Mau Nonton Inside Out? Jangan Dandan Ketebelan*)

Sebagai penggemar animasi kelas bulu junior, ada dua studio animasi yang sama-sama ada di urutan satu dalam daftarku. Yang satu Ghibli, satunya lagi Pixar.

Sayangnya rilisan Pixar beberapa tahun belakanganseperti Brave atau Monster University—walau masih superior, tapi kurang nancep di otakku. Makanya, begitu muncul How to Train Your Dragon 2-nya Dreamworks sama Wreck It Ralph punya Disney, aku agak-agak melipir dari Pixar.

Tapi di dalem hati (tsah) aku masih nunggu rilisan Pixar yang bisa bikin kepikiran berhari-hari setelah nonton, macam Up, Monster Inc, Toy Story 3, atau Wall E. 

Sampai akhirnya muncul Inside Out!
Malah mungkin, sejauh ini Inside Out adalah film Pixar paling favorit dari yang terfavorit buatku.

Inside_Out_(2015_film)_poster

Ada dua cerita besar di Inside Out. Pertama tentang turbulensi emosi Riley, gadis kecil  11 tahun yang baru saja pindah ke San Fransisco bersama keluarganya. Yang keduadan paling serutentang makhluk-makhluk penghuni kepala Riley.

Ada lima yang penting, yakni Joy, Fear, Disgust, Anger dan Sadness, yang masing-masing mengontrol emosi yang dirasakan oleh Riley. Setiap emosi ini kemudian tertanam dalam kelereng-kelereng ingatan yang disimpan di labirin memori Riley.

Komandan dari kawanan ini adalah Joy, yang begitu bangga dengan hasil tugasnya selama ini, yaitu mayoritas kelereng ini berisi ingatan bahagia Riley. Ingatan bahagia ini juga terekam dalam core memory, kelereng ingatan yang membentuk pribadi Riley.

Kadang, ia menyerahkan kendali emosi pada Anger, Disgust, atau Fearkarena menurut Joy, mereka memiliki fungsi dalam hidup Riley.Namun, tidak dengan Sadness. Joy tidak pernah mengerti apa fungsi kesedihan yang melekat pada Sadness.

Sampai kemudian terjadi kecelakaan yang membuat Joy dan Sadness tersesat dalam labirin memori jangka panjang Riley, bersama dengan core memory. Kedua emosi dengan kutub berlawanan ini kemudian memulai perjalanan mereka kembali ke markas, dan bertemu dengan makhluk-makhluk lain yang mengendap di dalam kepala Riley

***

Alasan aku begitu suka Inside Out, bisa diringkas dalam satu kalimat: karena film ini Pixar banget.

Bah, tentu ini sangat subyektif, jadi argumen ini sebaiknya dipanjangkan sedikit.

Menurutku, kelebihan film-film top Pixar adalah, mereka mampu merangkum satu topik yang biasanya nggak ringan, dengan cara yang ramah bagi anak dan sekaligus tidak membodohi penonton dewasa.
Di Up, misalnya, ada cerita tentang kesendirian di usia senja dan kematian. Atau kritik terhadap eksploitasi bumi yang berlebihan dan gaya hidup masyarakat modern di Wall-E.

20150805_122723 (1)
Sempet ketemu Pete Docter (tengah) sama Ronnie del Carmen (kanan) juga, sutradara+penulis Inside Out 😀

Sementara Inside Out, mereka bercerita tentang banyak hal. Dari mata penonton cilik, Inside Out mungkin dilihat sebagai sebuah film petualangan dengan tokoh di dunia warna-warni. Atau sebuah penjelasan yang menyenangkan tentang cara manusia menyimpan ingatannya.

Tapi buat penonton dewasa, mungkin  ada sesuatu yang rasanya ditarik-tarik di dalam sini. Untukku sendiri, Inside Out membuatku berpikir mengenai apa saja yang telah dikorbankan atau ditinggalkan demi proses menjadi dewasa.
Tentang seberapa banyak ingatan kecil yang sebenarnya berharga, namun tanpa sadar dilupakan.
Dan juga bahwa di tengah masyarakat yang menyanjung kebahagiaan sebagai tujuan hidup, sesekali menarik diri untuk bersedih pun bukan suatu yang buruk.

Kelihatannya suram banget, ya. Tapi jangan salah, Inside Out adalah tontonan yang sangat menyenangkan. Semua-muanya, termasuk karakter, jokes, visual, sampai credit title-nya. Dan menurutku, Pixar berhasil membangun dunia dalam kepala Riley dengan pondasi imajinasi yang kekanak-kanakan , tapi tetap nyambung dengan penonton dewasa. Dan ini juga, menurutku Pixar banget.

Ringkasnya, kalau aku bisa mengendalikan ingatanku, ingin rasanya memasukkan pengalaman nonton Inside Out dalam core memory-ku.

***

*)Apa maksud judul ala-ala berita online ini? Well, aku nggak mau ngejelasin detail, karena potensial jadi spoiler (ha!). Tapi percaya saja padaku, karena seperti kata orang, mencegah lebih baik daripada bedak, maskara dan eyeliner  beleberan pada akhirnya (ha.)

P.S:

  • Tulisan ini, semacam pengembangan dari resensiku di Majalah Tempo 10 Agustus lalu. Poin yang terlalu subyektif dan yang nggak muat masuk ke tulisan 4 ribu karakter, dilempar ke sini.
  • JANGAN TELAT MASUK BIOSKOP. Serius. Seperti biasa, di awal film Pixar ‘mentraktir’ kita dengan satu film pendek. Di Inside Out, ada satu film pendek tentang sebuah gunung berapi yang kesepian. AND I LAVA IT!
  • Film ini mengingatkan aku dengan satu ‘proyek’ yang sudah kutelantarin sejak dahulu kala. Dan ternyata… ada beberapa poin di orat-oretku ini yang mirip dengan di Inside Out 😀

    Apa mungkin ini pertanda…kulanjutkan saja corat-coret-mbuh-iki-opo ini??!!

3

10

Sumber gambar:

Wikipedia

Advertisements

Review Life of Pi. Or My Never Ending Hatred Towards Hyena

Apa ada hal yang lebih buruk dibanding kapalmu karam di Laut Pasifik dan sebatang kara terapung-apung dalam sekoci penyelamat?
Jawabannya: Ada.

Kapalmu karam di Laut Pasifik, sebatang kara terapung-apung dalam sekoci penyelamat dengan hanya ditemani seekor harimau bengal yang punya nama jauh lebih keren dari namamu.

Inilah yang dialami Piscine Molitor Patel, alias Pi, remaja tanggung India yang namanya terinspirasi dari… nama kolam renang. Pi harus meninggalkan tanah kelahiran dan gebetan pertamanya saat hijrah ke Kanada, bersama puluhan hewan koleksi kebun binatang milik keluarganya dengan kapal laut ‘TsimTsum’.

Di tengah badai, kapal ini karam dan menelan seluruh isi kapal ke dalam lautan, kecuali Pi, dan beberapa hewan yang terangkut dalam sekoci penyelamat, termasuk si harimau ganteng Richard Parker.

Mampukah Pi bertahan hidup menghadapi ganasnya laut, depresi dan kesepian, juga  Richard Parker?

***

Jawabannya: Bisa.
He.. tenang… ini bukan spoiler. Film ini memang berjalan dengan alur flashback. Sejak awal ditampilkan Pi dewasa yang menceritakan pengalamannya pada seorang penulis. Sekitar 15 menit awal Pi bercerita panjang lebar mengenai nama, agama, hingga gebetannya.

Untung ada beberapa penyelamat di bagian yang sedikit bertele-tele ini. Pertama Pi kecil yang ganteng (atau aku yang pedofil?), Anandi, gebetan Pi,  juga  Mamaji, paman Pi dengan bentuk badan yang sedikit absurd.

Dan tentu saja Richard Parker.

Halooo ganteng
Halooo ganteng

Kemunculan pertama si harimau ini sukses membuat penonton satu bioskop tempatku nonton ber-woooah.  Men, salut sama tim cgi yang sukses menampilkan si Richard Parker dengan gagah. Yap, CGI. Si Richard Parker lebih banyak ditampilkan lewat bantuan teknologi, bukan hewan aseli.

“Kami nggak mau aktor kami dimakan,” begitu katanya.

***

Selain untuk CGI,  aku juga suka cast Life of Pi, terutama Suraj Sharma, pemeran Pi remaja. Nggak seperti Irfan Khan (Pi dewasa) yang biasa nongol di film-film Hollywood, ini pertama kalinya aku lihat Suraj.

Cemerlang, mungkin cocok menggambarkan Suraj. Bayangin, lebih dari setengah bagian film berdurasi dua jam ini hanya mengandalkan Suraj sendiri, terapung di tengah setting minimalis. Apalagi ia harus berinteraksi dengan macan yang sebenarnya nggak pernah ada, cuma efek visual belaka.

Bukan cuma itu, Suraj juga berhasil mengaduk emosi di beberapa adegan kunci. Misalnya  saat Pi yang seorang vegetarian meminta maaf pada seekor ikan yang terpaksa dibunuhnya demi bertahan hidup, juga saat perpisahan dengan Richard Parker.

Untuk sinematografisnya… yah gimana ya, film ini memang dibuat untuk 3D, karena itu banyak potongan adegan yang tampilannya dilebih-lebihkan. Aku nggak bilang ini jelek,   it’s just a little bit silly. Macem mbak-mbak cantik yang kebanyakan bergincu.

Tapi dari semua potongan gambar pemanis mata ini, favoritku justru gambar sederhana,  yang menyorot Pi dan Richard dari atas. Soalnya itu persis cover buku Life of Pi yang kubaca dulu, dan ilustrasinya keren abis kaka..

cover lifeofpi

***

Ngomongin film Life of Pi nggak bisa cuma dari aspek teknis doang, tapi isi filmnya. Bukan cuma jalan ceritanya, tapi pemikiran di baliknya. Nggak harus takut untuk nonton Life of Pi, karena film ini memang ngajak mikir, tapi nggak harus mikir untuk ngerti ceritanya.

Aku liat dari twit, blog, dll, ‘pesan moral’ yang ditangkep orang-orang yang udah nonton pun beda-beda. Mungkin tergantung apa pikiran yang putarannya paling kenceng di kepala. Ada yang nangkep tentang sisi religiusnya, tentang menghadapi ketakutan, dan sebagainya.

Ini indahnya film ini.

Buatku sendiri ‘pesan moral’ film ini: mungkin biasanya kita memang memilih untuk percaya hanya pada hal yang ingin kita percayai.

***

Ah, aku belum menyebutkan satu hal lagi yang aku suka banget dari Pi: background musiknya, terutama lagu ini, yang digubah Om Mychael Danna:

Aku nggak tau isi lagunya tentang apa, tapi lagu ini memunculkan semacam bittersweet feeling waktu didengerin. Menenangkan sekaligus memilukan. Dan yang paling penting, si mbak Bombay Jayashri  berhasil mematahkan stereotip bahwa penyanyi cewe India cuma bisa melengking nyakitin kuping.

***

Eniwei, hari Sabtu  dua minggu lalu waktu aku nonton film ini banyak keluarga ngajak anaknya yang masih kecil nonton Life of Pi.
Ini. Salah. Besar.
Biarpun tentang binatang, Life of Pi bukan Lion King atau Bambi, Bapak Ibu.

Ada beberapa adegan sadis yang cukup eksplisit disini, lumayan bikin hati mencelos. Terutama kalo kamu seperti aku, lebih peduli nasib binatang daripada nasib manusia dalam film.

Kecuali si Hyena.
Sejak kecil aku suka nonton tayangan soal fauna, dan nggak pernah bisa dapet dimana bagusnya binatang yang punya suara macem Mak Lampir ini.
Dan film ini makin meneguhkan ke-enggak sukaanku ama si Hyena, terima kasih banyak.
(“No, not the Orang Utan, you filthy animal!! Pi! Kill it KILL IT!!!)

 

Bonus:India punya Pi, bocah yang berkawan dengan Richard Parker si harimau bengal.
Indonesia? Jangan khawatir… Indonesia punya Abdullah Soleh :

 

Pic Source :

Richard Parker

 – Cover buku Life of Pi

 

 

 

 

The Dark Knight Rises: The Epic Conclusion to the Dark Knight Legend (??)

Sejak trailer Dark Knight Rises keluar tahun lalu, tulisan yang muncul di akhir video selalu kurapal macam mantra:

ImageNope.
The Dark Knight was an *Epic* sequel, and Dark Knight Rises is…just … a conclusion.

Dark Knight Rises memang punya beban berat meneruskan Dark Knight yang sukses luar biasa. Tapi dengan jargon ‘Epic Conclusion‘ tadi ya ga salah juga kalau ngarep film yang mengakhiri trilogi ini bakal jadi yang paling badass di antara dua pendahulunya.

Biar begitu, The Dark Knight Rises tetap sangat layak untuk ditonton (Meeen… ada gitu filmnya Christopher Nolan yang ga layak tonton??)

***

Film dibuka delapan tahun setelah huru-hara Joker berhasil dipadamkan. Batman dicap sebagai kriminal dan gak pernah lagi berkeliaran di jalanan Gotham. Harvey Dent mendapat label pahlawan yang hari kematiannya selalu diperingati sebagai ‘Dent Day’. Sementara Bruce Wayne yang patah hati ditinggal mati Rachel mengurung diri di rumah mewah(warisan bapak)nya.

Namun semua rutinitas ini berubah ketika Negara Api menyerang   muncul Bane, kriminal bertopeng yang bersama pasukan huru-haranya, menciptakan chaos di Gotham. Belum lagi Selina Kyle alias ‘CatWoman’, pencuri seksi yang nggak jelas kawan atau lawan. Masih dibantu si polisi jujur Jim Gordon, kini bertambah satu lagi suporter Batman, polisi muda John Blake.

***

Mari ngomongin cakep-cakepnya dulu.

Walau aku lumayan suka The Avengers & Amazing Spiderman, kalau dibandingin Dark Knight Rises dua jawara box office 2012 tadi jadi kaya Mighty Morphin Power Rangers. Levelnya beda, bro.
Plot lebih pelik, ceritanya lebih gelap, dan juga lebih kolosal ( ada adegan mirip perang  Mahabarata mini ala pulisi :D)

Dark Knight Rises juga berhasil ‘memaku’ penonton, terutama di dua per tiga akhir film. Kalau di Dark Knight , kita bakal bertanya-tanya ‘what would Joker do?’  karena doi gila abis, maka di film ini yang kita tanyakan adalah ‘what would Batman do?’. Soalnya, penonton dibuat putus asa dengan nasib Gotham yang gak punya polisi & ditelantarin pemerintah AS, sementara si Batman geletakan nonton tipi gara-gara sakit punggung.

Pemain yang dipasang juga oke, menurutku.

Christian Bale, yang sudah teruji jago ‘berubah bentuk’ dari satu peran ke peran lain, melakukan transformasi Bruce Wayne dengan meyakinkan: mulai dari pria loyo bermata cekung, sampai jadi lelaki seger-buger-berseri-seri yang terapi On Clinic- nya berhasil.

Anne Hathaway!
Ternyata aku suka si Mba ini jadi Catwoman. Maap kalau awalnya aku meragukanmu, Mbaknya.

Catwoman-nya Hathaway bukan kucing rumahan yang kebanyakan grooming. Dia kucing jalanan yang ga percaya siapapun, ga ragu nyakar, dan jago nyolong.
Dan  kostumnya aku suka, terutama visor yang kalo lagi ga dipake bisa ditaro di atas kepala dan jadi semacam pita unyu :3

***

Dan sekarang kekurangannya, Gaaah… dari mana aku harus mulai.

Bane!
Biarpun secara matematis (fisik + taktis) Bane menang telak atas Joker, tapi si cowo berbedak cemong-cemong  dan bergincu ini tetap memenangkan hati penonton (jiaahh).
Ini di luar si Ledger yang memang ngganteng loh ya.

Aku inget waktu pertama nonton Dark Knight, i got chills every time Joker was on screen.
Sampe sekarang aku masih inget kebiasaan Joker melelet-leletin lidah dan berdecak-decak.
Dia ikonik dan berhasil mematok standar super villain kelewat tinggi.

Sementara Bane… for me, he’s just another super villain.
Dengan badannya yang sterek, dia memang keliatan brutal, ganas n berbahaya. Tapi cuma buat Gotham + Batman, bukan buat penonton.

Bukan salahnya Tom Hardy sih.. Masker yang dipakai Bane menghalangi si Hardy berekspresi, sementara si Joker dengan gampangnya bisa celamitan.
Bukan salahnya Nolan juga, karena aselinya di komik tampang si Bane memang kaya gitu.

Tapiii… mungkin ini cuma aku aja, tapi aku nggak suka suara yang dipake Bane. Macam Zordon-nya Power Rangers. Ga bikin serem malah bikin geli.

Sebetulnya aku juga selalu terganggu dengan suara husky-husky-piye yang dipakai Batman. Tapi ini masih bisa kutolerir, karena…

 

 

Oh, dan adegan Bane matahin punggung Wayne kurang eksplisit, jadi kurang mantap 😀

Satu lagii… betapa terlalu Hollywood-nya pelem iniii…
Bagaimana si Batman selalu muncul secara ajaib di saat-saat kritis dan bagaimana si kalong ini sempet-sempetnya mengucapkan kata-kata mutiara n nyium cewek di saat lima menit sebelum bom meleduk. Meh.

Dan ‘epic-conclusion’ dari si Dark Knight sepertinya ga cocok blas sama hukum thermonuclear (opo iki? sok-sokan wae kowe ningg)

 

Tapi semua kumaapkeun karenaa…

 

YES! YES YOU ARE!!

 

 

 

 

 

 

 

 

Reinkarnasi si Gadis Bertato Naga

The Girl with The Dragon Tattoo

Cast : Daniel Craig, Rooney Mara, Christopher Plummer
Director : David Ficher
Rating : 8,1 (IMDb), 87 persen (Rotten Tomatoes), 4/5  (siAnink)

Selama 40 tahun Henrik Vanger (Christopher Plummer), terteror oleh kiriman bunga kering yang selalu ia terima pada hari ulang tahunnya. Ia yakin bingkisan tanpa nama tersebut merupakan kiriman dari orang yang telah membunuh keponakan kesayangannya, Harriet.

Mikael Blomkvist (Daniel Craig), jurnalis yang sedang tersandung masalah, dan Lisbeth Salander (Rooney Mara), gadis hacker yang sarat masalah, diminta untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Harriet, karena tubuh gadis ini tidak pernah ditemukan. Penyelidikan ini ternyata mengarah pada serangkaian pembunuhan sadis, sekaligus rahasia mengerikan dari anggota klan Vanger

***

Seperti biasa, setiap postingan pasti diawali obrolan ngalor ngidul dulu. Kali ini tentang Let Me In , film Vampir-nya si adek Chloe G. Moretz.

Girl With Dragon Tattoo (GWDT) punya ‘garis hidup’ yang serupa-tapi-tak-sama dengan Let Me In.
Keduanya berasal dari buku Best Seller Swedia, diadaptasi menjadi film di negara itu, kemudian dicomot oleh Hollywood.

Untungnya GWDT ga ngulang ‘kesalahan’ yang dilakukan Let Me In. Bukannya Let Me In jelek, bukan. Filmnya bagus, tapi sayang banyak scene kunci film ini dibuat dengan hampir sama persis (termasuk shot & detail) dengan Let The Right One In, film berbahasa Swedianya.
Akhirnya ada yang beranggapan kalo film ini dibuat untuk orang-orang Amerika yang males baca subtitles.

Beda dengan Let  Me In, GWDT 80 persen berbeda dengan film versi Swedianya. Detail dalam novel yang disingkirkan dari film pertama dimunculkan dalam film ini.
Dibandingkan dengan  versi Swedia yang banyak mengubah detail dalam novel, versi Hollywood ini cenderung lebih ‘setia’ dengan isi novelnya karangan (almarhum) Stieg Larsen ini.

Tapi harus kuakui kalo GWDT versi Hollywood ini punya nilai plus tersendiri yang membedakannya dengan film versi Swedia, dan bahkan novelnya: mereka membawa kegilaan para tokoh yang ada dalam film ini satu level lebih tinggi.

Ini terasa sejak opening film yang abstrak / absurd/ entahlah-apa-kata-yang-pas-menggambarkannya, yang diiringi dengan Immigrant Song-nya Led Zeppelin (yang ternyata diaransemen ulang oleh Trent Reznor dan dinyanyikan Karen O (!!)) .
Atau saat si tokoh antagonis memulai penyiksaan dengan diiringi musik riang gembira.
Atau pengakuan Lisbeth Salander saat dia membalas dendam pada pemerkosanya secara brutal.

Okay.

Tapi kita simpan si Mbak Lisbeth di sesi selanjutnya.

Untuk sebuah tontonan, GDWT lumayan oke, terutama buat yang suka film bergenre misteri atau kriminal. Tapi menurutku alur GDWT ini kurang rapi. Ngebut di bagian awal, lalu sedikit bertele-tele di bagian tengah. Tapi menurutku yang cukup mengganggu adalah subplot tentang konflik yang dihadapi Mikael dengan Wennerstrom.

Masalahnya, subplot ini lebih banyak diulik pada awal cerita, secara teknis dilupakan sepanjang pertengahan cerita, lalu dibahas lagi secara panjang lebar setelah klimaks film. Energi penonton sudah tersedot mengikuti teka-teki keluarga Vanger, jadi  ketika masalah Wennerstrom diungkit lagi, penonton (atau setidaknya aku), mulai ngikutin film sambil setengah beler.
Untung di bagian ini ada bagian yang ‘seger-seger’, saat Lisbeth *SPOILER ALERT* melakukan penyamaran menjadi mbak-mbak canteek nan kece 😛

***

Mikael Blomkvist : What are you doing?
Lisbeth Salander : Reading your notes
MB: But they’re encrypted!?
LB : *sigh* Please.

Sepertinya cukup aman kalau aku menyebut karakter Lisbeth Salander  adalah elemen paling kuat yang membuat trilogi ini bernyawa.
Man, dengan penokohan seperti ini, Lisbeth Salander mungkin manjadi salah satu tokoh idola bagi para stalker/   hacktivist  Anonymous.

Dan mau nggak mau aku jadi membandingkan Lisbeth yang dihidupkan oleh Noomi Rapace (GWDT versi Swedia) dengan Rooney Mara.

Lisbeth Salander. Kiri: Noomi Rapache. Kanan: Rooney Mara

 Lisbethnya Noomi dan Rooney sama-sama menarik, namun dengan daya tarik yang berbeda. Bertolak belakang, malah.

Secara fisik, Lisbeth dalam novel lebih dekat dengan yang digambarkan Rooney: anak punk kerempeng yang keliatannya hobi ngelem, tapi sebenarnya punya tampang model.
Noomi kebalikannya : cewe punk berbodi kekar yang kelihatannya tahan banting + bulu ketek model Tante Eva yang gagah perkasa (maap, yang ini harus disebutkan. I can’t get over it, what has been seen can’t be unseen)

Karakter keduanya juga beda. Rooney selalu kelihatan rikuh di sekitar orang lain, sementara Noomi punya rasa percaya diri tingkat tinggi.
Rooney is socially awkward and Noomi just simply doesn’t give a F.

Noomi kelihatan kuat di luar, namun rapuh di dalam.
Sementara dari luar Rooney kelihatan seperti kucing liar penakut: ceking dan selalu waspada terhadap segala sesuatu yang lebih besar dari badannya. Tapi begitu disenggol sedikit, ternyata si kucing liar ini langsung menyerang secara bar-bar.
Parahnya lagi, kucing liar ini ternyata kena rabies. Yap, Lisbeth yang ini gila, Jendral.

Tapi yang aku suka dari versi Hollywood ini adalah hubungan antara Lisbeth dengan walinya, Holger Palmgren, yang dieksplorasi lebih dalam. Somehow sosok Lisbeth jadi terlihat lebih manusiawi.
Namun tetap membawa virus rabies, tentu saja.

Pic Source

The Girl With The Dragon Tattoo

Mission: Review Mission: Impossible Ghost Protocol

Mission: Impossible Ghost Protocol
Director : Brad Bird
Cast          : Tom Cruise, Jeremy Renner, Simon Pegg, Paula Patton
Rating      : 8/10 (IMDb), 95% (RotteTomatoes), 4/5 (siAnink)

Agen Ethan Hunt kembali menjalankan misi dalam satuan Impossible Mission Force (IMF), untuk menghentikan rencana seseorang dengan nama sandi Cobalt yang berniat menyerang Amerika dengan nuklir. Cobalt  meledakkan bom di Kremlin, Rusia, dan merekayasa agar peristiwa ini terlihat sebagai perbuatan Ethan dan timnya. Agar hubungan Amerika dan Rusia tak pecah, pemerintah Amerika kemudian menyangkal keberadaan IMF dan menyebut kelompok Ethan sebagai teroris. Artinya, Ghost Protocol terpaksa dijalankan.

Bergerak tanpa dukungan pemerintah, mampukah Ethan mencegah Cobalt meledakkan nuklir sekaligus membersihkan namanya?

*insert Mission Impossible’s iconic music score here*

***

Sejujurnya, aku punya tiga kekhawatiran yang muncul di menit-menit awal film ini diputar:

Kekhawatiran Pertama:
Tom Cruise yang bermain sebagai Ethan Hunt  muncul di awal film bermodalkan kaos singlet semata. Yang langsung terbersit di pikiran: Ya Tuhan, aku nggak bakal kuat kalo sepanjang film harus liat Masnya lari-larian pake baju minimalis begitu.
Men, Tom Cruise umurnya udah hampir kepala lima, bodi kebapakan (baca: mirip bapak-bapak) itu udah nggak gitu sedep dipandang mata.

Tapi. Lima menit kemudian Mas Tom langsung berpakaian lengkap yang berlanjut di sepanjang film . Pfiiuuhh… Lanjut ke…

Kekhawatiran kedua:
Ethan Hunt, pemeran utama yang menarik, karismatik, dan pandai akrobatik ini disandingkan dengan Mbak Jane yang sungguh sekseh, atraktif dan yang paling penting: sedang single dan galau karena baru ditinggal mati gacoannya ( yaelah bahasanyaaa!!).

Situasi ini memberikan kemungkinan yang besar adanya love line antara Ethan dan Jane.

Bukannya aku anti bumbu-bumbu cinta atau drama  dalam film action. Tapi drama dalam film action, apalagi drama percintaan, kalo nggak cantik ngaturnya bisa ngerusak ritme film.
Lihat aja Transformer Dark of The Moon yang feel film action-nya kacau balau gara-gara Shia LaBeouf dan Mbaknya (yang aku lupa namanya) sibuk ciam-cium, berantem, dan cemburu-cemburuan tiap 15 menit sekali.

TAPI, ternyata M:I Ghost Protocol cukup bebas dari ‘drama-drama-drama’. so… i’m good 😀

Kekhawatiran ketiga:
Aku nggak suka film action. Kemaren nonton pun karena… gratis 😀

Menurutku, diantara semua film fiksi, film action adalah genre yang paling banyak ngejejelin kebohongan.
Mana ada satu orang bisa menang ngelawan orang sekampung, ga tergores sedikitpun?

TAPI, ternyata aku bisa menikmati M:I Ghost Protocol, tuh. Kuncinya adalah, anggap aja si Ethan Hunt punya otot kawat tulang besi. Kebanting berkali-kali juga tahan mati.

Tapi selain itu, yang lebih penting adalah Ghost Protocol nggak menghadirkan aksi frontal satu orang vS satu batalyon yang sok heroik, tapi lebih kepada adu strategi. Meski begitu, film ini juga cocok buat yang pingin adrenalinnya naik,  karena unsur ketegangan juga dijalin rapat dalam plot cerita.

Salut buat sutradara Phillip Brad Bird yang berhasil mengatur jeda kapan penonton bisa ikut terhanyut aksi Ethan Hunt dan kapan bisa istirahat mengambil nafas barang sejenak, sehingga yang nonton nggak ngos-ngosan. Salut pada Pak Sutradara ini juga akhirnya kukuadratkan, karena ternyata ini adalah film live-action pertama arahannya. Film yang dia sutradarai sebelumnya? The Incredibles sama Ratatatouille!! Njomplang, man….

Setting film ini juga cukup rame, mulai dari Rusia, Dubai, sampai India. Bagian favoritku adalah sequence di bangunan tertinggi di dunia , Burj Khalifa di Dubai, karena menurutku ketegangan paling nendang ada disini.

Untuk cast, semuanya oke menurutku. Tapi kejutan besarnya (untukku) bukan pada Tom Cruise, si bintang utama, melainkan pemeran pembantu, dan bahkan bintang tamu yang cuma muncul sekitar 10 menit di film. Yang pertama adalah Simon Pegg!!! Gah, i love this dude.

Aku ga tau kalo dia ikut main sejak M:I 3, makanya aku cukup kaget (plus terhibur) karena penampilannya di Ghost Protocol beda jauh dengan aksinya sebagai opsir polisi teladan nan perfeksionis di Hot Fuzz.

Sgt. Nicholas Angel (Simon Pegg, Hot Fuzz)

Di sini dia bermain sebagai Benji, agen koplak yang menurutku sukses menjadi scene-stealer kapanpun dia muncul.

Ada juga Michael Nyqvist yang kali ini bermain jadi Cobalt, si tokoh antagonis. Aku baru nonton dia di trilogi Girl with Dragon Tattoo, so it’s nice to see him again. Walaupun disini dia irit banget ngomongnya.

Yang terakhir ada Mas-Mas India yang aku tahu mukanya, tapi nggak tau namanya (sampai buka IMDb).

Tapi aku yakin dia pernah berperan sebagai tokoh bernama Raj, Rajesh, Inspektur Vijay atau semacamya.

Mas-Mas yang ternyata bernama Anil Kapoor ini sebelumnya kukenal sebagai superhero yang romantis dan pandai menari dari tanah Hindustan. Tapi di film ini dia berperan sebagai milyarder playboy yang tengil! Kocak!!! 😀

Oh ya, karena aku sama sekali nggak pernah nonton M:I seri sebelumnya, jadi aku ga ngomongin perbandingan film ini dengan pendahulunya. (gaaaah, awalnya aja aku bahkan ga nyambung IMF itu apa. International Monetary Fund??).
Tapi ada satu hal yang aku suka dari M:I Ghost Protocol. They get rid of those corny numbers.
Mission: Impossible 5 terdengar sealiran dengan Cinta Fitri 5 atau Tersanjung 6, soalnya.

Menurutku M:I Ghost Protocol sudah oke untuk tontonan film action, hanya sayangnya CGI di film ini, seperti di adegan badai pasir misalnya, masih terasa kasar. Jadi terasa bohongan banget.
Selain itu penggunaan sosok Rusia sebagai tokoh antagonis terasa seperti lagu lama yang terlalu sering diulang. Bosan.
Untuk itu kukasih rating empat dari lima bintang deh.

Okehh, thanks for reading my review.

Btw this post will self-destruct in five seconds.

Pic Source:

Ghost Protocol
Sgt Nicholas Angel
Anil Kapoor

Red Riding Hood: Not So Dark FairyTale

Red Riding Hood
Director: Catherine Hardwicke
Cast: Amanda Seyfried, Gary Oldman, Shiloh Fernandez, Max Irons
Rating : 4,9/10 ( IMDB ),  12% (Rotten Tomatoes), 2/5 (Rating si Anink)

Sinopsis: Valerie (Amanda Seyfried) yang menjadi kembang  di desanya (duh, bahasanya) dijodohkan dengan Henry (Max Irons) oleh orang tuanya, namun ia hanya mencintai seorang penebang kayu yatim piatu, Peter (Shiloh Fernandez). Awalnya Peter dan Valerie berencana kawin lari, tapi gagal setelah sesosok werewolf mengamuk dan membunuh kakak perempuan Valerie. Seorang pendeta yang terobsesi membunuh werewolf kemudian datang ke desa mereka dan mengumumkan werewolf itu sebenarnya adalah salah satu dari penduduk desa. Tak lama kemudian sang werewolf kembali menyerang desa mereka, dan berhadapan dengan Valerie. Anehnya, Valerie tidak dibunuh makhluk jadi-jadian itu, bahkan ia mengerti perkataan sang serigala yang mengajaknya pergi meninggalkan desa untuk hidup berkelana bersamanya.

***

Oke, ini semacam sekapur sirih:
Awal tahun 90an aku tinggal di Denpasar , dan saat itu siaran TV yang masuk ke tempat tinggalku baru TVRI dengan Dunia Dalam Berita-nya yang melegenda itu. Karena itu saat liburan di rumah Mbahku di Jakarta, jarang sekali posisi dudukku di depan TV  bisa digeser (Waauw… RCTI!!).

Nah, saat nonton di rumah Mbahku itulah aku ingat pernah nonton film yang menurut pikiranku dulu adalah film Cinderella versi aliran sesat. Bagaimana tidak? Di film itu, saat prosesi pencarian sang putri dengan mencoba sepatu kaca, kaki kedua kakak tiri Cinderella yang nggak muat….dipotong supaya masuk ke sepatu sial itu.

Film sesat, kan? Mana ada cerita Cinderella yang kaya gini?

Tapi kemudian aku tahu…

(Once upon a time… before Disney ruined the awesomeness of gruesome and bloody fairy tales of Freddy Krueger’s bed time stories..)

Acara potong-memotong kaki di film Cinderella itu ternyata sesuai dengan dongeng yang dicatat oleh Grimm bersaudara (Baca Cinderellanya Grimm disini).

Hey, Jerman bahkan mengabadikannya dalam bentuk perangko! Neat!

Intinya, dulu cerita dongeng tidak semanis apa yang sekarang orang bilang sebagai ‘cerita dongeng’.
Dongeng zaman baheula bisa dibilang lebih mirip dunia fantasinya Tim Burton dikawin silangkan dengan Jason dari Friday the 13th.

Eniwei, back to the Red Riding Hood.
Begitu mendengar bakal ada film Red Riding Hood yang nuansanya gelap, aku langsung memasukkannya dalam must-watch list, karena 1) Red Riding Hood jarang diadaptasi dibanding dongeng yang lain 2) Aku lumayan suka si Amanda Seyfried 3) Waw, akhirnya dongeng kembali ke jalan yang benar.

Tapi ternyata kenyataan berbicara lain (haiyah).

Jualan utama Red Riding Hood adalah sinematografi .Permainan kontras warna merah jubah dengan salju-hutan-dan rambut pirang Valerie memang cakep dilihat.
Selain itu penampilan fisik para tokohnya (Peter, Valerie dan Henry) memang seperti keluar dari buku-buku dongeng. Tapi sudah, itu saja.

Di banyak review yang aku baca, salah satu tanda bahwa sebuah  film berhasil adalah penonton jadi peduli akan nasib tokoh-tokohnya, bahkan ikut merasakan apa yang mereka rasakan.
Dan aku nggak peduli sama apapun yang terjadi sama mereka.

Satu-satunya yang membuatku tetap bertahan di depan layar adalah untuk tahu siapa sebenarnya si werewolf ini, dan ternyata  tebakanku salah. Dan untuk hal ini, Red Riding Hood kukasih dua bintang. Adil toh? 😀

____________________________________________________________________________

Oh, dan satu lagi. Tokoh utama wanita, Valerie samar-samar mengingatkanku sama Isabella Swan.

"Did you just call me?"

Tentunya Isabella Swan yang ini. Yang mana lagi coba?

Entahlah, aku nangkep beberapa persamaan tipis antara dua tokoh ini:

Gadis belasan tahun (Bella / Valerie), tinggal di daerah terpencil yang lokasinya berdekatan dengan hutan (Forks/ Valerie’s Village, can’t remember the name). Ia terlibat cinta segitiga (Edward & Jacob / Henry & Peter), dimana kedua cowok ini mau melakukan apapun demi menyelamatkan si Gadis. Si Gadis punya kemampuan khusus bila berhadapan dengan makhluk supranatural dalam film (bisa menghalangi si vampir membaca pikirannya / bisa membaca pikiran si Werewolf), dan entah terpaksa atau sukarela, ia sempat menjadi umpan untuk si makhluk (Bella di Twilight  sukarela jadi makanan untuk vampir jahat / Valerie diumpankan agar si Werewolf muncul)

Apalagi menurutku kedua film ini sama-sama lebih menekankan sisi romantisme dibanding nuansa horor atau fantasinya. IMO, Red Riding Hood dan Twilight adalah film percintaan yang setting brightness and contrastnya diatur hingga jadi lebih gelap #nobash.

Mungkin saja Catherine Hardwicke, sutradara Red Riding Hood, memang terinspirasi Bella dan Twilight sehingga wajar saja bila… Tunggu dulu!
Catherine Hardwicke ternyata juga menyutradarai Twilight.

Oke.
Baiklah kalau begitu.

***

Pic Source:
1. Red Riding Hood
2. Stepsisters stamp
3. Isabella Swan, beloved lady from Twilight Saga

Semacam DeJa Vu Saat Nonton Film Animasi

Meen.. sudah lima bulan blog ini dianggurin.
Baiklaaah…kali ini nulis  yang ringan-ringan dulu aja deh. Hitung-hitung ngasih napas buatan sama si blog yang mati suri ini.

****

Jadi ceritanya, pada satu malam, aku nonton dua film animasi, Rio dan Gnomeo and Juliet. Lalu ada satu adegan yang sama-sama muncul di dua film ini: Manuver Heimlich.

Lalu setelah kuinget-inget, kok rasanya ada beberapa ramuan sama yang diulang berkali-kali di beberapa film animasi. Mungkin memang belum bisa dibilang sebagai tren, tapi…gimana ya? Nilai sendiri dah…

1.Funny Accent

Apa persamaan antara Donkey (Shrek) dan Marty (Madagascar)?

Meet Marty and Donkey.Both are sidekick, and have funny Afro-American accent.
Kebetulan? Bisa jadi.

Tapi belakangan ini film animasi dengan tokoh binatang anthropomorph (punya kemampuan seperti manusia, misalnya bicara), biasanya punya minimal satu tokoh  dengan logat bicara non-Amerika yang biasanya jadi badut-badut di film tersebut. Masih butuh contoh? Gerombolan pinguin pimpinan Robin Williams di Happy Feet, dua burung di Rio,  juga Stella si Sigung di Over The Hedge.

Ohyah, tentang aksen Amerika ini, aku yakin semua juga udah ngeh kalo di hampir semua film animasi mainstream  buatan Hollywood, di belahan dunia manapun setting cerita film itu,  hampir bisa dipastikan kalau tokoh utamanya beraksen ala Om Sam. Masih butuh bukti? Inget Po, Panda aseli kelahiran negeri Tiongkok di Kung Fu Panda? Atau  Jewel, si burung biru kelahiran Rio de Jeneiro di film Rio? Trio Manny-Sid-Diego yang hidup di zaman Ice Age?

*singing Rammstein: We are living in Americaaa, Americaa.. Americaaaa*

2. Cewe Perkasa

Yang ini biasanya muncul di film animasi dengan tema percintaan.

Kalo inget film animasi Disney keluaran awal  seperti Snow White (1937), Cinderella (1950) sampai Sleeping Beauty (1959),  perempuan tokoh utama digambarkan sebagai  sosok yang halus dan lemah lembut macam putri keraton . Berubahnya hidup mereka yang malang ini  tergantung pada kedatangan seorang pangeran tampan berkuda putih yang datang menawarkan sepatu kaca yang cuma sebelah/ ciuman penghapus kutukan (medieval princes kinda pervert, yes?).

Lalu , Disney mulai mengubah karakter Disney Princess menjadi lebih pemberontak (Ariel, 1989 dan Jasmine, 1992), danlebih mandiri (Belle,  1991). Belakangan Disney malah membuat para putri yang bisa masuk ke dunia para lelaki, seperti peperangan dan petualangan (Pocahontas, 1995 & Mulan, 1998), dan juga sebagai pencari nafkah (Tiana, 2009).

Seperti Disney Princess yang terus berubah, para tokoh  putri di film animasi yang awalnya gemulai ini lama-lama berubah bagai  jagoan wanita macam Saras 008 (meh, aku ga yakin ada yang inget tokoh ini :p)
Ingat siNinja-Juliet yang mencuri hati  Gnomeo ?

atau Princess Fiona yang menggebuk  kawanan Merry Men dengan jurus tendangan tanpa bayangan?

WATTTAAAA!!!

Setelah dilihat-lihat, beberapa tokoh perempuan malah digambarkan lebih gahar dibanding peran utama laki-laki. Coba saja

bandingkan Eve dengan Wall-E  (Wall E), Jewel dengan Blu (Rio), dan juga Astrid dengan Hiccup (How to train your Dragon). Semua tokoh cewe ini diperlihatkan memandang rendah para tokoh pria yang menurut mereka payah, sebelum akhirnya jatuh hati sama cowo-cowo itu (teteeeup. yah, namanya juga tema percintaan).

3.Formula Boyband

Salah satu tema yang paling banyak diwujudkan sebagai film animasi adalah petualangan, dan petualangan dalam film animasi, mayoritas dilakukan dalam bentuk tim. Kalaupun petualangan ini diawali oleh sendirian, biasanya di perjalanan ia akan bertemu dengan tokoh lain yang akan menjadi rekan satu tim.

Daaaan… menurut Hollywood, berapa jumlah ‘anggota’ ideal dalam sebuah tim untuk sebuah ikatan persahabatan yang kukuh dan tetap tegak meski diterjang badai?? *jeng jeng*

Madagascar. they like to move it, move it!
Up
Shrek (2, 3, 4)
The Wild
How to Train Your Dragon (Karena si kembar menunggang 1 naga, jadi mereka dihitung sepaket. Curang? yo ben :p )

Setelah kulihat-lihat, sebuah tim dalam film animasi  biasanya memakai formula boyband alias jumlah anggotanya 4-5 personel untuk menentukan jumlah anggota dalam satu tim. Formula tiga personel seperti trio Manny-Diego-Sid di Ice Age atau duo Marlin-Dory di Finding Nemo relatif  jarang muncul.

Lebih lebih lagi, biasanya formula boyband ini gak cuma berlaku untuk tim yang didaulat menjadi pemeran utama, tapi juga untuk tim-tim bintang tamu, seperti Furious Five (lima  personel) di Kung Fu Panda, The Penguins of Madagascar (empat personel). atau juga lima penguin yang dipimpin Robin Williams di Happy Feet.

Dan betewe formula ini juga dipakai di film animasi bertema keluarga, misalnya The Incredibles (lima personel) dan Despicable Me (empat personel)

Oke.
Kenapa tim dengan empat atau lima personel ini laris ya?
Padahal SM*SH aja anggotanya ada tujuh orang. *apa hubungannyaaaaa??* #dirajam smashblast

Pic Source:
1. Marty
2. Donkey
3 Madagascar
4. Up
5. Shrek
6. The Wild
7. How to Train your Dragon