(Hampir) Diangkat dari Kisah Nyata

Sudah lama sebenarnya aku melihat sosok-sosok kelam ini dari sudut mataku.

artflow_201606120254

Mereka yang berpakaian licin, bertubuh wangi, dan rambut ditata rapi.
Tapi tak ada tanda-tanda kehidupan dalam sorot mata mereka.

artflow_201610242257

Tentu saja aku tak mengerti.
Bukankah kota yang berkilau ini adalah tempat kau menitipkan mimpi-mimpimu?

Di mana  mimpi-mimpi membuka mata dari tidur panjangnya dan melompat lincah di antara pucuk-pucuk pencakar langit Ibu Kota?

artflow_201702110914

Ah, betapa naifnya pikiran itu.
Ternyata aku terbalik. Justru kota ini yang mampu bertahan hidup berkat mimpi-mimpi kami.

artflow_201702170137

Dan tak butuh waktu lama untukku bertemu dengan dia.
Sosok yang sangat akrab, sekaligus begitu asing, tengah berbalik menatapku..

 

artflow_201702240155
Diselesaikan di Jakarta, 20 Februari 2017

==========================================================================

Ya, ini hampir diangkat dari kisah nyata. Karena sampai sekarang (semoga saja) aku belum sampai pada gambar nomor lima.

Tulisan (dan komik-komikan) ini bisa dibilang merangkum tiga tahun pertamaku di Jakarta. Selama rentang waktu ini juga, aku kepingin menulis tentang mas-mas ganteng dan mbak-mbak cantik berwajah layu yang tiap hari kulihat gencet-gencetan di atas busway yang penuh sesak.

Tapi… Siluman Sloth yang bersarang di otak membuatku menunda-nunda cerita ini sampai bertahun-tahun razz

Nah di akhir tahun 2015, aku baca cerpen Edy, temen seperjuangan di Tipikor dulu.
(Btw cerpennya Edy ada di sini. Baca ya!)
Reaksi pertama: Woaaah, kok bisaa… ini kita senasib po piye..

Setelah baca cerpen ini, aku merasa ‘terpanggil’ untuk menuntaskan cerita yang enggak pernah kuselesaikan itu.
Hanya saja…karena Siluman Sloth susah untuk dikalahkan, tulisan (dan komik-komikan) ini baru selesai setelah setahun lebih. Haha.

Ngomong-ngomong, apa memang orang kota punya semacam momen kontemplatif seperti ini waktu ngeliat cermin, ya?

Advertisements

Saat Senang, yang Satu Mengibaskan Ekor dan yang Lain Menggoyangkan Lemak di Perutnya

Sea Dog and Land Dog copy

“Tapi aku juga anjing!”

“Jadi kita berdua sama-sama anjing?”

“…”

“…”

“Jangan-jangan…kamu itu yang mereka sebut anjing laut, ya? Semacam anjing, tapi di laut?”

“Ah! Aku juga pernah mendengar legenda anjing darat. Alih-alih berenang, mereka malah berlarian di atas tanah. Itu kamu?”

“Mungkin benar!”

“Wah!”

“…”

“…”

“Kalau ada anjing di darat dan di laut, menurutmu…apa ada juga anjing yang tinggal di langit?”

“Kurasa…ada.”

“Bisa terbang?”

“Ya!”

“Punya sayap?”

“Pastinya!”

“Wow”

***

P.S: Postingan ini muncul gara-gara Twit+Vine Lucu ini

 

Perempuan Berwajah Layu

Bila ada seseorang bertanya, apa perubahan yang terjadi padanya sejak 365 hari lalu, maka perempuan berwajah layu ini akan menggeleng. Tidak ada yang berubah dalam waktu yang telah dilewatinya selama itu.

Jika digambar dalam sebuah bagan, maka kesehariannya akan berbentuk anak panah yang menunjuk satu panah di depannya, yang menunjuk anak panah lainnya lagi, lalu kembali ke panah asal. Membentuk siklus berwujud satu lingkaran sempurna.

Rutinitas. Ia terjebak di dalamnya.

Tapi, entahlah. Mungkin juga saat ini ia dengan suka rela berada dalam jebakan tersebut.
Karena seluruh rutinitas dalam hari-harinya, sekecil apa pun itu, telah menjadi ritual yang memberinya rasa aman yang menenangkan.

Misalnya toilet di lantai empat gedung kantor, yang selalu ia kunjungi pukul empat sore. Satu sudut yang paling jarang dikunjungi orang di tempat ini. Biasanya ia duduk saja di atas dudukan toilet. Meski sebentar, ada damai saat ia mendengarkan suara tetesan air dari keran yang sudah longgar, sambil menunggu menit-menit berlalu.

Atau lift tua favoritnya di sayap kiri kantor, satu-satunya lift yang ia gunakan di gedung ini. Alasannya, lift ini selalu berderit-derit saat mendaki atau menuruni satu lantai ke lantai lain. Suara ini, menjadi satu-satunya penghiburan untuknya dalam perjalanan dalam lift. Melupakan kesedihan akibat keengganan orang-orang untuk beradu pandang dengannya, meski mereka tengah bersama dalam satu ruang sempit.

Deritan lift itu adalah satu dari sekian bunyi kegemarannya, bebunyian yang menggelitiki telinganya. Di luar itu, dia juga suka dengan bunyi kapur yang menggesek papan tulis, atau suara keyboard komputer yang dipencet dengan penuh semangat.
Sayangnya, ia tak pernah memegang kapur sejak lepas dari sekolah dasar.
Sementara orang-orang kantor ini selalu merasa terganggu bila ia bertingkah dengan keyboard komputer.

Oh, ngomong-ngomong, seluruh rutinitasnya selalu berakhir pada pukul 23:27.

Seperti hari-hari yang lalu, ia naik ke atap gedung, dan berdiri di dinding pembatas. Memandang ke arah horizon, juga permukaan tanah yang jauh dari tempatnya berpijak.
Menikmati setiap hembusan angin malam yang membelai rambut panjangnya.

Lalu, seperti malam-malam sebelumnya, ia melompat.

Dan seperti kemarin dan kemarinnya lagi, yang terakhir ia dengar adalah bunyi berderak dari tengkoraknya yang menghantam tanah.

***

10062015. Mood: Nonton film horor, yuk.

A King and His Iron Throne

1

 

 

 

2

 

3-1

 

4

 

5

 

6

 

7

 

8

 

9

 

10

 

11

 

12

 

 

13

 

14

 

15

 

16

 

17

 

 

18

 

19

 

 

P.S:

Ahahaaa… the heck is this?

Entahlah, iseng-iseng ngelemesin tangan yang lama gak megang si wacom dan ternyata orak-orek gini aja selesainya dua mingguan -_-;
Terima kasih untuk Panic! At The Disco yang lagu Always-nya jadi ide cerita yang entah-apa ini.
And please excuse my rusty English.

Toodle-oo!!

 

ladybug

Misni Melawan Bapaknya

Misni mengintip dari lubang kunci. Bapak masih disana. Ruang sempit itu diselimuti asap kemenyan yang kian menebal. Seperti malam-malam sebelumnya, Misni selalu ragu Bapak dapat tetap bernafas didalam sana. Dan seperti malam-malam sebelumnya, Misni selalu keheranan dengan kemampuan Bapak bertahan di kamar itu.

Kamar sempit itu selalu membawa misteri bagi Misni. Sejak setahun yang lalu, kamar yang dulu menjadi ruang tidurnya dialihfungsikan secara sepihak oleh Bapak. Suatu sore Misni mendapati kasur tempatnya berbaring tiap malam dan lemari kainnya sudah dikeluarkan dari kamar dan dipindahkan ke kamar depan. Dan sejak itu pula Misni tidur berdua dengan Emak. Bapak tiap selesai makan malam langsung mendekam di kamar itu. Semalaman.

Tapi terkadang Bapak tidur di kamar bersama Emak. Dan kalau sudah begitu, Misni akan diusir keluar kamar dan tidur di ruang tamu, ditemani selembar selimut lusuh. Biasanya saat menggigil di atas tikar pandan tua sebagai alas tidurnya, Misni berpikir apa salahnya sehingga ia harus tidur sendirian, kedinginan sedang Bapak dan Emak berada dalam selimut tebal didalam.

Misni masih mengintip kekamar itu. Walau ruang pandangnya terbatas, ia masih bisa melihat setengah punggung Bapak yang menghadap sebuah patung batu bertaring yang sedang nyengir lebar. Misni membekap mulutnya kuat-kuat.”Hi…jelek banget!” bisiknya disela tawanya yang tertahan.

***

Wah…pintu kamar rahasia itu terbuka sedikit. Tumben kamar ini lupa Bapak kunci. Kalau gini kan bisa lihat si-Patung Nyengir itu lebih jelas! Nah, itu dia! Si Patung Nyengir! Si Patung masih nyengir,  tapi kok kalau keliatan seluruh badan malah lebih juelek dari yang kemarin kulihat, ya?

“Mau apa kamu?” Suara Bapak! Mati aku! Kuputar kepalaku. Waduh, Bapak melotot!

“Misni…Misni mau lihat itu, Pak,” tunjukku ke arah si Patung Nyengir. Mata Bapak tambah melotot. Untung Bapak hari ini ndak pake gesper!

“Anak kurang ajar kamu! Edan! Turunin! Turunin tanganmu! Kualat kamu! Besok-besok, jangan ngintip kamar ini lagi! Atau mau tak hajar, hah! Kamu ndak ada perlunya sama kamar ini! Kamu itu cuma anak perempuan! Yang punya urusan sama kamar ini, cuma adikmu, cah lanang! Kamu ndak ada urusan! Sudah, sana pergi! Bantu emakmu di dapur!”

Leherku sakit. Ndak berani aku lihat muka Bapak. Makanya dari tadi aku menunduk . Di dapur baru aku berani mengangkat kepala. Emak memandangi aku. Aku memandangi perut Emak. Perutnya genduut sekali. Emak hamil. Persis perutnya si Ireng-kambingnya Pak Agus yang paling gede-yang lagi bunting. Disitu ada adik bayiku. Kata Bapak laki-laki. Darimana Bapak tahu aku juga ndak tahu.

Nah…adikku itu disayang sama Bapak. Bapak lebih sayang sama adik bayi yang belum lahir itu daripada aku yang sudah lahir dari dulu. Katanya aku ndak berguna, soalnya aku perempuan. Kata Bapak, nanti kalau adikku yang laki-laki ini sudah gede, dia bakal diajarin ilmunya Bapak. Aku ndak diajarin, soalnya aku perempuan. Padahal aku juga mau diajarin ilmunya Bapak. Bapak kan hebat. Kalau ndak hebat kenapa banyak orang-orang yang datang kesini, minta tolong sama Bapak. Bapakku orang hebat.

“Misni, ngapain kamu bengong disitu? Tuh, kasih makan ayamnya dulu! Terus telor ayamya disimpan. Jangan sampai pecah! Kemarin kamu mecahin dua kan? Makanya hati-hati!”

Kuturuti perintah Emak. Kuambil nasi-nasi sisa yang ditaruh Emak di waskom kecil. Kulirik Emak sedikit.

“Mak, nanti sore Misni mau ke mas…”

“Iya, iya. Terserah kamu pergi ke mana. Asal pulangnya jangan kemaleman. Kamu itu kalau dirumah bikin ribut sama bapakmu saja. Sudah, cepet sana kasih makan ayam!”

Kumajukan bibirku. Ah, ndak Bapak ndak Emak sama saja!

***

Kaki Misni geli menginjak lantai masjid yang dingin. Dia memilih duduk di dekat tiang masjid agar bisa menyandarkan punggungnya. Ditarik-tariknya ujung roknya agar sedikit lebih menutupi lututnya yang koreng. Anak-anak perempuan disini memakai pakaian yang tertutup rapi, dan memakai kerudung.

Asih, teman sepermainannyalah yang mengajaknya pergi ke masjid. Katanya hari ini akan dibacakan cerita tentang Nabi Ibrahim. Sebetulnya Misni  bertanya-tanya, siapa itu Nabi Ibrahim? Pertanyaan tentang nabi-nabi makin memusingkan bagi Misni ketika ia tahu ternyata para nabi itu berasal dari agamanya, Islam.

Selama ini ia memang mengetahui bahwa ia beragama Islam, seperti yang tertulis dalam raport SD-nya. Tapi ia tak pernah mengenal ‘Nabi Muhamat’, ‘Nabi Suleman’ dan para nabi yang lain. Guru agama sekolahnya yang memegang enam kelas untuk pelajaran agama baru masuk sekali, itupun hanya untuk perkenalan diri.

“Assalammualaikum warahmatullah hi wabarakatuh,” seorang perempuan berjilbab kaos lebar memberi salam pada anak-anak didalam masjid.

Misni terkejut setengah mati ketika semua anak menjawab salam tersebut hingga urat-urat lehernya muncul. Perempuan tadi melirik kearah Misni. Misni salah tingkah, ia mengira bajunyalah yang menarik perhatian perempuan berwajah teduh itu.

“Baik, anak-anak. Minggu lalu Ibu berjanji bercerita tentang siapa?”

“Nabi Ibrahiimmm!!!” Misni merasa dirinya telah terbiasa dengan volume suara setinggi itu. Bahkan, ia ikut menjawab pertanyaan ibu guru itu walau dengan malu-malu.

“Ya, pintar. Nah, sebelum Ibu membacakan cerita ini untuk kalian, Ibu minta kalian duduk yang rapi, ya. Ahmad! Jangan mengganggu Titin! Ayo, duduk yang rapi!”

***

Setiap tahun, penduduk Babilon merayakan satu hari besar mereka. Pada hari itu mereka tidak bekerja, hanya bersenang-senang dan berpesta pora di luar kota, termasuk Raja Namrud. Ketika hari itu tiba, Nabi Ibrahim tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh penduduk. Ia tetap tinggal didalam kota.

Setelah kota benar-benar sunyi, Nabi Ibrahim mendatangi rumah pemujaan penduduk Babilon. Dipandanginya semua berhala yang disembah penduduk kota. Lalu dengan menyebut asma Allah ia menghancurkan berhala-berhala itu, kecuali berhala yang paling besar. Ia lalu menggantungkan kapaknya pada leher berhala itu.

Penduduk kota Babilon gempar dengan kejadian itu. Setelah diadakan penyelidikan, mereka berkesimpulan Ibrahim, anak Aazhar si-Pembuat Berhalalah yang melakukan semua ini. Merekapun menyeret Nabi Ibrahim kehadapan penguasa.

“Engkaukah Ibrahim, yang telah merusak Tuhan-Tuhan kami?” tanya para penguasa.

“Benar, saya Ibrahim. Tapi patung terbesarlah yang telah menghancurkan patung yang lainnya. Lihatlah, bukankah ia menyandang kapak di lehernya? Tanyakanlah padanya!”

“Bodoh benar kau Ibrahim! Mana mungkin kami menanyakan hal ini kepadanya. Bukankah ia patung yang terbuat dari kayu dan batu dan ia tak dapat berbicara?”

Ibrahim tersenyum pada semua yang hadir. ”Bila kalian sudah mengetahui patung itu itu tak dapat berbicara, bergerak, melihat dan mendengar, mengapa kalian masih memujanya? Bila kalian sudah paham bahwa patung-patung itu tak dapat menolong diri mereka sendiri, pantaskah kalian menggantungkan diri kalian pada mereka? Mengapa kalian tidak menyembah Tuhanku Allah, Yang Maha Besar. Yang menciptakan langit dan seisi bumi ?”

***

Kulongokkan kepala kedalam masjid. Bu guru itu sedang bersiap pulang. Kuhampiri Ibu itu. Sepertinya ia agak kaget melihatku.

“Namamu Misni, ya? Ibu baru pertama kali ini melihatmu”

“Iya Bu. Misni jarang main kesini. Kata Emak terlalu jauh. Nanti pulangnya bisa kesorean. Ehm…Bu, Misni mau nanya. Boleh  ndak?”

“Ibu malah senang sekali kalau Misni mau bertanya. Nah, Misni mau nanya apa?”

“Itu, Bu. Tadi Ibu kan cerita tentang berhala. Berhala itu apa sih, Bu?

“Berhala itu adalah apa saja yang disembah manusia untuk menyekutukan Allah.”

“Menyekutukan?”

“Iya, menyekutukan Allah artinya menyembah selain Allah.”

“Berhala itu kayak gimana?”

“Kalau berhala zaman dahulu, biasanya berbentuk patung. Lalu orang yang menyembah berhala itu meminta rezeki, perlindungan dan kekuatan pada berhala-berhala itu. Orang yang menyembah berhala itu juga memberikan sesaji pada berhala yang mereka sembah. Supaya berhala itu tidak marah.”

Aku terdiam sejenak. Teringat sesuatu…

“Patung berhala itu nyengir ndak?”

Ibu Guru agak terkejut mendengar pertanyaanku.

“Mungkin ada ya, yang nyengir. Tapi kenapa kamu tanya tentang itu?”

Aku nyengir saja mendengar perkataan Bu Guru.

***

Si-Patung Nyengir masih berdiri disana. Rumah malam ini sedang kosong. Emak kondangan. Pulangnya masih lama. Bapak sudah dari kemarin ndak pulang. Kata Emak Bapak lagi tirakat. Biasanya kalau tirakat Bapak pergi sampai seminggu. Jadi…aman!

Ditanganku sudah tergenggam sepotong kayu yang lumayan besar. Kuputar pegangan pintu. Semoga pintunya ndak dikunci! Klik! Yes! Pintunya ndak dikunci! Kulangkahkan kakiku kedalam kamar. Sisa-sisa bau kemenyan masih tercium. Hih, tempat ini  kok nyeremin banget, ya?  Itu tengkorak beneran atau cuma pajangan? Kulirik si-Patung Nyengir. Dibawah kakinya tersusun bunga-bungaan, yang disela-selanya ada noda darah dan bulu-bulu ayam berwarna hitam.

Ha! Itu pasti Keti! Ayam piaraan yang kemarin lusa Bapak ambil dari kandangnya lalu dibawa masuk kekamar ini. Dan  setelah itu aku tidak pernah melihat Keti dibawa keluar kamar lagi. Keti pasti disembelih Bapak. Dan, apa si Keti disembelih cuma  untuk patung ini? Dasar patung jelek! Aku yang puya ayam saja jarang banget makan ayam kalau bukan hari raya!

Kugenggam kayu itu makin erat. Bismillahirohmannirohim.

***

Lelaki paruh baya itu membelalakkan mata demi melihat ruangan yang hancur berantakan itu. Benda-benda yang terbuat dari tanah liat pecah semua, Bunga sesajian berserakkan, bahkan lemari tempatnya menyimpan benda-benda keramatpun terbalik, isinya tumpah kemana-mana, bahkan banyak yang penyok dan tak berbentuk lagi.

Darahnya menggelegak. Bergegas ia menuju dapur. Ditariknya tangan istrinya yang sedang hamil tua, dan tangannya yang satu lagi menyeret Misni, anak perempuan satu-satunya. Dihempaskannya mereka berdua didepan pintu kamar.

“Siapa yang telah melakukan ini?” teriaknya.

“Saya tidak tahu, Kang,” Istrinya melihat kamar itu dan suaminya secara bergantian. Ketakutan tergambar dengan jelas dimatanya.

Misni dengan tenang berdiri dan menatap mata Bapaknya. “Coba saja Bapak tanya pada patung itu. Coba saja Bapak lihat. Dilehernya ada kayu, kan? Pasti dia pelakunya,” dengan tenang ia merangkai kata. Telunjuknya mengarah pada patung yang terbuat dari batu itu. Patung itulah satu-satunya benda yang masih terlihat utuh diruangan itu. Patung itu berdiri tegak dengan  balok kayu dilehernya.

“Anak kurang ajar, kamu!” sebuah bogem menghajar pipi kiri Misni dengan telak, disambung dengan tamparan yang keras di pipi kanannya. Misni jatuh tersungkur. Emaknya berteriak, tapi tak bisa berbuat apa-apa, sementara itu Misni mencoba bangkit lagi. Wajah mungilnya kembali dihajar jemari penuh dengan cincin besar berbatu akik. Kali ini Misni roboh. Badannya tak punya kemampuan untuk bangkit lagi. Bibirnya mengulas sebuah senyum.

***

Allah Maha Besar. Api itu dingin bagi Ibrahim, meski api itu menghanguskan kayu bakar disekelilingnya. Setelah api padam, Ibrahim keluar dari tumpukan abu tanpa cedera sedikitpun. Bahkan rambut dan pakaian yang dikenakannyapun luput dari kobaran api.

“Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim selain mengatakan: ”Bunuhlah atau bakarlah dia,” lalu Allah menyelamatkannya dari ap.sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman”*

***

Aku langsung terjatuh saat Bapak memukulku pertama kali. Tapi sebelum aku menyentuh tanah Bapak sudah menyambungnya dengan tamparan. Sepertinya lidahku tergigit saat Bapak menamparku. Lidahku terasa asin. Kuludahkan isi mulutku. Merah.

Emak menjerit-jerit. Tapi Emak cuma meringkuk dibelakang dinding. Aku pusing. Bapak menghajarku lagi waktu aku mencoba bangun. Leher belakangku langsung kesemutan begitu Bapak memukulku. Tahu-tahu semuanya mati rasa. Bapak masih terus memukulku, Tapi tak berasa apa-apa.

Tubuhku jadi ringan. Lalu gelap.

*) Al ‘Ankabuut: 24

*)  Tulisan puanjang dan rada bertele-tele ini bertanggal 13 Agustus 2004. Entah bikin tulisan ini untuk apa, tumben begitu syar’i, hahaaa.

Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Kasih ibu…
Mengejan sekali lagi.
Sebongkah daging mendesak selangkangnya.
Panas.
Sekarat.
Darah muncrat.

Kepada beta…
Izrail berjongkok didekatnya. Menunggu.

 Tak terkira, sepanjang masa…
Dia melolong
Jeroannya serasa tercerabut dari tempatnya.
Bayi lelaki merah menangis keras
-pertama kali menunjukkan eksistensinya didunia ini-

Hanya memberi
Ditatapnya lama…

Tak harap kembali
 Lalu didekapnya. Erat. Erat. Erat sekali.

Bagai sang surya menyinari dunia
Lalu dibuang di sumur tetangga.

-Jogja.15.10.05-

*) Aaah.. aku ingat, setelah kelar menulis ini aku semacam sadar kalau aku tak cocok berpuisi.

Maling Sandal

Ya Allah, hamba tahu hamba telah berdosa karena meninggalkan panggilanMu untuk menunaikan shalat Jum’at  dan karena hamba telah mengambil apa yang bukan hak hamba. Ya Allah, timpakanlah dosa seberat apa yang telah hamba perbuat. Tetapi ya Allah, hamba mohon dengan amat sangat, berikanlah rizki-Mu atas pemilik barang ini, Ya Allah. Dan Ya Allah, hamba mohon agar anak hamba segera sembuh setelah hamba  membawanya ke dokter. Amin.

***

            Basri menatap orang-orang yang berlalu meninggalkan masjid. Dia berharap dapat menemukan alas kakinya yang sejak tadi tidak nampak. Siapa tahu sepatunya tertindih sandal-sandal yang lain.

Masjid sudah sepi sekarang. Basri termangu. Perasaan tadi kutaruh disini, batinnya. Kini di pelataran masjid hanya ada beberapa pasang sandal jepit, dan bukan itu yang dicari oleh Basri. Sepatu cokelatnya yang masih bau toko, kini raib entah kemana. Basri duduk termenung di pelataran masjid. Bibirnya mengeluarkan makian pada si maling dari yang ’terhalus’ sampai yang paling kasar. Sumpah serapah atas ketidakselamatan si maling pun terus menerus dilontarkannnya.

Basri menghembuskan nafasnya keras-keras, mengusir kekecewaan yang menggelayutinya. Basri memandang jam di dinding masjid. Jam satu lewat sepuluh. Jam setengah dua nanti seharusnya ia ada wawancara. Kini harapannya untuk memperoleh pekerjaan walaupun hanya sebagai sopir taksi, kandas sudah. Ia tak akan tiba tepat waktu di tempat wawancara. Meskipun ia bisa datang, ia tak mungkin datang kesana tanpa alas kaki. Basri melawan air mata yang terus mendesak keluar. Kata emaknya, lelaki pantang menangis.

Basri melihat sekelilingnya. Di masjid hanya ada beberapa orang pengurus masjid yang sedang menghitung recehan dari kotak amal. Di depan  gerbang masjid, seorang tukang siomay sedang melayani pelanggannya. Tak jauh dari tukang siomay itu, seorang bapak setengah baya tampak frustasi mengotak-ngatik mesin mobilnya. Lengan kemeja putihnya disingsingkan sampai kesiku. Peluh sebesar biji jagung membasahi wajahnya. Sebentar-sebentar ia melirik arloji dipergelangan tangannya.

Basri mendekati Bapak itu, “Ada yang bisa saya bantu?”

Bapak itu menatpa Basri dengan pandangan sangat-butuh-pertolongan. “Mobil saya tidak bisa distarter,”ujarnya lirih.

“Biar saya lihat,” Basri menggeser posisi Bapak tadi. Tangannya sibuk mencari-cari kerusakan pada mobil Bapak itu.

“Adik kerja dimana”

Basri kembali mengingat peristiwa siang ini. Kekesalannya kembali membuncah. Basri lalu menceritakan semua yang dialaminya pada Bapak itu. “Yah…memang kalau sudah nasib mau bagaimana lagi,” ujarnya menutup ceritanya. Keheningan membekukan mereka berdua.

“Adik kelihatannya terampil sekali memperbaiki mobil,” Si Bapak memecah kebisuan di antara mereka.

“Dulu, sebelum merantau ke kota ini, saya pernah bekerja di bengkel mobil. Karena ada teman yang mengajak ke kota, saya ikut saja. Ternyata…yah, beginilah. Uang sudah habis, tapi malu kalau balik ke desa”

‘Adik asalnya dari mana?”

‘Dari S, desa D. Tapi saya jadi montir di kota M. Desa saya tempatnya agak  dipelosok. Maklumlah kalau Bapak tidak pernah mendengar nama desa D”.

“Desa D? wah…adik ternyata satu kampung dengan saya. Wah…tidak menyangka! Jarang sekali saya bertemu teman sekampung dikota ini. Kebetulan sekali. Ha..ha..ha.. Oh ya, kamu kenal Mbah Botol?”

‘Oh…saya pernah mendengar Mbah Botol. Tapi orangnya sudah dua tahun yang lalu meninggal..”

“Innalillah…baginilah kalau tidak pernah pulang kampung lagi. Maklum, orang tua  sudah lama tidak ada. Saudara-saudara sudah terpencar semua. Oh, ya…”

Pembicaraan mereka terus berlanjut. Basri telah melupakan sepatunya yang kini telah dijual dengan sepertiga harga aslinya. Jam masjid menunjukkan pukul setengah dua.

***

Basri membukakan pintu mobil untuk tuannya. Berdua mereka kemudian berjalan beriringan menuju masjid tempat mereka bertemu sebulan yang lalu. Selesai shalat Jum’at, belum sempat mereka berdiri, dari arah pojok masjid terdengar teriakan,”Maling sandaaal…!!’

Serentak seluruh kepala menoleh kearah datangnya suara. Beberapa pemuda segera mengejar sosok yang menenteng sepasang sandal bermerk. Teriakan-teriakan liar keluar dari bibir mereka.

Tak lama kemudian mereka berhasil menyergap sosok kerempeng berkulit hitam, sang pencuri sandal. Pukulan, tendangan dan cacian, dilayangkan pada tubuh lelaki itu.

“Maaf, Mas. Anak saya sakit…saya butuh uang…,”sosok hitam itu mengiba disela-sela erangannya. Bibir atasnya  pecah, wajahnya sudah tak berbentuk lagi.

‘Alasan! Mana ada maling ngaku maling! Kamu kira kami percaya, hah!” seorang pemuda gondrong menendang perut lelaki itu. Kembali massa menghakimi tubuh ringkih itu. Si maling sandal berusaha menyebut asma Allah disela-sela pukulan yang mendarat ditubuhnya.

Basri mengamankan tuannya, menjauhi kerumunan itu.  Segera mereka menuju mobil dan pergi meninggalkan masjid itu.

Lelaki kerempeng itu menangis dalam diam. Ia teringat anaknya yang sedang terbaring di kasurnya yang tipis, menunggu sang maut yang segera menjemputnya.

 

*) Cerpen ini bertanggal 19 November 2005. Tulisan ini sungguh merupakan bukti bahwa aku payah dalam hal geografi, atau bahkan sekadar mengarang nama tempat 😀 (Desa D? Kota M? Apa itu??)