Gitar Kesepian

Mudik ke rumah orang tua di Solo minggu ini, aku nemu seonggok bungkusan lumayan gede di pojokan ruang solat. Didorong naluri pemulung yang nggak bisa liat barang nganggur, pelan-pelan kubuka bungkusan berdebu itu.

Ternyata isinya adalah ‘artefak’, sebuah benda purbakala berbentuk gitar Yamaha C310. Gitar ini, adalah alasan kenapa sampai sekarang aku nggak bisa main gitar.
20150130_170615
Jadi ceritanya, siAnink versi seragam putih-abu punya obsesi terselubung: jago main gitar. Ini, mungkin, ada hubungannya dengan Avril Lavigne dan Michelle Branch yang lagi jaya-jayanya masa itu. Si Anak SMA ini, kemudian nabung duit sakunya pelan-pelan. Sampai akhirnya si gitar Yamaha seharga 400 rebu ini berhasil dibeli di Libi Denpasar.

Dan kisahku bersama sang gitar pun dimulai.
Dari pelan-pelan ngapalin kunci sampai mengeja do re mi.
Tapi ternyata bulan madu dengan si gitar cuma bertahan sekitar dua-tiga bulan.

Gitarku jatuh, gagangnya patah jadi dua.
Aku yang nggak ada di TKP waktu kejadian, dikabari dengan heboh oleh kakakku.

Begitu dengar berita itu, seperti di film-film drama, muncul semacam bayangan guru seni musikku.
Dia dulu pernah bilang, kalau gitar patah di bagian gagang, maka tamatlah riwayatnya (diikuti echo *tamatlah riwayatnya..tamatlah riwayatnyaaa*).

Sejak itu, aku nggak pernah lagi belajar main gitar.
Skill main gitar juga mentok di lagu Macy’s Day Parade-nya Green Day yang kuncinya itu-itu doang (yang bahkan setahun kemudian sudah luntur dari ingatan)

Nggak sampai hati membuang jenazah si gitar, akhirnya dia ‘kukafani’ dan disimpan di pojokan, selama bertahun-tahun.

Sampai kemudian adekku kesambet  Dr. Frankenstein, dia  membangkitkan kembali si gitar dari kematian.
Gagang yang patah disambung dengan lem super.
Senar yang putus diganti.
Dan, jreeng, si gitar berfungsi lagi

20150130_170728
“Do you wanna know how I got these scars?”

Tapi karena dia males gotong-gotong gitar ke Bogor, tempat dia kuliah, si gitar kembali kesepian di pojokan tempat solat selama bertahun-tahun. Sampai hari ini.

Ngeliat si gitar yang dulu rusak parah, aku jadi (sok-sok) mikir. Ternyata ada kesalahan, yang sefatal apa pun masih bisa diperbaiki. Walau kondisi akhirnya nggak sesempurna sebelumnya.

But then there’s another kind of mistake that you can’t do anything about it, but wish that you were somewhat wiser back then. 

I wish I was wiser back then.

Jawa Tengah, 29 Januari 2015
SiAnink yang nyerah setelah 15 menit gaya-gayaan nyari intro gitar From Eden-nya Hozier. Setelah itu akhirnya nurunin standar, nyari nada lagu Ibu Kita Kartini. Gagal maning.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s