Perempuan Berwajah Layu

Bila ada seseorang bertanya, apa perubahan yang terjadi padanya sejak 365 hari lalu, maka perempuan berwajah layu ini akan menggeleng. Tidak ada yang berubah dalam waktu yang telah dilewatinya selama itu.

Jika digambar dalam sebuah bagan, maka kesehariannya akan berbentuk anak panah yang menunjuk satu panah di depannya, yang menunjuk anak panah lainnya lagi, lalu kembali ke panah asal. Membentuk siklus berwujud satu lingkaran sempurna.

Rutinitas. Ia terjebak di dalamnya.

Tapi, entahlah. Mungkin juga saat ini ia dengan suka rela berada dalam jebakan tersebut.
Karena seluruh rutinitas dalam hari-harinya, sekecil apa pun itu, telah menjadi ritual yang memberinya rasa aman yang menenangkan.

Misalnya toilet di lantai empat gedung kantor, yang selalu ia kunjungi pukul empat sore. Satu sudut yang paling jarang dikunjungi orang di tempat ini. Biasanya ia duduk saja di atas dudukan toilet. Meski sebentar, ada damai saat ia mendengarkan suara tetesan air dari keran yang sudah longgar, sambil menunggu menit-menit berlalu.

Atau lift tua favoritnya di sayap kiri kantor, satu-satunya lift yang ia gunakan di gedung ini. Alasannya, lift ini selalu berderit-derit saat mendaki atau menuruni satu lantai ke lantai lain. Suara ini, menjadi satu-satunya penghiburan untuknya dalam perjalanan dalam lift. Melupakan kesedihan akibat keengganan orang-orang untuk beradu pandang dengannya, meski mereka tengah bersama dalam satu ruang sempit.

Deritan lift itu adalah satu dari sekian bunyi kegemarannya, bebunyian yang menggelitiki telinganya. Di luar itu, dia juga suka dengan bunyi kapur yang menggesek papan tulis, atau suara keyboard komputer yang dipencet dengan penuh semangat.
Sayangnya, ia tak pernah memegang kapur sejak lepas dari sekolah dasar.
Sementara orang-orang kantor ini selalu merasa terganggu bila ia bertingkah dengan keyboard komputer.

Oh, ngomong-ngomong, seluruh rutinitasnya selalu berakhir pada pukul 23:27.

Seperti hari-hari yang lalu, ia naik ke atap gedung, dan berdiri di dinding pembatas. Memandang ke arah horizon, juga permukaan tanah yang jauh dari tempatnya berpijak.
Menikmati setiap hembusan angin malam yang membelai rambut panjangnya.

Lalu, seperti malam-malam sebelumnya, ia melompat.

Dan seperti kemarin dan kemarinnya lagi, yang terakhir ia dengar adalah bunyi berderak dari tengkoraknya yang menghantam tanah.

***

10062015. Mood: Nonton film horor, yuk.

Advertisements