Buku Januari : The Grrrrrreeaaaatttt Gatssbyy

Akhirnya setelah bertahun-tahun kembali ada novel yang bisa kutamatin dalam sekali duduk.
Walau… tebelnya cuma 130 halaman.

Gatsby_1925_jacket

Oke, prolog dikit yak.

Semua yang kenal siAnink pasti tau aku cinta mati sama yang namanya gratisan. Dan The Great Gatsby ini kuunduh gratis dari  e-reader Aldiko.

Sekadar info, Aldiko ini punya banyak banget koleksi buku yang bisa dicolong gratis, kebanyakan buku lama yang sudah jadi domain publik. Tapi walau buku lama…siapa yang nggak ngiler sama Frankenstein-nya Mary Shelley, Kumpulan Dongeng Grimm,  Les Miserables, 12 Years A Slave, sampai *ohok* Kamasutra gratisss?? Gratis! G-R-A-T-I-S!!

Oke, maap terlalu emosional. Beginilah kalo lagi ngomongin gratisan.

Kembali ke The Great Gatsby.
Jadi sebenernya waktu baca buku ini aku belum nonton filmnya. Sisi baiknya, aku jadi menikmati buku ini secara penuh sampai akhir.
Jeleknya, aku jadi nggak begitu suka filmnya, banyak hal yang berasa salah. Misalnya, menurutku film ini terlalu ganjen dari sisi visual—terutama penggunaan CGI-nya—dan aku nggak dapet rohnya.

Dan kenapa Nick Carraway  jadi culun begitu?? Bahkan.. aku nggak menghitung kostumnya.
Dan kenapa Nick Carraway jadi culun begitu?? Bahkan.. aku nggak menghitung kostumnya.

Oh, tapi ini kan kita lagi ngomongin bukunya ya.

Oke, di awal novel aku agak lieur karena uraian panjang lebar di jamuan makan malam Tom & Daisy . Tapi lama-lama aku melek juga, terutama lewat kalimat yang diucapkan Daisy tentang kelahiran anak perempuannya:

“I’m glad it’s a girl. And I hope she’ll be a fool—that’s the best thing a girl can be i this world, a beautiful little fool.”

Wow, Daisy Buchanan ini semacam perempuan shallow yang bijak ya.
Menurutku, si Daisy ini tipe perempuan yang nggak susah kebolak-balik hatinya. Yang jatuh cinta pada siapapun yang memujanya.
Mungkin malah bisa dibilang tipe orang yang ‘makanannya’ untuk bisa hidup adalah perhatian dari orang lain.

Itulah menurutku alasan dia kembali ‘jatuh cinta’ pada Gatsby. Penulisan jatuh-cintanya memang dilengkapi tanda petik karena aku nggak yakin dia cinta sama Mas Gatsby sebagai manusia, atau jatuh cinta pada konsep seorang pria—kebetulan kaya luar biasa—yang memujanya.

Lalu ada lagi Gatsby.
Waktu pertama kali membaca motif Gatsby mengadakan pesta besar-besaran, atau waktu pertama kali membaca bagian pertemuan kembali Daisy dan si Gatsby, secara nggak sadar berkali-kali aku ngomong ‘awww…’. Semacam Mas-Mas stalker yang sangat manis.
‘A fool in love,” begitu kata Will I Am dalam ‘Bang-Bang’, soundtrack Great Gatsby, yang kurasa bener-bener menggambarkan Gatsby.

Tapi makin lama, Gatsby bukan sekadar lagi ‘ a fool in love’, tapi bener-bener ‘a fool’. Cerita klasik Si Pandir yang percaya bahwa hartanya bisa membeli segalanya.

Dan spekulasiku, si Gatsby ini semacam Robert Baratheon dari Game of Thrones, terobsesi perempuan dari masa lalu yang nggak dimilikinya. Bahwa satu-satunya yang ia kenal adalah perempuan sempurna yang tinggal di memorinya, bukan yang hidup di dunia nyata.
Menurutku, mungkin si Gatsby malah lebih mencintai konsep bahwa suatu saat ia bisa memiliki Daisy, daripada si Daisy itu sendiri.
Ah, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.

Sebelum baca novel ini, gara-gara penyebutan novel/film ini di berbagai tulisan yang kubaca, image di kepalaku tentang The Great Gatsby adalah perayaan atas budaya hedon, atau seenggaknya YOLO-ism. Ternyata aku salah.

The Great Gatsby adalah tragedi, dengan orang bodoh sebagai tokoh utama sekaligus korbannya.
Dan di bagian akhir, sang narator Nick Carraway, yang sepanjang cerita menjadi mata untuk pembaca, meminjamkan jari tengahnya untuk diacungkan pada lintah-lintah oportunis berwujud manusia 

Pic Source:

Great Gatsby

Advertisements

One Book Per Month : Game of Thrones

Jadi ceritanya, saya dan beberapa teman menyadari bahwa semangat membaca kami menurun selepas dari bangku kuliah (tsah). Karena itu kami mencoba menantang diri sendiri untuk ngabisin satu buku per bulan. Ini sebenernya adalah angka yang memalukan, mengingat zaman SMA dulu satu seri HarPot selalu habis maksimal dalam satu setengah hari. Sekarang satu buku per bulan rasanya ambisius sekali 😦

Eniwei, buku yang kubaca bulan Oktober adalah Game of Thrones (GoT),  buku pertama dari seri A Song of Ice and Fire tulisannya George R.R. Martin. Btw sinopsisnya panjang, baca aje disini.

Ini cover yang kupunya
Ini cover yang kupunya

Aku tahu novel ini lumayan telat. Awalnya dari meme Brace Yourself yang rame di 9Gag & Reddit, diambil dari serial TV Game of Thrones yang dari judulnya aja sudah kelihatan  film ini diadaptasi dari mana. Berlanjut dengan banyaknya puja-puji buat serial TV ini yang bikin aku makin penasaran. Coba nonton satu episode… dan aku terpikattt.

Mengingat tulisan dan visual memberikan pengalaman yang beda, jadi kuputuskan untuk mulai baca bukunya. Yang mana kumulai dari tahun lalu. Dan baru selesai bulan ini. Yap.
Bukan cuma gara-gara sekarang gampang terdistraksi sama internet dan YouTube.
Bukan juga gara-gara bukunya setebal 800 halaman dengan spasi rapat.

Tapi gara-gara aku udah tau endingnya.

I'll never be ready for thiss
My heart will never be ready for thiss

Oke, mulai dari awal. (*SPOILERS ALERT*)

Sebenernya aku agak nggak terlalu hobi dengan fiksi bergenre fantasi. Bukan apa-apa, aku termasuk pembaca yang sibuk menerka-nerka ending sejak dari halaman pertama membuka buku—terutama  kalau yang lebih ditekankan adalah plot dan bukan teknik bercerita dan narasinya. Semakin jauh akhir cerita dari perkiraanku, semakin gila twist di pengujung cerita, semakin puas aku dibuatnya. Ini alasannya aku suka dua buku Dan Brown yang pertama.

Tapi buku fantasi, hampir selalu berakhir dengan kemenangan di pihak tokoh protagonis utama—walau sebanyak apapun temennya yang mati. Belum lagi biasanya tokoh-tokohnya ini dikelompokkan secara ekstrim, antara baek banget atau bajingan sejati.  Plis, untuk dua hal ini aku tinggal nonton Sailormoon atau Power Rangers.

Untung Mbah Martin jauh-jauh dari ini semua. Beda dengan banyak cerita fantasi tentang ramalan yang menjadi nyata, di sini ramalan bukan sebuah kepastian, malah bisa berbelok dan dipatahkan. Banyak hal yang nggak pasti di GoT. Dan aku suka itu.
Kalau lagi apes, mau dia tokoh utama, tokoh pembantu, atau pembantu beneran, mati ya mati aja. Jarang ada bala bantuan yang tau-tau nongol dari langit.

Eh, tapi nggak mungkin dong tokoh utamanya mati. Lah ceritanya tamat dong.

Ini kerennya Mbah Martin. Dia bener-bener menggali karakter tokoh-tokohnya yang bejibun ini sehingga pembaca bener-bener paham watak dan motif para pelaku. Masing-masing diceritakan dengan sangat kuat, sehinga kalaupun (ehm!) satu tokoh mati, yang lain masih cukup untuk menahan pembaca nggak lari dan membakar buku ini karena frustasi.

Ini.. mungkin saja terjadi
Yang mana hal ini.. sangat mungkin saja terjadi

Untuk mendapatkan bener perwatakan yang kuat macam ini kadang penulis lain menggunakan sudut pandang orang pertama, dengan cara penulisan dan pemilihan kata yang semacam bener-bener keluar dari otak tokoh tersebut. Bukan penulis yang sekadar  memakai kata ganti ‘aku’ dalam tulisannya. Dua buku yang aku suka dan ditulis dengan cara ini misalnya Flowers of Algernon dan Insiden Anjing Tengah Malam yang Bikin Penasaran.

Mbah Martin melakukannya dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu (piye meng-Indonesiakan omniscient?). Tata kalimat dan diksinya seragam—jadi pengenalan wataknya nggak se-instan cara di atas—tapi emosi di dalemnya beda-beda, tergantung sang tokoh yang tengah diceritakan. Dan ini bakal hambar kalau  nggak didesain dengan matang, apa kelebihan, kekurangan, dan terutama insecurity masing-masing tokohnya. Untungnya siMbah meramu GoT bagaikan indomi soto kuah, spesial pake telor dan irisan cabe yang disajikan di tengah musim hujan. Sedap.

GoT terdiri dari puluhan bab, dan masing-masing bab menceritakan dari sisi satu tokoh tertentu saja. Efek sampingnya ya tebelnya itu yang oke punya (denger-denger dua buku terakhir tebelnya 1.500 halaman. Akkk)

A villain is just a victim whose story hasn’t been told‘, begitu kata orang. Karena itu siMbah nggak cuma memberikan cerita dari sisi tokoh protagonis aja, tapi juga antagonis.  Jadi walau kita nggak membenarkan perbuatan si tokoh antagonis, minimal kita ngerti kenapa dia melakukannya.

Selanjutnya adalah cara dia membangun dunia fantasi ini. Nggak cuma bikin peta dunia, konteks sosial-budaya-religi tiap daerahnya, tapi dia juga bikin lambang, sejarah, sampai silsilah masing-masing trah bangsawan.
Kata Mbah Martin, ‘the devil is in the details, the say‘.
Oh, if that’s true then you’re the offspring of Satan himself, Old Man.

Terakhir, adalah… cara Mbah Martin bercerita. Men. Aku seneng banget baca tulisan yang maknanya implisit. Misalnya, Mbah Martin nggak secara langsung dan terang-terangan bilang ‘Catelyn kangen kampungnya’. Ini yang dia tulis:

The southern rain was soft and warm. Catelyn liked the feel of it on her face, gentle as mother’s kisses. It took her back to her childhood, the long grey days at Riverrun.

In the north, the rain fell cold and hard, and sometimes at night it turned to ice. It was as likely to kill a crop as nurture it, , and it sent grown men running for the nearest shelter. That was no rain for little girls to play in.
[Catelyn, p.283]

Oke, aku sudahi saja sebelum puji-pujian ini makin berlebihan 😀

P.S: Serial ini belum tamat. Ada tujuh buku, lima udah terbit dan masih ada dua judul lagi yang belum dipublikasikan. Ane 100 persen ngerti kenapa banyak yang berdoa supaya siMbah ini selalu panjang umur dan sehat walafiat.

Edit: Aku baru nemu gambar ini. Pembatas buku warna-warni menandakan ada yang mati di halaman tersebut. *slow clap*

Continue reading