(Hampir) Diangkat dari Kisah Nyata

Sudah lama sebenarnya aku melihat sosok-sosok kelam ini dari sudut mataku.

artflow_201606120254

Mereka yang berpakaian licin, bertubuh wangi, dan rambut ditata rapi.
Tapi tak ada tanda-tanda kehidupan dalam sorot mata mereka.

artflow_201610242257

Tentu saja aku tak mengerti.
Bukankah kota yang berkilau ini adalah tempat kau menitipkan mimpi-mimpimu?

Di mana  mimpi-mimpi membuka mata dari tidur panjangnya dan melompat lincah di antara pucuk-pucuk pencakar langit Ibu Kota?

artflow_201702110914

Ah, betapa naifnya pikiran itu.
Ternyata aku terbalik. Justru kota ini yang mampu bertahan hidup berkat mimpi-mimpi kami.

artflow_201702170137

Dan tak butuh waktu lama untukku bertemu dengan dia.
Sosok yang sangat akrab, sekaligus begitu asing, tengah berbalik menatapku..

 

artflow_201702240155
Diselesaikan di Jakarta, 20 Februari 2017

==========================================================================

Ya, ini hampir diangkat dari kisah nyata. Karena sampai sekarang (semoga saja) aku belum sampai pada gambar nomor lima.

Tulisan (dan komik-komikan) ini bisa dibilang merangkum tiga tahun pertamaku di Jakarta. Selama rentang waktu ini juga, aku kepingin menulis tentang mas-mas ganteng dan mbak-mbak cantik berwajah layu yang tiap hari kulihat gencet-gencetan di atas busway yang penuh sesak.

Tapi… Siluman Sloth yang bersarang di otak membuatku menunda-nunda cerita ini sampai bertahun-tahun razz

Nah di akhir tahun 2015, aku baca cerpen Edy, temen seperjuangan di Tipikor dulu.
(Btw cerpennya Edy ada di sini. Baca ya!)
Reaksi pertama: Woaaah, kok bisaa… ini kita senasib po piye..

Setelah baca cerpen ini, aku merasa ‘terpanggil’ untuk menuntaskan cerita yang enggak pernah kuselesaikan itu.
Hanya saja…karena Siluman Sloth susah untuk dikalahkan, tulisan (dan komik-komikan) ini baru selesai setelah setahun lebih. Haha.

Ngomong-ngomong, apa memang orang kota punya semacam momen kontemplatif seperti ini waktu ngeliat cermin, ya?

Advertisements

Five Hundred Twenty Five Thousand Six Hundred Minutes

How do you measure a year?

In daylights, in sunsets?
In midnights, in cups of coffee?
In inches, in miles, in laughter, in strife?

In five hundred twenty five thousand six hundred minutes
How do you measure, a year in the life?

Love.
Menurut lagu Seasons of Love dari pertunjukan Rent ini,  jawabannya adalah…cinta.

Aku kebetulan lagi agak gak peduli masalah cinta-cintaan. Lagi pengen mikirin diri sendiri dulu.
Karena itu,  untuk pertanyaan di lagu ini,  jawabanku adalah: achievement.

Ada banyak definisi tentang pencapaian. Materi. Keluarga.  Anak. Materi. Jabatan. Materi.
(Ya,  materi kusebut berkali-kali karena ini yang paling biasa jadi patokan).
Versiku sendiri, sedekat apa diriku tahun ini dengan cita-citaku,  dibandingkan tahun lalu.

Cita-cita.
Rasanya agak menggelikan sebenarnya,  ngomongin cita-cita atau mimpi di umur segini. Kata-kata ini, rasanya,  lebih cocok ditinggal dalam sebuah buku diary berkertas harum,  tempat anak-anak SD bertukar biodata dengan teman sekelas.

Di umur segini, mimpi dan cita-cita digantikan dengan kata-kata yang lebih rasional: bagaimana menghadapi realita atau bagaimana menyiapkan masa depan.
Nanti setelah tua, saat anak-anakmu sudah mandiri dan kau punya waktu untuk dirimu sendiri,  baru kau boleh kembali bermimpi.  Hanya saja itu biasanya tidak lagi disebut mimpi,  tapi bucket list.

Lalu,  aku mau ke mana?
Aku, rasanya bisa ditebak, masih ingin mengejar cita-cita (men,  nulis ‘mengejar cita-cita’  aja bikin geli).
Idealnya,  tahun demi tahun,  ada pencapaian yang mendekatkanku dengan si cita-cita.
Tapi sepertinya sampai sekarang aku masih jalan di tempat.

Aku sendiri tentu nggak mau jadi korban film-film ‘inspiratif’ tentang orang-orang yang bisa mewujudkan semua mimpinya lewat kerja keras (plus sedikit keberuntungan) setelah berkorban segala macam.
Ini dunia nyata,  cuy.

Jadi aku sedang mencoba menyeimbangkan dua hal ini.  Cita-cita,  dan realita. Ujungnya adalah satu keputusan yang akhirnya final satu hari setelah 8 September.
Rasanya nano-nano. Dan tentu saja aku juga belum tahu keputusan ini akan membawaku ke mana saja.

Karena itu,  kumulai umur ini dengan Bismillah.

(Stasiun Palmerah, 08092015)

Musuh di Balik Tempurung Otak

Ada yang bilang kalau deja vu itu sama sekali bukan keajaiban kosmik, hanya otak kita yang lagi korslet. Satu rangkaian rangsang sensori yang harusnya ditaruh di laci berlabel ‘Memori Jangka Pendek’, malah dimasukkan dalam brangkas ‘Memori Jangka Panjang‘. Lalu kita tertipu, merasa ingat bahwa dulu (entah kapan tepatnya), pernah melakukan hal yang sama.

Atau mungkin juga ada yang pernah mengalami ini: ingin melakukan sesuatu di kamar, tapi begitu masuk ke sana, tiba-tiba kita nggak tahu apa yang mau kita kerjain? Katanya, itu karena ada ‘doorway effect’,  bahwa ada semacam alat penghapus memori yang kadang bekerja waktu kita melewati pintu.

Kadang aku lupa pengucapan/ penulisan suatu kata walau paham maknanya. Sering juga terjadi, baru semenit berkenalan, nama teman baru langsung lenyap dari ingatanku. Oh, dan aku ingat temenku di desk kesehatan pernah menulis tentang fenomena pikun yang makin sering menyerang usia muda.

Jadi yang mau kukatakan di balik tetek bengek ini adalah, betapa rapuh otak manusia. Sebuah tempat yang berbahaya untuk menyimpan ingatan.

Seperti tadi sore, aku mendapat ilham untuk menulis sesuatu yang rasa-rasanya bakal ciamik dan menggetarkan .
Sejam kemudian, aku benar-benar lupa mau menulis apa.

Maka, sebagai gantinya aku kemudian menulis sesuatu yang nggak jelas ini.

19 September 2014 malam, melaju di atas rel Jakarta-Jogja 😀

Pohon-Pohon yang Nasibnya Paling Sial

Menurutku pohon-pohon yang bernasib paling sial adalah mereka yang dibuat untuk jadi kertas tisu.

Bayangin, sejak dari benih mereka berjuang rebutan makanan sama rumput teki. Bertahun-tahun kemudian harap-harap cemas supaya nggak terserang hama atau habis dilalap kambing, sapi, atau herbivora brutal lainnya. Tambah tinggi, tambah gagah, tambah kencang juga angin yang berusaha menumbangkan.

Lalu ucluk-ucluk dateng manusia.
Tuhan Maha Bijaksana, Ia menihilkan volume suara makhluk-makhluk dari kingdom Plantae ini.
Kalo mereka bisa jejeritan waktu ‘dieksekusi’, nggak kebayang berapa banyak manusia yang menderita PTSD.

Lalu setelah dipermak di pabrik, menunggu laku di toko, dan sampai ke tangan manusia (lagi)… Akhirnya momen besar ini tiba juga. Mereka akhirnya berguna! Mereka dibutuhkan!
Kurang dari lima detik, demi menyeka hal-hal yang terlalu hina untuk tangan manusia, tamat sudah riwayat mereka.
Bertahun-tahun berjuang, ujungnya di tong sampah jua.

Beruntung, pohon nggak punya cita-cita dia mau jadi apa
Beruntung, pohon nggak seperti manusia, nggak pernah bertanya-tanya untuk apa mereka hidup di dunia

Jakarta, 22 Maret 2014.
Dalam kondisi tergeletak dengan flu berat, ditemani dua rol tisu, yang satu rol di antaranya sudah habis setengahnya. *Srooooooooot*

Kacamata Orang Dewasa*)

Dulu waktu tinggiku masih setengah tinggiku yang sekarang, dan umurku sekitar seperempat bilangan yang berhasil kukumpulkan sampai saat ini, ada satu hal yang selalu sukses bikin aku gedek (gedek dalam arti sebel, bukan robot gedek).

Setiap orang yang pernah jadi anak-anak pasti juga mengalami hal ini. Basa-basi om-tante yang lama tak kelihatan, dan sekalinya muncul selalu menyapa dengan kalimat template ‘waah..udah besar ya sekarang’.

Dulu otak anak-anakku biasa membalas (dalam hati tentu saja, demi menjaga nama baik Pak Iwan sekeluarga): Terus maunya apa? Menciut?

Kurang lebih dua puluh tahun kemudian, giliran aku yang mengucapkan kata-kata mutiara itu. Untuk ponakan. Sepupu kecil. Atau anak teman.
Memakai kacamata ‘orang dewasa’, baru kali itu aku sadar kalau kata-kata itu sebenarnya bukan ditujukan pada si anak, tapi lebih pada dialog dengan diri sendiri.

“Lihat, sekian waktu sudah berlalu.
X makan tak lagi perlu disuapi.
Y sudah bisa mengikat tali sepatu sendiri.
Z malah sepertinya sudah akil baligh.
Lalu apa yang berhasil kau capai belakangan ini?”

Well, mungkin ini cuma pikiranku saja yang kadang sok-sok memaknai hal yang sebenarnya nggak perlu lagi dimaknai dalam-dalam.

But this is my thought, and ‘she’ loves to give me a good slap from time to time. But then again, i think i’m getting numb.

image

*) Ini sebenernya postingan yang lama kesimpen dalam bentuk draft, baru sekarang dipublish. Kayaknya cocok dengan tema taun baru. Kayaknya lo.

Sumber gambar:
Dokumentasi Pribadi, instalasi ‘2b or not 2b’ dari Philips AB

Kenapa Harus Mengucapkan Selamat Ulang Tahun?

Apa karena di hari tersebut kita bisa mendoakan agar mereka yang ultah panjang umur?
Kurasa nggak. Macam Valentine (dan tergantung niat), hal ini bisa dilakukan tiap hari.

Mungkin,  ini ada kaitannya dengan eksistensi diri. Hari lahir adalah titik nol sebagai manusia.
Karena itu, ucapan selamat ulang tahun mungkin bisa diartikan sebagai perayaan atas keberadaan, katakanlah si-A misalnya, dalam hidup orang-orang di sekelilingnya.
Bahwa aku bersyukur bahwa kau telah lahir, datang ke hidupku, dan semoga banyak lagi tahun-tahun yang bisa  kita lewati ke depannya.

Ditambah lagi, ucapan ini pasti datang dari mereka yang ingat bahwa itu adalah hari spesial untuk seseorang.

Kalau ingatan bisa disamakan dengan pikiran, mungkin ini ada hubungannya dengan kata-kata Pakde Descartes (yang maknanya kupelintir seenak dewe).
Cogito Ergo Sum. I Think Therefore I Am. Aku Berpikir Maka Aku Ada.

Pelintiranku: Selama aku masih berpikir tentangmu, maka kamu ada di duniaku.

Jadi, kalau aku ingat tentang ulang tahunmu, maka kamu ada dalam ‘duniaku’.
Kamu cukup berarti untukku, sampai aku menyediakan ruangan khusus di otakku untuk mengingat hari dimana eksistensimu  bermula.
Kamu penting dan berarti untukku, hingga aku bisa membedakan satu hari milikmu dari 364 (atau 365)  hari lainnya dalam setahun.

Alasan inilah yang kupercaya. Yang selalu membuatku bungah saat menerima ucapan setiap 8 September.

Keyakinan ini kupegang selama bertahun-tahun. Sampai kemudian Facebook datang menghancurkannya, dengan notifikasi berhias kue ulang tahun mini yang mampir tiap hari. Tanpa permisi memberi tahu siapa saja yang ulang tahun hari ini.

 

il_570xN.456780819_2xrj

*PS : Potingan ini tidak bermaksud ngece orang yang inget ulang tahun karena Facebook. Aku sendiri nggak bakal inget ultah sekitar 70% orang-orang sekelilingku kalau bukan karena FB (yang sayangnya kubuka..3 hari sekali, mungkin. Jadi…entah sudah berapa ultah orang yang kelewat).

Gambar diambil disini

Time Itself is the Prankster That’s Playing Tricks On Us All*)

Hari ini**) aku menulis dua berita, dua-duanya dengan tanggal yang salah: 6 Juli 2012.
Sekali salah tulis mungkin wajar, tapi dua kali berturut-turut? Apakah ini gejala gagal move on?

Aku tahu ini sudah bulan Agustus, tapi kelihatannya kepalaku masih ketinggalan di bulan lalu. Dan parahnya, sampai tadi pagi aku masih merasakan mood ‘awal tahun’. Kukira ini masih semester pertama 2012.

Apah, sudah Agutus??!!!! *zoom in, zoom out*

Beberapa tahun belakangan ini aku merasa waktu berlalu makin terburu-buru.

Padahal aku ingat waktu masih berseragam merah-putih dulu, rasanya satu hari habis dengan lama… dan satu tahun terasa seperti selamanya.

Dan sekarang satu hari rasanya lewat saja hanya dengan menjentikkan jari.

Aku yakin bukan aku saja yang merasakan ini. Soalnya, selain memastikannya pada orang-orang lain (yang terlihat normal), aku juga pernah membaca bahwa ada penjelasan (yang kelihatannya) ilmiah mengenai hal ini.
(waktu itu tulisannya kubaca di sebuah artikel online. Aku masih nyari tautannya, begitu ketemu bakal kuposting disini)

Dan aku lumayan sepakat dengan teori ini.

Jadi orang yang membuat teori ini sepertinya  begitu pintar matematika, karena ia memaparkannya dengan penuh angka, berderet-deret hitungan, dan juga integral. Untung saja orang yang pintar matematika ini juga dikaruniai kebaikan hati, karena hitungan macam ras alien ini dilengkapi juga dengan penjelasan yang menjejak bumi.

Jadi pertanyaannya, mengapa satu tahun saat usiamu lima, terasa jauh lebih lama bila dibandingkan di usia 25?

Penjelasannya begini:
Saat kamu berumur lima tahun, waktu satu tahun setara dengan seperlima usia yang genap kamu jalani ketika itu. Bila dibuat diagram pie, maka satu tahun itu memiliki 1/5 atau 20 persen bagian dari satu lingkaran yang merepresentasikan seluruh umurmu.

Bandingkan dengan umur 25 tahun, yang mana satu tahun  itu adalah 1/25 bagian pie, atau sekitar 0,04 persen dari satu lingkaran.

Intinya, makin lama seseorang hidup, waktu satu tahun terasa makin nggak signifikan, dan ‘entengnya’ bisa berlalu begitu saja.

***

Sebenernya inti dari gerundelan nggak jelas ini adalah: gaaah, ini sudah mulai mengerikan .
Hidup bukan jam pasir yang bisa diukur berapa butir yang masih nyisa di atas. Aku cuma tau berapa banyak yang sudah meluncur ke bawah.

My time, your time, our time is running out.
Padahal, nggak ada yang mau berakhir dengan menggenggam rongsokkan berjudul cita-cita.

060812

 

*) Judul ini kuambil dari kutipan milik WontThinkStraight, penulis nosleep di Reddit yang tulisannya keren2 (tulisannya soal cerita horor, btw). Tulisannya yang mencantumkan kalimat ini bisa dilihat disini

**) Ini kutulis tanggal 6 Agustus, tapi baru kupublish empat hari kemudian. ehehe… ehe… eheheheee…