Mission: Review Mission: Impossible Ghost Protocol

Mission: Impossible Ghost Protocol
Director : Brad Bird
Cast          : Tom Cruise, Jeremy Renner, Simon Pegg, Paula Patton
Rating      : 8/10 (IMDb), 95% (RotteTomatoes), 4/5 (siAnink)

Agen Ethan Hunt kembali menjalankan misi dalam satuan Impossible Mission Force (IMF), untuk menghentikan rencana seseorang dengan nama sandi Cobalt yang berniat menyerang Amerika dengan nuklir. Cobalt  meledakkan bom di Kremlin, Rusia, dan merekayasa agar peristiwa ini terlihat sebagai perbuatan Ethan dan timnya. Agar hubungan Amerika dan Rusia tak pecah, pemerintah Amerika kemudian menyangkal keberadaan IMF dan menyebut kelompok Ethan sebagai teroris. Artinya, Ghost Protocol terpaksa dijalankan.

Bergerak tanpa dukungan pemerintah, mampukah Ethan mencegah Cobalt meledakkan nuklir sekaligus membersihkan namanya?

*insert Mission Impossible’s iconic music score here*

***

Sejujurnya, aku punya tiga kekhawatiran yang muncul di menit-menit awal film ini diputar:

Kekhawatiran Pertama:
Tom Cruise yang bermain sebagai Ethan Hunt  muncul di awal film bermodalkan kaos singlet semata. Yang langsung terbersit di pikiran: Ya Tuhan, aku nggak bakal kuat kalo sepanjang film harus liat Masnya lari-larian pake baju minimalis begitu.
Men, Tom Cruise umurnya udah hampir kepala lima, bodi kebapakan (baca: mirip bapak-bapak) itu udah nggak gitu sedep dipandang mata.

Tapi. Lima menit kemudian Mas Tom langsung berpakaian lengkap yang berlanjut di sepanjang film . Pfiiuuhh… Lanjut ke…

Kekhawatiran kedua:
Ethan Hunt, pemeran utama yang menarik, karismatik, dan pandai akrobatik ini disandingkan dengan Mbak Jane yang sungguh sekseh, atraktif dan yang paling penting: sedang single dan galau karena baru ditinggal mati gacoannya ( yaelah bahasanyaaa!!).

Situasi ini memberikan kemungkinan yang besar adanya love line antara Ethan dan Jane.

Bukannya aku anti bumbu-bumbu cinta atau drama  dalam film action. Tapi drama dalam film action, apalagi drama percintaan, kalo nggak cantik ngaturnya bisa ngerusak ritme film.
Lihat aja Transformer Dark of The Moon yang feel film action-nya kacau balau gara-gara Shia LaBeouf dan Mbaknya (yang aku lupa namanya) sibuk ciam-cium, berantem, dan cemburu-cemburuan tiap 15 menit sekali.

TAPI, ternyata M:I Ghost Protocol cukup bebas dari ‘drama-drama-drama’. so… i’m good 😀

Kekhawatiran ketiga:
Aku nggak suka film action. Kemaren nonton pun karena… gratis 😀

Menurutku, diantara semua film fiksi, film action adalah genre yang paling banyak ngejejelin kebohongan.
Mana ada satu orang bisa menang ngelawan orang sekampung, ga tergores sedikitpun?

TAPI, ternyata aku bisa menikmati M:I Ghost Protocol, tuh. Kuncinya adalah, anggap aja si Ethan Hunt punya otot kawat tulang besi. Kebanting berkali-kali juga tahan mati.

Tapi selain itu, yang lebih penting adalah Ghost Protocol nggak menghadirkan aksi frontal satu orang vS satu batalyon yang sok heroik, tapi lebih kepada adu strategi. Meski begitu, film ini juga cocok buat yang pingin adrenalinnya naik,  karena unsur ketegangan juga dijalin rapat dalam plot cerita.

Salut buat sutradara Phillip Brad Bird yang berhasil mengatur jeda kapan penonton bisa ikut terhanyut aksi Ethan Hunt dan kapan bisa istirahat mengambil nafas barang sejenak, sehingga yang nonton nggak ngos-ngosan. Salut pada Pak Sutradara ini juga akhirnya kukuadratkan, karena ternyata ini adalah film live-action pertama arahannya. Film yang dia sutradarai sebelumnya? The Incredibles sama Ratatatouille!! Njomplang, man….

Setting film ini juga cukup rame, mulai dari Rusia, Dubai, sampai India. Bagian favoritku adalah sequence di bangunan tertinggi di dunia , Burj Khalifa di Dubai, karena menurutku ketegangan paling nendang ada disini.

Untuk cast, semuanya oke menurutku. Tapi kejutan besarnya (untukku) bukan pada Tom Cruise, si bintang utama, melainkan pemeran pembantu, dan bahkan bintang tamu yang cuma muncul sekitar 10 menit di film. Yang pertama adalah Simon Pegg!!! Gah, i love this dude.

Aku ga tau kalo dia ikut main sejak M:I 3, makanya aku cukup kaget (plus terhibur) karena penampilannya di Ghost Protocol beda jauh dengan aksinya sebagai opsir polisi teladan nan perfeksionis di Hot Fuzz.

Sgt. Nicholas Angel (Simon Pegg, Hot Fuzz)

Di sini dia bermain sebagai Benji, agen koplak yang menurutku sukses menjadi scene-stealer kapanpun dia muncul.

Ada juga Michael Nyqvist yang kali ini bermain jadi Cobalt, si tokoh antagonis. Aku baru nonton dia di trilogi Girl with Dragon Tattoo, so it’s nice to see him again. Walaupun disini dia irit banget ngomongnya.

Yang terakhir ada Mas-Mas India yang aku tahu mukanya, tapi nggak tau namanya (sampai buka IMDb).

Tapi aku yakin dia pernah berperan sebagai tokoh bernama Raj, Rajesh, Inspektur Vijay atau semacamya.

Mas-Mas yang ternyata bernama Anil Kapoor ini sebelumnya kukenal sebagai superhero yang romantis dan pandai menari dari tanah Hindustan. Tapi di film ini dia berperan sebagai milyarder playboy yang tengil! Kocak!!! 😀

Oh ya, karena aku sama sekali nggak pernah nonton M:I seri sebelumnya, jadi aku ga ngomongin perbandingan film ini dengan pendahulunya. (gaaaah, awalnya aja aku bahkan ga nyambung IMF itu apa. International Monetary Fund??).
Tapi ada satu hal yang aku suka dari M:I Ghost Protocol. They get rid of those corny numbers.
Mission: Impossible 5 terdengar sealiran dengan Cinta Fitri 5 atau Tersanjung 6, soalnya.

Menurutku M:I Ghost Protocol sudah oke untuk tontonan film action, hanya sayangnya CGI di film ini, seperti di adegan badai pasir misalnya, masih terasa kasar. Jadi terasa bohongan banget.
Selain itu penggunaan sosok Rusia sebagai tokoh antagonis terasa seperti lagu lama yang terlalu sering diulang. Bosan.
Untuk itu kukasih rating empat dari lima bintang deh.

Okehh, thanks for reading my review.

Btw this post will self-destruct in five seconds.

Pic Source:

Ghost Protocol
Sgt Nicholas Angel
Anil Kapoor

District 9: Semoga Masuk Nominasi Oscar. Amin

district-9-poster

Pertama-tama biar kujelaskan, bahwa sebenernya ada tiga alasan kenapa seharusnya aku NGGAK SUKA sama film ini:
1. Film ini adalah film action yang penuh muntahan peluru, cipratan darah, dan isi kepala yang berceceran kemana-mana
2. Aku ga terlalu suka film sci-fi. I don’t really need those CGIs as sugar eye.
3. Aku jarang banget bisa suka nonton film manusiaVs. Bukan manusia (Entah itu manusia versus ular, lintah, kecoa, semut atau  zombie)

Tapi khusus District 9…. Si Anink Cinta Film Ini!!!

***

Film ini dimulai dengan terdamparnya sebuah pesawat luar angkasa diatas langit kota Johannesburg, Afrika Selatan. Selama beberapa waktu pesawat itu hany diam tak bergerak, sehingga pemerintah setempat memutuskan mendobrak masuk pesawat tersebut.

Disana pemerintah menemukan kumpulan makhluk luar angkasa berbentuk serangga yang kelaparan dan kebingungan. Pemerintah lalu mengevakuasi makhluk-makhluk luar angkasa yang disebut ‘Prawn’ ini  ke sebuah tempat bernama ‘District 9’.

Udang (prawn) yang ini nggak enak dimakan
Udang (prawn) yang ini nggak enak dimakan

Setelah 20 tahun berlalu, District 9 berubah menjadi tempat kumuh yang dihuni jutaan Prawn. mengingat manusia juga butuh tempat tinggal, mereka kemudian menuntut untuk dapat menempati  lahan di District 9 tersebut. Pemerintah lalu memulai program relokasi alien dari District 9 ke District 10, dimana seorang petugas bernama Wikus Van De Merwe menjadi semacam koordinator lapangannya.

Dalam salah satu operasi pemindahan yang dilakukan di sebuah gubuk milik Prawn yang bernama Christopher, si Wikus yang punya tampasng PNS  lapuk ini tersemprot cairan hitam yang dimiliki oleh Christopher. Beberapa waktu kemudian kesehatan Wilbur memburuk sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit. Disana baru diketahui bahwa Wikus bermutasi menjadi Prawn.

Wikus kemudian menjadi buruan pemerintah. Tubuhnya yang bersimbiosis secara sempurna dengan DNA alien membuatnya mampu mengoperasikan senjata alien yang berkekuatan hebat.

Mengingat manusia dan sifat rakus yang dimilikinya, pemerintah kemudian berusaha menguasai senjata alien tersebut, dengan menjadikan Wikus dan Prawn sebagai kelinci percobaan. Singkat cerita, Wikus harus bersatu dengan Christopher untuk menyelamatkan hidupnya, serta menolong para Prawn yang ternyata… hanya ingin pulang ke rumah.

***

Satu hal yang langsung kusuka dari film ini adalah: tidak bersetting Amerika, dan ga menjadikan tokoh Amerika sebagai superheronya (walau di awal film tetap ada sedikit nuansa Amerika dengan munculnya pertanyaan : mengapa pesawat ini tidak muncul di New York, melainkan Johannesburg).

Hal kedua yang kusuka adalah ‘keberpihakan’ film ini, dimana manusia lebih dipandang sebagai tokoh antagonis.
Seperti yang sudah kusebut diatas, aku benci film-film yang menceritakan ‘perjuangan’ manusia (super-protagonis) melawan para makhluk non-manusia (uber-antagonis).

Di film Arachinofobia misalnya. Apa sih salah si labah-labah kalau dia kebetulan beracun banget, terbawa ke Amerika tanpa semau dia, dan membela diri dari orang-orang yang mau menginjaknya?
Atau apa salah si buaya raksasa (judul film aku lupa) kalau dia kelaperan dan kebetulan banyak manusia menetap di halaman belakang sarangnya??

Di District 9 kita mendapat cerita yang jauh berbeda dari biasanya. Si Prawn, walau tampangnya horor, dan berkekuatan besar, dia agak bodoh dan sedikit naif (kecuali Christopher).  Sedikit mirip tokoh Giant di Doraemon, mungkin.
Film ini banyak memperolok manusia atas segala kerakusan, ketidak-manusiawian, dan keegoisan mereka.
Nonton film ini membuatku sedikit merasa malu mengaku manusia.

Film ini juga bisa dibilang komplet. Ada  bagian dimana aku merasa ngilu dan horor melihat kuku tangan Wikus yang lepas satu per satu. Pingin nangis melihat hubungan antara Christopher dengan anaknya. Merasa deg-degan mengikuti aksi perangnya.
Bagian drama dan aksi dalam film ini juga nggak digarap berat sebelah. Pas lah kombinasinya. Cihuy-lah pokoknya.

Awal nonton film ini terus terang aku agak pusing, soalnya banyak gambar yang diambil dengan teknik handheld camera. Jadi berasa nonton bioskop diatas bajaj. Tapi walau pusing, teknik itu berhasil bikin film ini lebih hidup. Selain itu film ini juga banyak menggunakan point of view kamera CCTV. Kita jadi ngerasa menguntit si Wikus kemana-mana, dari meja kantor sampai ke dalam WC.
Yang juga istimewa dari film ini adalah gaya penceritaannya yang semi-dokumenter. Jadi ada bagian dalam film ini yang memperlihatkan orang-orang yang diinterview,  atau potongan-potongan berita, yang membuat kita makin ‘masuk’ ke dalem cerita.

Kalau ada kekurangan film ini, mungkin adalah endingnya yang agak mengganjal buatku. Ada pertanyaan-pertanyaan kenapa ini nggak begini aja sih?
Tapi kekurangan ini menurutku ketutup sama keseluruhan film ini.

Terakhir, kalau boleh ngasih saran buat yang mau nonton film ini, jangan sampe telat masuk bioskop. Soalnya ceritanya sudah digeber dari detik-detik awal film. Memang ritme penceritaan kemudian agak melambat, tapi kemudian tancap gas sampai akhir film.

Nonton District 9 menurut siAnink kaya masuk rumah hantu yang digosipin berhantu beneran. Deg-degan sepanjang jalan. Dan ketika melihat tulisan ‘PINTU KELUAR’ dan merasa sudah aman, tiba-tiba ada yang nepok dari belakang. Mbak-mbak. Kakinya nggak nginjek tanah.

***

Judul: District 9
Cast, Sutradara, Produser, dll: mending liat IMDb

Film ini Cocok Untuk:
1. Orang yang doyan film action/ sci-fi
2. Orang yang doyan film ‘ga biasa’
3. Orang yang doyan film-film bagus (haaa subyektif skaleee)

Film ini ga cocok buat:
1. Mereka yang fobia darah
2. Mereka yang cuma suka film komedi romantis
3. Mereka yang cuma suka a-perfect-happy-ending
4. Mereka yang cuma pengen liat cowok ganteng/ cewek seksi

Komentar Temen Nonton 1 (Inge): Ini film kok nggak ada indah-indahnya ya?
Komentar Temen Nonton 2 (Heni): Filmnya keren ci. SiAnink seneng banget tiap ada orang yang kepalanya meledak.