Five Hundred Twenty Five Thousand Six Hundred Minutes

How do you measure a year?

In daylights, in sunsets?
In midnights, in cups of coffee?
In inches, in miles, in laughter, in strife?

In five hundred twenty five thousand six hundred minutes
How do you measure, a year in the life?

Love.
Menurut lagu Seasons of Love dari pertunjukan Rent ini,  jawabannya adalah…cinta.

Aku kebetulan lagi agak gak peduli masalah cinta-cintaan. Lagi pengen mikirin diri sendiri dulu.
Karena itu,  untuk pertanyaan di lagu ini,  jawabanku adalah: achievement.

Ada banyak definisi tentang pencapaian. Materi. Keluarga.  Anak. Materi. Jabatan. Materi.
(Ya,  materi kusebut berkali-kali karena ini yang paling biasa jadi patokan).
Versiku sendiri, sedekat apa diriku tahun ini dengan cita-citaku,  dibandingkan tahun lalu.

Cita-cita.
Rasanya agak menggelikan sebenarnya,  ngomongin cita-cita atau mimpi di umur segini. Kata-kata ini, rasanya,  lebih cocok ditinggal dalam sebuah buku diary berkertas harum,  tempat anak-anak SD bertukar biodata dengan teman sekelas.

Di umur segini, mimpi dan cita-cita digantikan dengan kata-kata yang lebih rasional: bagaimana menghadapi realita atau bagaimana menyiapkan masa depan.
Nanti setelah tua, saat anak-anakmu sudah mandiri dan kau punya waktu untuk dirimu sendiri,  baru kau boleh kembali bermimpi.  Hanya saja itu biasanya tidak lagi disebut mimpi,  tapi bucket list.

Lalu,  aku mau ke mana?
Aku, rasanya bisa ditebak, masih ingin mengejar cita-cita (men,  nulis ‘mengejar cita-cita’  aja bikin geli).
Idealnya,  tahun demi tahun,  ada pencapaian yang mendekatkanku dengan si cita-cita.
Tapi sepertinya sampai sekarang aku masih jalan di tempat.

Aku sendiri tentu nggak mau jadi korban film-film ‘inspiratif’ tentang orang-orang yang bisa mewujudkan semua mimpinya lewat kerja keras (plus sedikit keberuntungan) setelah berkorban segala macam.
Ini dunia nyata,  cuy.

Jadi aku sedang mencoba menyeimbangkan dua hal ini.  Cita-cita,  dan realita. Ujungnya adalah satu keputusan yang akhirnya final satu hari setelah 8 September.
Rasanya nano-nano. Dan tentu saja aku juga belum tahu keputusan ini akan membawaku ke mana saja.

Karena itu,  kumulai umur ini dengan Bismillah.

(Stasiun Palmerah, 08092015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s