One Book Per Month Paket Combo: Inferno (Desember) & Stories (November)

–DESEMBER–

Inferno, Dan Brown
Inferno, Dan Brown

Kalau diumpamakan sebagai arsitek, maka tamu yang dateng ke rumah buatannya Dan Brown nggak perlu nanya lagi kalau mau permisi ke kamar mandi. Denah rumahnya sama, mau gaya modern-minimalis, mediterania sampai futuristik, posisinya seragam, lurus terus mentok dapur belok kiri.

Maksudku, mau latar belakangnya tentang Holy Grail, Illuminati, atau Dante, kerangka bercerita Om Brown tetep aja sama:
Mr. Robert Langdon, lagi-lagi bertualang di Eropa di luar keinginannya, dan petualangannya ini ada hubungannya dengan kematian seorang tokoh penting yang diceritakan di bagian prolog/ bab1. Layaknya James Bond jebolan Harvard, sekali lagi si Masnya ditemani Langdon’s Girl yang cantik, menarik, pintar, dan paling penting: single (catatan: tiap buku, Mbaknya beda dong). Berdua mereka lari-lari dalam treasure hunt/amazing race yang waktunya sempit. Lalu dibikin supaya Mas Langdon dikejar-kejar oleh pembunuh (atau ‘pembunuh’) dari organisasi rahasia, sekaligus harus menghindar dari aparat hukum.

Sejujurnya aku belom baca Lost Symbol, dan katanya buku ini plotnya cukup beda dari tiga seri Petualangan Robert Langdon yang kubaca. Dan kalau ini benar, maka aku nggak ngerti kenapa Dan Brown kembali ke formula yang udah dipake di dua buku sebelumnya (yang bahkan sedikit banyak dipake juga di Digital Fortress). Di novel kali ini sebenarnya Dan Brown mencoba keluar dari rumus ini dengan membuat beberapa twist, yang agak membuatku nggak merasa rugi baca. 

‘Tur’ sejarah dari Profesor Langdon juga teori yang disajikan Dan Brown cukup membantuku untuk nggak putus asa dengan buku ini. Kalau di Da Vinci Code ada teori konspirasi tentang Maria Magdalena, di Inferno ada konsep transhumanisme (atau menciptakan manusia bibit unggul lewat rekayasa teknologi, cmiiw) dan kelebihan populasi manusia. Walaupun kemudian penjelasan tentang hal ini, dan beberapa hal lain, diulang berkali-kali secara panjang lebar. Ugh.

Yang jelas, teteup, Angels & Demons masih juara buatku.

-NOVEMBER–

Stories, All New Tales Edited By Neil Gaiman and Al Sarrantonio
Stories, All New Tales Edited By Neil Gaiman and Al Sarrantonio

Kenapa November malah ditaro belakangan?
Jawabannya agak memalukan: karena saya gagal menamatkannya, hahaa…ha.
Bukan masalah bukunya jelek, tapi November lalu akunya yang nggak konsisten baca (the old ‘its’ not you it’s me‘ statement, ahaha..)

Stories ini adalah antologi cerpen dari 30 penulis. Buku ini kubeli karena tergoda tiga nama di cover buku: Neil Gaiman, Chuck Palahniuk, dan Jodi Picoult. Tapi terus terang aku baru baca sedikit Neil Gaiman, cuma nonton My Sister’s Keeper dari novelnya Picoult, dan bahkan belum nonton/baca ‘Fight Club’ atau tulisan Palahniuk yang lain.

Dari sekitar 30 cerpen, yang panjangnya bervariasi, mulai dari empat hingga puluhan halaman, aku baru baca sekitar 2/3-nya. Temanya macam-macam, mulai dari kehidupan dewa Nordik di dunia modern, kematian, sampai Mas-Mas Vampire masokis.

Favoritku sejauh ini ada tiga. Yang pertama The Truth is A Cave in The Black Mountains, dongeng Gaiman yang lumayan panjang dengan twist mantap di akhir cerita. Yang nomor dua Weights and Measures-nya Jodi Picoult tentang orang tua yang ditinggal mati anaknya, dan yang terakhir Catch and Release dari Lawrence Block, tentang pembunuh yang menganalogikan dirinya sebagai pemancing.

Aku suka banget kalau penulis bisa bener-bener masuk ke emosi dan pikiran tokoh yang ditulisnya, dan dua cerpen ini menurutku lumayan berhasil melakukannya. Picoult memasuki emosi sepasang suami istri yang reaksinya bertolak belakang atas kematian anaknya, dibungkus bersama penyesalan, pertanyaan, dan perubahan pada masing-masing mereka. Sementara Block memasuki insting predator yang sedang memainkan kuasa atas nyawa mangsanya. Di luar tiga tulisan favorit, ada beberapa cerpen lain yang lumayan kuat juga, misalnya The Stars Are Falling, tentang tentara yang pulang ke rumah setelah dikira mati oleh istrinya. Untuk cerpen yang seperti ini butuh jeda sebelum membaca tulisan yang berikutnya supaya bisa fokus.

Tapi ada juga beberapa tulisan yang berlalu begitu saja, bahkan menurutku agak meh. Karena bukunya belum selesai kubaca… jadi aku nggak bisa bilang secara keseluruhan Stories ini bagus atau nggak. Tapi yang jelas sejauh ini baca Stories mengingatkanku pada perjalanan dari Jogja ke pantai Wonosari, ada jalan lurus-panjang yang mboseni, dilanjut jalan naik-turun yang bikin sport jantung, lalu tau-tau ketemu Bukit Bintang.

Damn, tau-tau pengen kesana. 

Sumber Potrek:

Inferno

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One Book Per Month : Game of Thrones

Jadi ceritanya, saya dan beberapa teman menyadari bahwa semangat membaca kami menurun selepas dari bangku kuliah (tsah). Karena itu kami mencoba menantang diri sendiri untuk ngabisin satu buku per bulan. Ini sebenernya adalah angka yang memalukan, mengingat zaman SMA dulu satu seri HarPot selalu habis maksimal dalam satu setengah hari. Sekarang satu buku per bulan rasanya ambisius sekali 😦

Eniwei, buku yang kubaca bulan Oktober adalah Game of Thrones (GoT),  buku pertama dari seri A Song of Ice and Fire tulisannya George R.R. Martin. Btw sinopsisnya panjang, baca aje disini.

Ini cover yang kupunya
Ini cover yang kupunya

Aku tahu novel ini lumayan telat. Awalnya dari meme Brace Yourself yang rame di 9Gag & Reddit, diambil dari serial TV Game of Thrones yang dari judulnya aja sudah kelihatan  film ini diadaptasi dari mana. Berlanjut dengan banyaknya puja-puji buat serial TV ini yang bikin aku makin penasaran. Coba nonton satu episode… dan aku terpikattt.

Mengingat tulisan dan visual memberikan pengalaman yang beda, jadi kuputuskan untuk mulai baca bukunya. Yang mana kumulai dari tahun lalu. Dan baru selesai bulan ini. Yap.
Bukan cuma gara-gara sekarang gampang terdistraksi sama internet dan YouTube.
Bukan juga gara-gara bukunya setebal 800 halaman dengan spasi rapat.

Tapi gara-gara aku udah tau endingnya.

I'll never be ready for thiss
My heart will never be ready for thiss

Oke, mulai dari awal. (*SPOILERS ALERT*)

Sebenernya aku agak nggak terlalu hobi dengan fiksi bergenre fantasi. Bukan apa-apa, aku termasuk pembaca yang sibuk menerka-nerka ending sejak dari halaman pertama membuka buku—terutama  kalau yang lebih ditekankan adalah plot dan bukan teknik bercerita dan narasinya. Semakin jauh akhir cerita dari perkiraanku, semakin gila twist di pengujung cerita, semakin puas aku dibuatnya. Ini alasannya aku suka dua buku Dan Brown yang pertama.

Tapi buku fantasi, hampir selalu berakhir dengan kemenangan di pihak tokoh protagonis utama—walau sebanyak apapun temennya yang mati. Belum lagi biasanya tokoh-tokohnya ini dikelompokkan secara ekstrim, antara baek banget atau bajingan sejati.  Plis, untuk dua hal ini aku tinggal nonton Sailormoon atau Power Rangers.

Untung Mbah Martin jauh-jauh dari ini semua. Beda dengan banyak cerita fantasi tentang ramalan yang menjadi nyata, di sini ramalan bukan sebuah kepastian, malah bisa berbelok dan dipatahkan. Banyak hal yang nggak pasti di GoT. Dan aku suka itu.
Kalau lagi apes, mau dia tokoh utama, tokoh pembantu, atau pembantu beneran, mati ya mati aja. Jarang ada bala bantuan yang tau-tau nongol dari langit.

Eh, tapi nggak mungkin dong tokoh utamanya mati. Lah ceritanya tamat dong.

Ini kerennya Mbah Martin. Dia bener-bener menggali karakter tokoh-tokohnya yang bejibun ini sehingga pembaca bener-bener paham watak dan motif para pelaku. Masing-masing diceritakan dengan sangat kuat, sehinga kalaupun (ehm!) satu tokoh mati, yang lain masih cukup untuk menahan pembaca nggak lari dan membakar buku ini karena frustasi.

Ini.. mungkin saja terjadi
Yang mana hal ini.. sangat mungkin saja terjadi

Untuk mendapatkan bener perwatakan yang kuat macam ini kadang penulis lain menggunakan sudut pandang orang pertama, dengan cara penulisan dan pemilihan kata yang semacam bener-bener keluar dari otak tokoh tersebut. Bukan penulis yang sekadar  memakai kata ganti ‘aku’ dalam tulisannya. Dua buku yang aku suka dan ditulis dengan cara ini misalnya Flowers of Algernon dan Insiden Anjing Tengah Malam yang Bikin Penasaran.

Mbah Martin melakukannya dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu (piye meng-Indonesiakan omniscient?). Tata kalimat dan diksinya seragam—jadi pengenalan wataknya nggak se-instan cara di atas—tapi emosi di dalemnya beda-beda, tergantung sang tokoh yang tengah diceritakan. Dan ini bakal hambar kalau  nggak didesain dengan matang, apa kelebihan, kekurangan, dan terutama insecurity masing-masing tokohnya. Untungnya siMbah meramu GoT bagaikan indomi soto kuah, spesial pake telor dan irisan cabe yang disajikan di tengah musim hujan. Sedap.

GoT terdiri dari puluhan bab, dan masing-masing bab menceritakan dari sisi satu tokoh tertentu saja. Efek sampingnya ya tebelnya itu yang oke punya (denger-denger dua buku terakhir tebelnya 1.500 halaman. Akkk)

A villain is just a victim whose story hasn’t been told‘, begitu kata orang. Karena itu siMbah nggak cuma memberikan cerita dari sisi tokoh protagonis aja, tapi juga antagonis.  Jadi walau kita nggak membenarkan perbuatan si tokoh antagonis, minimal kita ngerti kenapa dia melakukannya.

Selanjutnya adalah cara dia membangun dunia fantasi ini. Nggak cuma bikin peta dunia, konteks sosial-budaya-religi tiap daerahnya, tapi dia juga bikin lambang, sejarah, sampai silsilah masing-masing trah bangsawan.
Kata Mbah Martin, ‘the devil is in the details, the say‘.
Oh, if that’s true then you’re the offspring of Satan himself, Old Man.

Terakhir, adalah… cara Mbah Martin bercerita. Men. Aku seneng banget baca tulisan yang maknanya implisit. Misalnya, Mbah Martin nggak secara langsung dan terang-terangan bilang ‘Catelyn kangen kampungnya’. Ini yang dia tulis:

The southern rain was soft and warm. Catelyn liked the feel of it on her face, gentle as mother’s kisses. It took her back to her childhood, the long grey days at Riverrun.

In the north, the rain fell cold and hard, and sometimes at night it turned to ice. It was as likely to kill a crop as nurture it, , and it sent grown men running for the nearest shelter. That was no rain for little girls to play in.
[Catelyn, p.283]

Oke, aku sudahi saja sebelum puji-pujian ini makin berlebihan 😀

P.S: Serial ini belum tamat. Ada tujuh buku, lima udah terbit dan masih ada dua judul lagi yang belum dipublikasikan. Ane 100 persen ngerti kenapa banyak yang berdoa supaya siMbah ini selalu panjang umur dan sehat walafiat.

Edit: Aku baru nemu gambar ini. Pembatas buku warna-warni menandakan ada yang mati di halaman tersebut. *slow clap*

Continue reading

Once Upon A Time, Arya Kamandanu Buried A Time Capsule…

Nemuin satu barang yang sudah lama hilang secara nggak sengaja itu rasanya berkah banget. Apalagi yang ketemu adalah satu flash disk 4 Gb yang isinya tulisan dan foto-foto jadul 😀
Rasanya seperti nemu time capsulenya Arya Kamandanu dan nemuin Pedang Naga Puspa di dalemnya  *haiyah*

Eniwei, aku nemu satu tulisan, yang dulu kuserahin sebagai contoh tulisan waktu aku ngelamar di Tem*o akhir tahun 2009. Meeen… lumayan ngakak bacanya. Banyak banget kata-kata ‘ajaib’ kusisipkan ke tulisan ini, mungkin dulu maksudnya untuk membuat orang-orang di Tem*o berpikir kalau aku cerdas (Semoga saat ini mereka gak menyesali keputusannya).

Jadi, ini tulisannya ( untuk blog ini, gambar sengaja disisipkan):

____________________________________________________________________________

Contoh Tulisan: Resensi novel ‘Negeri Lima Menara’

 

Laskar Pelangi Rasa Santri

Judul               : Negeri Lima Menara

Penulis             : Ahmad  Fuadi

Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama

Fikri ngambek. Keinginannya untuk masuk SMA umum ditentang oleh Amak[1]nya. Akhirnya Fikri mengambil keputusan setengah hati: kalau memang harus masuk pondok, biarlah aku sekalian masuk pondok yang jauh dari kampung halaman! Dan jadilah Fikri muda meninggalkan Pulau Celebes menuju sebuah pesantren di pelosok Jawa Timur: Pondok Madani.

Sejak pertama kali menginjakkan kakiknya di pondok itu, Fikri banyak menemui hal-hal baru. Yang pertama adalah suasana pondok yang memacu neuron otaknya untuk terus menyerap ilmu. Lalu ada lima sahabat baru dengan latar belakang jauh berbeda yang dipersatukan oleh hukuman jewer kuping di hari kedua mereka bersekolah. Dan tak lupa juga seorang siswa penjaga disiplin pondok yang saking mengerikannya sampai mendapat julukan Tyson.

Pondok Madani adalah sebuah kawah Candradimuka yang tidak ada henti-hentinya mengalirkan ilmu untuk Fikri dan sahabatsahabatnya. Tidak hanya pelajaran agama dan ilmu pengetahuan yang mereka pelajari, tapi juga ilmu untuk menjalani hidup. Mereka belajar cara menyeimbangkan hidup dari Rais pondoknya, belajar ilmu ikhlas dari para ustad mereka, bahkan belajar makna sportivitas dari seorang penebar horor seperti Tyson.

Di Pondok Madani ini juga mereka mempelajari satu ‘mantra’ ajaib yang jika dihayati maknanya dengan sungguh-sungguh, maka keinginan apapun dalam hidup dapat diperoleh. Mantra yang membius mereka berbunyi ‘Man Jadda Wajada’. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Namun sebetah apapun Fikri di Pondok Madani, sebuah cita-cita lama terus menggedor kesadarannya: ia ingin bersekolah di SMA umum. Ia ingin menggapai ilmu dunia setinggi-tingginya, menjadi almamater ITB, dan menjadi Habibie. Keinginan ini bagai bensin tersulut api setelah mendengar cerita Randai, sahabat di kampungnya, mengenai kehidupan SMA yang dijalaninya. Dan hasrat keluar dari Pondok Madani makin kuat begitu salah seorang sahabatnya memutuskan untuk meninggalkan Pondok Madani.

***

Satu ingatan melayang tak terkendali saat membaca Negeri Lima Menara: Laskar Pelangi. Ada sesuatu yang mengingatkan Negeri Lima Menara dengan novel fenomenal ini. Mungkin spirit yang sama dari kedua novel ini, yaitu dunia pendidikan. Mungkin pula gaya bahasa berbunga khas Melayu yang serupa tapi tak sama, mengingat Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi sama-sama berasal dari daerah Sumatera dan sekitarnya.

Bukan menuduh kemunculan Negeri Lima Menara sebagai sebuah kelatahan, namun tak dapat dipungkiri bahwa garis besar kedua novel ini tak jauh berbeda. Seorang anak (Ikal/ Fikri) memasuki sebuah institusi pendidikan yang kental bernuansa agama (SD Muhammadiyah Belitong/ Pondok Madani), membentuk sebuah ‘geng pertemanan’ dengan ‘nama resmi’ (Laskar Pelangi/ Sahibul Menara), dan mereka merancang pertunjukkan bersama (Pawai 17 Agustus/ Class Six Show), harus melepas satu sahabat pergi meninggalkan sekolah (Lintang/ Baso), hingga merasa cinta monyet pada pandangan pertama (A Ling/ Sarah). Bahkan bila sekuel Laskar Pelangi yang berjudul Sang Pemimpi juga ikut dihitung, maka makin tampak benang merah antara karya Ahmad Fuadi dan Andrea Hirata ini, yaitu sama-sama menjual mimpi. Atau lebih tepatnya sama-sama menjual semangat untuk meraih mimpi.

Diluar semua perbandingan dengan Laskar pelangi, Negeri Lima Menara merupakan sebuah makanan otak sekaligus hati untuk pembacanya. Ahmad Fuadi dengan lugas mengalirkan kisah dalam Negeri Lima Menara, dan tak sungkan memasukkan muatan lokal kedalam tulisannya. Misalnya saja ketika bercerita dengan setting Sumatera, A. Fuadi tidak canggung menggunakan bahasa daerah amak dan ambountuk menggantikan kata ibu dan saya. Begitu pula saat menceritakan kehidupan pondok, penulis sangat royal menyebar kata-kata berbahasa Arab di sepanjang tulisan. Untungnya hal ini tidak membingungkan pembaca, malah memperkuat setting penceritaan sekaligus membuat pembaca semakin masuk dalam cerita.

Buku pertama dari trilogi ini secara luwes menceritakan kehidupan khas santri pondokan dari sudut pandang orang pertama. Dari mata Fikri, pembaca dibawa pada kerasnya dunia pondok, sekaligus eratnya persaudaraan antara sesama santri. Pembaca diajak membayangkan bagaimana rasanya melawan kantuk saat dibangunkan untuk solat malam, sekaligus bersenda gurau bersama para santri sambil menikmati kopi hitam yang diseduh secara masif dalam ember besar yang biasa dipakai mencuci. Para santri ini juga membuat kita tersenyum dengan tingkah mereka saat mengintip para santriwati di pondok sebelah, atau terkesima saat menatap otot Arnold Schwarzenegger yang bertonjolan bagai ‘sapi bunting’. Bagaimanapun juga para santri ini adalah remaja laki-laki biasa dengan aktivitas hormon yang sedang tinggi-tingginya.

Cover negeri Lima Menara dipenuhi testimony bernada pujian dari banyak tokoh, mulai dari mantan presiden BJ Habibie, Riri Riza, Andy Noya, Ahmad Syafii Maarif, Emha Ainun Najib, sampai Farhan. Pujian itu tidak sekedar lip service belaka. Membaca Negeri Lima Menara bagai menyeruput segelas minuman pembangkit semangat. Bila dari luar negeri kita mengenal buku seri Chicken Soup For the Soul, maka Negeri Lima Menara bolehlah kita sebut sebagai STMJ for the Soul.

For The Soul.

Saat membaca lembar demi lembar Negeri Lima Menara, pembaca bagai mendapat resonansi dari semangat para santri pondok atas kalimat sakti Man Jadda Wajada. Sesungguhnya kalimat bijak inilah yang menjadi nafas novel ini. Nafas yang penulis coba tiupkan kepada pembaca, bahwa hanya mereka yang benar-benar mau berusahalah yang akan berhasil nantinya.


[1] ibu

Credit:

1. 5 Menara Pic
2. Tyson Pic
3. STMJ Pic

Perahu Kertas : The Review

Perahu Kertas Penulis: Dewi Dee
Penerbit: Bentang
Tebal:  Lumayan sakit kalo dipake buat nggaplok
Sinopsis: Kugy, pribadi unik penggemar jam tangan kura-kura ninja bertemu dengan Keenan, seorang pelukis yang menyimpan rapat-rapat perasaannya. Dan hanya keduanya yang bisa mengerti satu sama lain, kecuali untuk satu hal: mereka sama-sama jatuh cinta.

Tidak hanya itu, kisah Kugy dan Keenan juga dibalut kisah persahabatan, konflik keluarga dan juga perjuangan untuk menggapai cita-cita. Tak hanya itu, buku ini juga bercerita tentang cinta segiempat antara Kugy, Keenan, Luhde dan Remi, yang memaksa hati untuk memilih.

Duh, review-ku kok jadi kaya sinopsis film2 alay di Indo***r ya?

***

Okeee, pertama kuakui, review ini (dan update blog-ku ini) keluarnya lamaaaaaaa banget. Maap, kebiasaan males nulis lagi kumat nih (mencari sebab… serta mencari alasan…)

Reaksi pertama  baca Perahu Kertas adalah: yakin ini tulisan Dewi Dee? Kok mirip teenlit yang biasa dibaca temen2 adekku yang alay2 itu? (Dan banyak juga pembaca Perahu Kertas yang berkomentar kalo novel ini mirip teenlit)

Setelah lewat dua-tiga bab… reaksi selanjutnya adalah: Oh…, ya…ya… ini memang tulisan Dee. Bukan teenlit, walau mirip. Mungkin aku harus menyebutnya Deelit. Oh, tapi setelah kupikir-pikir jangan deh. Soalnya jadi mirip kata ‘slilit’ which means makanan yang nyempil di gigi. Iyuh…

Perahu Kertas kukatakan mirip teenlit karena (awalnya) bercerita tentang kehidupan  remaja-remaja SMA, dan diceritakan dengan bahasa yang ringan sekali. Tapi jangan salah, walaupun bahasanya ringan, bukan berarti hambar seperti teenlit kebanyakan. Hey, yang sedang kita bicarakan adalah TULISAN DEE disini, jadi bisa kupastikan hambar adalah rasa yang mustahil muncul ketika membaca novel Dee.

Ini hanya pendapat pribadi siAnink, namun dari dulu aku suka dengan pilihan kata-kata yang dipilih oleh Dee. Nggak biasa dan bikin kaget. Dan pilihan kata yang ditulis Dee untuk setiap tokoh, memberikan karakter tersendiri pada mereka.

Misalnya saja saat membaca bagian yang menceritakan tokoh Kugy, kita seakan dibawa pada dunia Kugy yang cerah ceria bagai dunia dongeng. Sebaliknya ketika menceritakan bagian Keenan, seakan dunia menjadi abu-abu dan sedikit kelam (hayah, nulis opo aku ini. Makanya kalo lagi baca, lampunya dinyalain!!!)

Alasan kedua yang membuat novel ini dikatakan teenlit adalah: Perahu Kertas bercerita tentang…cinta. And guess what, dengan akhir yang bisa ditebak. Kalo ente-ente pade cuma mau tau ending Perahu Kertas, gak usah deh bali novelnya, baca aja review-ku ini. Kalo mau sedikit mikir, pasti tau deh, ending ceritanya.

Tapi sebenernya keasikan baca novel ini emang bukan kaya baca novel2nya Dan Brown. Aku ngerasa asik ngebaca novel ini bukan untuk tau endingnya, tapi untuk ngikutin jalan ceritanya. Untuk tau gimana alur cerita dikisahkan sehingga akhirnya kita ketemu sama si ending yang dari awal udah ketauan itu. Mudheng ga?

Tapi ngomong-ngomong soal ending, perasaanku terhadap ending Perahu Kertas sama seperti perasaanku sama ending 5 Cm.
Berpanjang lebar yang nggak perlu. Menurutku cerita ini berakhir lebih  manis bila diakhiri saat……(ups, nggak mau spoiler ah!!)
Intinya pada akhir bab sebelum epilog lah!!

Dan satu lagi menurutku yang ‘kurang’ dari Perahu Kertas. entahlah, pada bab-bab awal aku ngerasa Dee agak cerewet dalam memberikan segala deskripsi tentang tokoh-tokohnya. Tentang hubungan Noni dan Kugy, misalnya. Disitu diterangkan kalau Noni dan Kugy sudah temenan sejak lama, karena bapak mereka satu kantor, dan bla..bla..

Bukannya jelak…bukan!! Cuma kurasa lebih manis kalau segala deskripsi ini mengalir saja bersama jalannya cerita, bukan ditempel jadi satu halaman penuh.

Overall, buku ini layak dibeli loh!! SErius!!

Novel ini cocok dibaca untuk:
1. Pembaca teenlit yang ingin ‘naik kelas’
2. Orang yang ingin membaca tulisan-tulisan Dee tapi nggak kuat baca Supernova, terutama yang Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh (yep, aku ketemu banyak yang model ini)
3. Orang yang pengen tahu jalan cerita Perahu Kertas sebelum duduk di bangku bioskop (Yup, kabar terakhir yang kudapat, Perahu Kertas bakal difilmin!!! ).