak awal ditampilkan Pi dewasa yang menceritakan pengalamannya pada seorang penulis. Sekitar 15 menit awal Pi bercerita panjang lebar mengenai nama, agama, hingga gebetannya.

Untung ada beberapa penyelamat di bagian yang sedikit bertele-tele ini. Pertama Pi kecil yang ganteng (atau aku yang pedofil?), Anandi, gebetan Pi,  juga  Mamaji, paman Pi dengan bentuk badan yang sedikit absurd.

Dan tentu saja Richard Parker.

Halooo ganteng
Halooo ganteng

Kemunculan pertama si harimau ini sukses membuat penonton satu bioskop tempatku nonton ber-woooah.  Men, salut sama tim cgi yang sukses menampilkan si Richard Parker dengan gagah. Yap, CGI. Si Richard Parker lebih banyak ditampilkan lewat bantuan teknologi, bukan hewan aseli.

“Kami nggak mau aktor kami dimakan,” begitu katanya.

***

Selain untuk CGI,  aku juga suka cast Life of Pi, terutama Suraj Sharma, pemeran Pi remaja. Nggak seperti Irfan Khan (Pi dewasa) yang biasa nongol di film-film Hollywood, ini pertama kalinya aku lihat Suraj.

Cemerlang, mungkin cocok menggambarkan Suraj. Bayangin, lebih dari setengah bagian film berdurasi dua jam ini hanya mengandalkan Suraj sendiri, terapung di tengah setting minimalis. Apalagi ia harus berinteraksi dengan macan yang sebenarnya nggak pernah ada, cuma efek visual belaka.

Bukan cuma itu, Suraj juga berhasil mengaduk emosi di beberapa adegan kunci. Misalnya  saat Pi yang seorang vegetarian meminta maaf pada seekor ikan yang terpaksa dibunuhnya demi bertahan hidup, juga saat perpisahan dengan Richard Parker.

Untuk sinematografisnya… yah gimana ya, film ini memang dibuat untuk 3D, karena itu banyak potongan adegan yang tampilannya dilebih-lebihkan. Aku nggak bilang ini jelek,   it’s just a little bit silly. Macem mbak-mbak cantik yang kebanyakan bergincu.

Tapi dari semua potongan gambar pemanis mata ini, favoritku justru gambar sederhana,  yang menyorot Pi dan Richard dari atas. Soalnya itu persis cover buku Life of Pi yang kubaca dulu, dan ilustrasinya keren abis kaka..

cover lifeofpi

***

Ngomongin film Life of Pi nggak bisa cuma dari aspek teknis doang, tapi isi filmnya. Bukan cuma jalan ceritanya, tapi pemikiran di baliknya. Nggak harus takut untuk nonton Life of Pi, karena film ini memang ngajak mikir, tapi nggak harus mikir untuk ngerti ceritanya.

Aku liat dari twit, blog, dll, ‘pesan moral’ yang ditangkep orang-orang yang udah nonton pun beda-beda. Mungkin tergantung apa pikiran yang putarannya paling kenceng di kepala. Ada yang nangkep tentang sisi religiusnya, tentang menghadapi ketakutan, dan sebagainya.

Ini indahnya film ini.

Buatku sendiri ‘pesan moral’ film ini: mungkin biasanya kita memang memilih untuk percaya hanya pada hal yang ingin kita percayai.

***

Ah, aku belum menyebutkan satu hal lagi yang aku suka banget dari Pi: background musiknya, terutama lagu ini, yang digubah Om Mychael Danna:

Aku nggak tau isi lagunya tentang apa, tapi lagu ini memunculkan semacam bittersweet feeling waktu didengerin. Menenangkan sekaligus memilukan. Dan yang paling penting, si mbak Bombay Jayashri  berhasil mematahkan stereotip bahwa penyanyi cewe India cuma bisa melengking nyakitin kuping.

***

Eniwei, hari Sabtu  dua minggu lalu waktu aku nonton film ini banyak keluarga ngajak anaknya yang masih kecil nonton Life of Pi.
Ini. Salah. Besar.
Biarpun tentang binatang, Life of Pi bukan Lion King atau Bambi, Bapak Ibu.

Ada beberapa adegan sadis yang cukup eksplisit disini, lumayan bikin hati mencelos. Terutama kalo kamu seperti aku, lebih peduli nasib binatang daripada nasib manusia dalam film.

Kecuali si Hyena.
Sejak kecil aku suka nonton tayangan soal fauna, dan nggak pernah bisa dapet dimana bagusnya binatang yang punya suara macem Mak Lampir ini.
Dan film ini makin meneguhkan ke-enggak sukaanku ama si Hyena, terima kasih banyak.
(“No, not the Orang Utan, you filthy animal!! Pi! Kill it KILL IT!!!)

 

Bonus:India punya Pi, bocah yang berkawan dengan Richard Parker si harimau bengal.
Indonesia? Jangan khawatir… Indonesia punya Abdullah Soleh :

 

Pic Source :

Richard Parker

 – Cover buku Life of Pi

 

 

 

 

The Dark Knight Rises: The Epic Conclusion to the Dark Knight Legend (??)

Sejak trailer Dark Knight Rises keluar tahun lalu, tulisan yang muncul di akhir video selalu kurapal macam mantra:

ImageNope.
The Dark Knight was an *Epic* sequel, and Dark Knight Rises is…just … a conclusion.

Dark Knight Rises memang punya beban berat meneruskan Dark Knight yang sukses luar biasa. Tapi dengan jargon ‘Epic Conclusion‘ tadi ya ga salah juga kalau ngarep film yang mengakhiri trilogi ini bakal jadi yang paling badass di antara dua pendahulunya.

Biar begitu, The Dark Knight Rises tetap sangat layak untuk ditonton (Meeen… ada gitu filmnya Christopher Nolan yang ga layak tonton??)

***

Film dibuka delapan tahun setelah huru-hara Joker berhasil dipadamkan. Batman dicap sebagai kriminal dan gak pernah lagi berkeliaran di jalanan Gotham. Harvey Dent mendapat label pahlawan yang hari kematiannya selalu diperingati sebagai ‘Dent Day’. Sementara Bruce Wayne yang patah hati ditinggal mati Rachel mengurung diri di rumah mewah(warisan bapak)nya.

Namun semua rutinitas ini berubah ketika Negara Api menyerang   muncul Bane, kriminal bertopeng yang bersama pasukan huru-haranya, menciptakan chaos di Gotham. Belum lagi Selina Kyle alias ‘CatWoman’, pencuri seksi yang nggak jelas kawan atau lawan. Masih dibantu si polisi jujur Jim Gordon, kini bertambah satu lagi suporter Batman, polisi muda John Blake.

***

Mari ngomongin cakep-cakepnya dulu.

Walau aku lumayan suka The Avengers & Amazing Spiderman, kalau dibandingin Dark Knight Rises dua jawara box office 2012 tadi jadi kaya Mighty Morphin Power Rangers. Levelnya beda, bro.
Plot lebih pelik, ceritanya lebih gelap, dan juga lebih kolosal ( ada adegan mirip perang  Mahabarata mini ala pulisi :D)

Dark Knight Rises juga berhasil ‘memaku’ penonton, terutama di dua per tiga akhir film. Kalau di Dark Knight , kita bakal bertanya-tanya ‘what would Joker do?’  karena doi gila abis, maka di film ini yang kita tanyakan adalah ‘what would Batman do?’. Soalnya, penonton dibuat putus asa dengan nasib Gotham yang gak punya polisi & ditelantarin pemerintah AS, sementara si Batman geletakan nonton tipi gara-gara sakit punggung.

Pemain yang dipasang juga oke, menurutku.

Christian Bale, yang sudah teruji jago ‘berubah bentuk’ dari satu peran ke peran lain, melakukan transformasi Bruce Wayne dengan meyakinkan: mulai dari pria loyo bermata cekung, sampai jadi lelaki seger-buger-berseri-seri yang terapi On Clinic- nya berhasil.

Anne Hathaway!
Ternyata aku suka si Mba ini jadi Catwoman. Maap kalau awalnya aku meragukanmu, Mbaknya.

Catwoman-nya Hathaway bukan kucing rumahan yang kebanyakan grooming. Dia kucing jalanan yang ga percaya siapapun, ga ragu nyakar, dan jago nyolong.
Dan  kostumnya aku suka, terutama visor yang kalo lagi ga dipake bisa ditaro di atas kepala dan jadi semacam pita unyu :3

***

Dan sekarang kekurangannya, Gaaah… dari mana aku harus mulai.

Bane!
Biarpun secara matematis (fisik + taktis) Bane menang telak atas Joker, tapi si cowo berbedak cemong-cemong  dan bergincu ini tetap memenangkan hati penonton (jiaahh).
Ini di luar si Ledger yang memang ngganteng loh ya.

Aku inget waktu pertama nonton Dark Knight, i got chills every time Joker was on screen.
Sampe sekarang aku masih inget kebiasaan Joker melelet-leletin lidah dan berdecak-decak.
Dia ikonik dan berhasil mematok standar super villain kelewat tinggi.

Sementara Bane… for me, he’s just another super villain.
Dengan badannya yang sterek, dia memang keliatan brutal, ganas n berbahaya. Tapi cuma buat Gotham + Batman, bukan buat penonton.

Bukan salahnya Tom Hardy sih.. Masker yang dipakai Bane menghalangi si Hardy berekspresi, sementara si Joker dengan gampangnya bisa celamitan.
Bukan salahnya Nolan juga, karena aselinya di komik tampang si Bane memang kaya gitu.

Tapiii… mungkin ini cuma aku aja, tapi aku nggak suka suara yang dipake Bane. Macam Zordon-nya Power Rangers. Ga bikin serem malah bikin geli.

Sebetulnya aku juga selalu terganggu dengan suara husky-husky-piye yang dipakai Batman. Tapi ini masih bisa kutolerir, karena…

 

 

Oh, dan adegan Bane matahin punggung Wayne kurang eksplisit, jadi kurang mantap 😀

Satu lagii… betapa terlalu Hollywood-nya pelem iniii…
Bagaimana si Batman selalu muncul secara ajaib di saat-saat kritis dan bagaimana si kalong ini sempet-sempetnya mengucapkan kata-kata mutiara n nyium cewek di saat lima menit sebelum bom meleduk. Meh.

Dan ‘epic-conclusion’ dari si Dark Knight sepertinya ga cocok blas sama hukum thermonuclear (opo iki? sok-sokan wae kowe ningg)

 

Tapi semua kumaapkeun karenaa…

 

YES! YES YOU ARE!!

 

 

 

 

 

 

 

 

Reinkarnasi si Gadis Bertato Naga

The Girl with The Dragon Tattoo

Cast : Daniel Craig, Rooney Mara, Christopher Plummer
Director : David Ficher
Rating : 8,1 (IMDb), 87 persen (Rotten Tomatoes), 4/5  (siAnink)

Selama 40 tahun Henrik Vanger (Christopher Plummer), terteror oleh kiriman bunga kering yang selalu ia terima pada hari ulang tahunnya. Ia yakin bingkisan tanpa nama tersebut merupakan kiriman dari orang yang telah membunuh keponakan kesayangannya, Harriet.

Mikael Blomkvist (Daniel Craig), jurnalis yang sedang tersandung masalah, dan Lisbeth Salander (Rooney Mara), gadis hacker yang sarat masalah, diminta untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Harriet, karena tubuh gadis ini tidak pernah ditemukan. Penyelidikan ini ternyata mengarah pada serangkaian pembunuhan sadis, sekaligus rahasia mengerikan dari anggota klan Vanger

***

Seperti biasa, setiap postingan pasti diawali obrolan ngalor ngidul dulu. Kali ini tentang Let Me In , film Vampir-nya si adek Chloe G. Moretz.

Girl With Dragon Tattoo (GWDT) punya ‘garis hidup’ yang serupa-tapi-tak-sama dengan Let Me In.
Keduanya berasal dari buku Best Seller Swedia, diadaptasi menjadi film di negara itu, kemudian dicomot oleh Hollywood.

Untungnya GWDT ga ngulang ‘kesalahan’ yang dilakukan Let Me In. Bukannya Let Me In jelek, bukan. Filmnya bagus, tapi sayang banyak scene kunci film ini dibuat dengan hampir sama persis (termasuk shot & detail) dengan Let The Right One In, film berbahasa Swedianya.
Akhirnya ada yang beranggapan kalo film ini dibuat untuk orang-orang Amerika yang males baca subtitles.

Beda dengan Let  Me In, GWDT 80 persen berbeda dengan film versi Swedianya. Detail dalam novel yang disingkirkan dari film pertama dimunculkan dalam film ini.
Dibandingkan dengan  versi Swedia yang banyak mengubah detail dalam novel, versi Hollywood ini cenderung lebih ‘setia’ dengan isi novelnya karangan (almarhum) Stieg Larsen ini.

Tapi harus kuakui kalo GWDT versi Hollywood ini punya nilai plus tersendiri yang membedakannya dengan film versi Swedia, dan bahkan novelnya: mereka membawa kegilaan para tokoh yang ada dalam film ini satu level lebih tinggi.

Ini terasa sejak opening film yang abstrak / absurd/ entahlah-apa-kata-yang-pas-menggambarkannya, yang diiringi dengan Immigrant Song-nya Led Zeppelin (yang ternyata diaransemen ulang oleh Trent Reznor dan dinyanyikan Karen O (!!)) .
Atau saat si tokoh antagonis memulai penyiksaan dengan diiringi musik riang gembira.
Atau pengakuan Lisbeth Salander saat dia membalas dendam pada pemerkosanya secara brutal.

Okay.

Tapi kita simpan si Mbak Lisbeth di sesi selanjutnya.

Untuk sebuah tontonan, GDWT lumayan oke, terutama buat yang suka film bergenre misteri atau kriminal. Tapi menurutku alur GDWT ini kurang rapi. Ngebut di bagian awal, lalu sedikit bertele-tele di bagian tengah. Tapi menurutku yang cukup mengganggu adalah subplot tentang konflik yang dihadapi Mikael dengan Wennerstrom.

Masalahnya, subplot ini lebih banyak diulik pada awal cerita, secara teknis dilupakan sepanjang pertengahan cerita, lalu dibahas lagi secara panjang lebar setelah klimaks film. Energi penonton sudah tersedot mengikuti teka-teki keluarga Vanger, jadi  ketika masalah Wennerstrom diungkit lagi, penonton (atau setidaknya aku), mulai ngikutin film sambil setengah beler.
Untung di bagian ini ada bagian yang ‘seger-seger’, saat Lisbeth *SPOILER ALERT* melakukan penyamaran menjadi mbak-mbak canteek nan kece 😛

***

Mikael Blomkvist : What are you doing?
Lisbeth Salander : Reading your notes
MB: But they’re encrypted!?
LB : *sigh* Please.

Sepertinya cukup aman kalau aku menyebut karakter Lisbeth Salander  adalah elemen paling kuat yang membuat trilogi ini bernyawa.
Man, dengan penokohan seperti ini, Lisbeth Salander mungkin manjadi salah satu tokoh idola bagi para stalker/   hacktivist  Anonymous.

Dan mau nggak mau aku jadi membandingkan Lisbeth yang dihidupkan oleh Noomi Rapace (GWDT versi Swedia) dengan Rooney Mara.

Lisbeth Salander. Kiri: Noomi Rapache. Kanan: Rooney Mara

 Lisbethnya Noomi dan Rooney sama-sama menarik, namun dengan daya tarik yang berbeda. Bertolak belakang, malah.

Secara fisik, Lisbeth dalam novel lebih dekat dengan yang digambarkan Rooney: anak punk kerempeng yang keliatannya hobi ngelem, tapi sebenarnya punya tampang model.
Noomi kebalikannya : cewe punk berbodi kekar yang kelihatannya tahan banting + bulu ketek model Tante Eva yang gagah perkasa (maap, yang ini harus disebutkan. I can’t get over it, what has been seen can’t be unseen)

Karakter keduanya juga beda. Rooney selalu kelihatan rikuh di sekitar orang lain, sementara Noomi punya rasa percaya diri tingkat tinggi.
Rooney is socially awkward and Noomi just simply doesn’t give a F.

Noomi kelihatan kuat di luar, namun rapuh di dalam.
Sementara dari luar Rooney kelihatan seperti kucing liar penakut: ceking dan selalu waspada terhadap segala sesuatu yang lebih besar dari badannya. Tapi begitu disenggol sedikit, ternyata si kucing liar ini langsung menyerang secara bar-bar.
Parahnya lagi, kucing liar ini ternyata kena rabies. Yap, Lisbeth yang ini gila, Jendral.

Tapi yang aku suka dari versi Hollywood ini adalah hubungan antara Lisbeth dengan walinya, Holger Palmgren, yang dieksplorasi lebih dalam. Somehow sosok Lisbeth jadi terlihat lebih manusiawi.
Namun tetap membawa virus rabies, tentu saja.

Pic Source

The Girl With The Dragon Tattoo

Mission: Review Mission: Impossible Ghost Protocol

Mission: Impossible Ghost Protocol
Director : Brad Bird
Cast          : Tom Cruise, Jeremy Renner, Simon Pegg, Paula Patton
Rating      : 8/10 (IMDb), 95% (RotteTomatoes), 4/5 (siAnink)

Agen Ethan Hunt kembali menjalankan misi dalam satuan Impossible Mission Force (IMF), untuk menghentikan rencana seseorang dengan nama sandi Cobalt yang berniat menyerang Amerika dengan nuklir. Cobalt  meledakkan bom di Kremlin, Rusia, dan merekayasa agar peristiwa ini terlihat sebagai perbuatan Ethan dan timnya. Agar hubungan Amerika dan Rusia tak pecah, pemerintah Amerika kemudian menyangkal keberadaan IMF dan menyebut kelompok Ethan sebagai teroris. Artinya, Ghost Protocol terpaksa dijalankan.

Bergerak tanpa dukungan pemerintah, mampukah Ethan mencegah Cobalt meledakkan nuklir sekaligus membersihkan namanya?

*insert Mission Impossible’s iconic music score here*

***

Sejujurnya, aku punya tiga kekhawatiran yang muncul di menit-menit awal film ini diputar:

Kekhawatiran Pertama:
Tom Cruise yang bermain sebagai Ethan Hunt  muncul di awal film bermodalkan kaos singlet semata. Yang langsung terbersit di pikiran: Ya Tuhan, aku nggak bakal kuat kalo sepanjang film harus liat Masnya lari-larian pake baju minimalis begitu.
Men, Tom Cruise umurnya udah hampir kepala lima, bodi kebapakan (baca: mirip bapak-bapak) itu udah nggak gitu sedep dipandang mata.

Tapi. Lima menit kemudian Mas Tom langsung berpakaian lengkap yang berlanjut di sepanjang film . Pfiiuuhh… Lanjut ke…

Kekhawatiran kedua:
Ethan Hunt, pemeran utama yang menarik, karismatik, dan pandai akrobatik ini disandingkan dengan Mbak Jane yang sungguh sekseh, atraktif dan yang paling penting: sedang single dan galau karena baru ditinggal mati gacoannya ( yaelah bahasanyaaa!!).

Situasi ini memberikan kemungkinan yang besar adanya love line antara Ethan dan Jane.

Bukannya aku anti bumbu-bumbu cinta atau drama  dalam film action. Tapi drama dalam film action, apalagi drama percintaan, kalo nggak cantik ngaturnya bisa ngerusak ritme film.
Lihat aja Transformer Dark of The Moon yang feel film action-nya kacau balau gara-gara Shia LaBeouf dan Mbaknya (yang aku lupa namanya) sibuk ciam-cium, berantem, dan cemburu-cemburuan tiap 15 menit sekali.

TAPI, ternyata M:I Ghost Protocol cukup bebas dari ‘drama-drama-drama’. so… i’m good 😀

Kekhawatiran ketiga:
Aku nggak suka film action. Kemaren nonton pun karena… gratis 😀

Menurutku, diantara semua film fiksi, film action adalah genre yang paling banyak ngejejelin kebohongan.
Mana ada satu orang bisa menang ngelawan orang sekampung, ga tergores sedikitpun?

TAPI, ternyata aku bisa menikmati M:I Ghost Protocol, tuh. Kuncinya adalah, anggap aja si Ethan Hunt punya otot kawat tulang besi. Kebanting berkali-kali juga tahan mati.

Tapi selain itu, yang lebih penting adalah Ghost Protocol nggak menghadirkan aksi frontal satu orang vS satu batalyon yang sok heroik, tapi lebih kepada adu strategi. Meski begitu, film ini juga cocok buat yang pingin adrenalinnya naik,  karena unsur ketegangan juga dijalin rapat dalam plot cerita.

Salut buat sutradara Phillip Brad Bird yang berhasil mengatur jeda kapan penonton bisa ikut terhanyut aksi Ethan Hunt dan kapan bisa istirahat mengambil nafas barang sejenak, sehingga yang nonton nggak ngos-ngosan. Salut pada Pak Sutradara ini juga akhirnya kukuadratkan, karena ternyata ini adalah film live-action pertama arahannya. Film yang dia sutradarai sebelumnya? The Incredibles sama Ratatatouille!! Njomplang, man….

Setting film ini juga cukup rame, mulai dari Rusia, Dubai, sampai India. Bagian favoritku adalah sequence di bangunan tertinggi di dunia , Burj Khalifa di Dubai, karena menurutku ketegangan paling nendang ada disini.

Untuk cast, semuanya oke menurutku. Tapi kejutan besarnya (untukku) bukan pada Tom Cruise, si bintang utama, melainkan pemeran pembantu, dan bahkan bintang tamu yang cuma muncul sekitar 10 menit di film. Yang pertama adalah Simon Pegg!!! Gah, i love this dude.

Aku ga tau kalo dia ikut main sejak M:I 3, makanya aku cukup kaget (plus terhibur) karena penampilannya di Ghost Protocol beda jauh dengan aksinya sebagai opsir polisi teladan nan perfeksionis di Hot Fuzz.

Sgt. Nicholas Angel (Simon Pegg, Hot Fuzz)

Di sini dia bermain sebagai Benji, agen koplak yang menurutku sukses menjadi scene-stealer kapanpun dia muncul.

Ada juga Michael Nyqvist yang kali ini bermain jadi Cobalt, si tokoh antagonis. Aku baru nonton dia di trilogi Girl with Dragon Tattoo, so it’s nice to see him again. Walaupun disini dia irit banget ngomongnya.

Yang terakhir ada Mas-Mas India yang aku tahu mukanya, tapi nggak tau namanya (sampai buka IMDb).

Tapi aku yakin dia pernah berperan sebagai tokoh bernama Raj, Rajesh, Inspektur Vijay atau semacamya.

Mas-Mas yang ternyata bernama Anil Kapoor ini sebelumnya kukenal sebagai superhero yang romantis dan pandai menari dari tanah Hindustan. Tapi di film ini dia berperan sebagai milyarder playboy yang tengil! Kocak!!! 😀

Oh ya, karena aku sama sekali nggak pernah nonton M:I seri sebelumnya, jadi aku ga ngomongin perbandingan film ini dengan pendahulunya. (gaaaah, awalnya aja aku bahkan ga nyambung IMF itu apa. International Monetary Fund??).
Tapi ada satu hal yang aku suka dari M:I Ghost Protocol. They get rid of those corny numbers.
Mission: Impossible 5 terdengar sealiran dengan Cinta Fitri 5 atau Tersanjung 6, soalnya.

Menurutku M:I Ghost Protocol sudah oke untuk tontonan film action, hanya sayangnya CGI di film ini, seperti di adegan badai pasir misalnya, masih terasa kasar. Jadi terasa bohongan banget.
Selain itu penggunaan sosok Rusia sebagai tokoh antagonis terasa seperti lagu lama yang terlalu sering diulang. Bosan.
Untuk itu kukasih rating empat dari lima bintang deh.

Okehh, thanks for reading my review.

Btw this post will self-destruct in five seconds.

Pic Source:

Ghost Protocol
Sgt Nicholas Angel
Anil Kapoor

Once Upon A Time, Arya Kamandanu Buried A Time Capsule…

Nemuin satu barang yang sudah lama hilang secara nggak sengaja itu rasanya berkah banget. Apalagi yang ketemu adalah satu flash disk 4 Gb yang isinya tulisan dan foto-foto jadul 😀
Rasanya seperti nemu time capsulenya Arya Kamandanu dan nemuin Pedang Naga Puspa di dalemnya  *haiyah*

Eniwei, aku nemu satu tulisan, yang dulu kuserahin sebagai contoh tulisan waktu aku ngelamar di Tem*o akhir tahun 2009. Meeen… lumayan ngakak bacanya. Banyak banget kata-kata ‘ajaib’ kusisipkan ke tulisan ini, mungkin dulu maksudnya untuk membuat orang-orang di Tem*o berpikir kalau aku cerdas (Semoga saat ini mereka gak menyesali keputusannya).

Jadi, ini tulisannya ( untuk blog ini, gambar sengaja disisipkan):

____________________________________________________________________________

Contoh Tulisan: Resensi novel ‘Negeri Lima Menara’

 

Laskar Pelangi Rasa Santri

Judul               : Negeri Lima Menara

Penulis             : Ahmad  Fuadi

Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama

Fikri ngambek. Keinginannya untuk masuk SMA umum ditentang oleh Amak[1]nya. Akhirnya Fikri mengambil keputusan setengah hati: kalau memang harus masuk pondok, biarlah aku sekalian masuk pondok yang jauh dari kampung halaman! Dan jadilah Fikri muda meninggalkan Pulau Celebes menuju sebuah pesantren di pelosok Jawa Timur: Pondok Madani.

Sejak pertama kali menginjakkan kakiknya di pondok itu, Fikri banyak menemui hal-hal baru. Yang pertama adalah suasana pondok yang memacu neuron otaknya untuk terus menyerap ilmu. Lalu ada lima sahabat baru dengan latar belakang jauh berbeda yang dipersatukan oleh hukuman jewer kuping di hari kedua mereka bersekolah. Dan tak lupa juga seorang siswa penjaga disiplin pondok yang saking mengerikannya sampai mendapat julukan Tyson.

Pondok Madani adalah sebuah kawah Candradimuka yang tidak ada henti-hentinya mengalirkan ilmu untuk Fikri dan sahabatsahabatnya. Tidak hanya pelajaran agama dan ilmu pengetahuan yang mereka pelajari, tapi juga ilmu untuk menjalani hidup. Mereka belajar cara menyeimbangkan hidup dari Rais pondoknya, belajar ilmu ikhlas dari para ustad mereka, bahkan belajar makna sportivitas dari seorang penebar horor seperti Tyson.

Di Pondok Madani ini juga mereka mempelajari satu ‘mantra’ ajaib yang jika dihayati maknanya dengan sungguh-sungguh, maka keinginan apapun dalam hidup dapat diperoleh. Mantra yang membius mereka berbunyi ‘Man Jadda Wajada’. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Namun sebetah apapun Fikri di Pondok Madani, sebuah cita-cita lama terus menggedor kesadarannya: ia ingin bersekolah di SMA umum. Ia ingin menggapai ilmu dunia setinggi-tingginya, menjadi almamater ITB, dan menjadi Habibie. Keinginan ini bagai bensin tersulut api setelah mendengar cerita Randai, sahabat di kampungnya, mengenai kehidupan SMA yang dijalaninya. Dan hasrat keluar dari Pondok Madani makin kuat begitu salah seorang sahabatnya memutuskan untuk meninggalkan Pondok Madani.

***

Satu ingatan melayang tak terkendali saat membaca Negeri Lima Menara: Laskar Pelangi. Ada sesuatu yang mengingatkan Negeri Lima Menara dengan novel fenomenal ini. Mungkin spirit yang sama dari kedua novel ini, yaitu dunia pendidikan. Mungkin pula gaya bahasa berbunga khas Melayu yang serupa tapi tak sama, mengingat Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi sama-sama berasal dari daerah Sumatera dan sekitarnya.

Bukan menuduh kemunculan Negeri Lima Menara sebagai sebuah kelatahan, namun tak dapat dipungkiri bahwa garis besar kedua novel ini tak jauh berbeda. Seorang anak (Ikal/ Fikri) memasuki sebuah institusi pendidikan yang kental bernuansa agama (SD Muhammadiyah Belitong/ Pondok Madani), membentuk sebuah ‘geng pertemanan’ dengan ‘nama resmi’ (Laskar Pelangi/ Sahibul Menara), dan mereka merancang pertunjukkan bersama (Pawai 17 Agustus/ Class Six Show), harus melepas satu sahabat pergi meninggalkan sekolah (Lintang/ Baso), hingga merasa cinta monyet pada pandangan pertama (A Ling/ Sarah). Bahkan bila sekuel Laskar Pelangi yang berjudul Sang Pemimpi juga ikut dihitung, maka makin tampak benang merah antara karya Ahmad Fuadi dan Andrea Hirata ini, yaitu sama-sama menjual mimpi. Atau lebih tepatnya sama-sama menjual semangat untuk meraih mimpi.

Diluar semua perbandingan dengan Laskar pelangi, Negeri Lima Menara merupakan sebuah makanan otak sekaligus hati untuk pembacanya. Ahmad Fuadi dengan lugas mengalirkan kisah dalam Negeri Lima Menara, dan tak sungkan memasukkan muatan lokal kedalam tulisannya. Misalnya saja ketika bercerita dengan setting Sumatera, A. Fuadi tidak canggung menggunakan bahasa daerah amak dan ambountuk menggantikan kata ibu dan saya. Begitu pula saat menceritakan kehidupan pondok, penulis sangat royal menyebar kata-kata berbahasa Arab di sepanjang tulisan. Untungnya hal ini tidak membingungkan pembaca, malah memperkuat setting penceritaan sekaligus membuat pembaca semakin masuk dalam cerita.

Buku pertama dari trilogi ini secara luwes menceritakan kehidupan khas santri pondokan dari sudut pandang orang pertama. Dari mata Fikri, pembaca dibawa pada kerasnya dunia pondok, sekaligus eratnya persaudaraan antara sesama santri. Pembaca diajak membayangkan bagaimana rasanya melawan kantuk saat dibangunkan untuk solat malam, sekaligus bersenda gurau bersama para santri sambil menikmati kopi hitam yang diseduh secara masif dalam ember besar yang biasa dipakai mencuci. Para santri ini juga membuat kita tersenyum dengan tingkah mereka saat mengintip para santriwati di pondok sebelah, atau terkesima saat menatap otot Arnold Schwarzenegger yang bertonjolan bagai ‘sapi bunting’. Bagaimanapun juga para santri ini adalah remaja laki-laki biasa dengan aktivitas hormon yang sedang tinggi-tingginya.

Cover negeri Lima Menara dipenuhi testimony bernada pujian dari banyak tokoh, mulai dari mantan presiden BJ Habibie, Riri Riza, Andy Noya, Ahmad Syafii Maarif, Emha Ainun Najib, sampai Farhan. Pujian itu tidak sekedar lip service belaka. Membaca Negeri Lima Menara bagai menyeruput segelas minuman pembangkit semangat. Bila dari luar negeri kita mengenal buku seri Chicken Soup For the Soul, maka Negeri Lima Menara bolehlah kita sebut sebagai STMJ for the Soul.

For The Soul.

Saat membaca lembar demi lembar Negeri Lima Menara, pembaca bagai mendapat resonansi dari semangat para santri pondok atas kalimat sakti Man Jadda Wajada. Sesungguhnya kalimat bijak inilah yang menjadi nafas novel ini. Nafas yang penulis coba tiupkan kepada pembaca, bahwa hanya mereka yang benar-benar mau berusahalah yang akan berhasil nantinya.


[1] ibu

Credit:

1. 5 Menara Pic
2. Tyson Pic
3. STMJ Pic