siAnink Mencoba Mengerti Hatsune Miku*)

Di dunia ini, ada banyak hal yang nggak dimengerti otakku yang sederhana ini.
Misalnya, bagaimana cara astronom mengambil foto galaksi yang jauhnya jutaan tahun cahaya **).
Bagaimana suara bisa tersimpan di pita kaset atau cakram piringan hitam.
Apa yang ada di kepala orang pertama yang makan pare, dan memutuskan bahwa ‘sayur’ ini adalah makanan layak untuk manusia.
Dan terutama kemana larinya duit bulanan.

Tanggal 28 Mei 2014, bertempat di Jakarta Convention Center, ada lagi satu tambahan hal yang nggak kumengerti di muka bumi ini.
Sebuah konser dari tokoh fiksi bernama Hatsune Miku.

miku

Nggak keliatan? Okeh, ini gambar dari jarak lebih dekat, tapi bukan dari konser Jakarta:

hatsune-miku-concert-pv_thumb

 

 

Yap, si Miku ini semacam mbak-mbak animasi yang konsernya diadakan dengan teknologi, dan kurang lebih penampakannya menyerupai hologram.

Jadi, di panggung ada sebuah layar semi transparan yang ukurannya sekitar 3×6 meter. Di belakang layar seenggaknya ada tiga proyektor—yang kayaknya lumensnya gede—menembakkan gambar 3D ke layar tersebut.

Tampilan animasi 3D-nya menurutku halus banget, gerakannya juga ‘manusiawi’ banget. Sayangnya ilusi bahwa Miku hidup di depan mata kadang buyar karena pinggiran layar masih kelihatan jelas. Miku dkk juga penampakannya kadang jadi sedikit transparan kalau lampu panggung terlalu terang.

Kesimpulanku di menit-menit pertama: kami nggak lebih dari sekadar menonton video dari mbak-mbak virtual berkuncir dua dengan suara ala cewe cewe di anime.

Jadi seharusnya penonton bakalan cool kan? Kan?

Wrong.

Dari sekian konser yang pernah kuliput, ini adalah konser pop dengan penonton yang paling antusias yang pernah kutemuin. Bahkan konser SNSD yang dikenal punya fans garis keras pun lewat (eh tapi aku belom pernah nonton si jeketi konser di habitat aslinya*** deng)

Sebagai ilustrasi, sepanjang dua jam durasi konser, bisa dibilang semua penonton —termasuk penonton  VVIP paling depan yang disediain kursi— berdiri dari awal sampai akhir, dan dengan semangat mengacungkan lightstick dan meneriakkan yel-yel. Non stop.

Kala sang diva virtual (dan teman-temannya yang lain) mencapai nada tinggi nan panjang, penonton berteriak.
Setiap dia beratraksi, seperti ganti kostum secepat kilat atau mengeluarkan sayap dan terbang —yang mana jujur saja, sungguh mudah dia lakukan—penonton bersorak.

Oh dan untukku, yang lebih surreal lagi adalah saat wartawan di sebelahku nggak mau kalah, mengacung-acungkan sebuah boneka  berbentuk daun bawang, dan ikut bergoyang.

hatsune leek
Sepertina daun bawang ini plesetan dari nama hatsune miku. sepertinya loh ya

Setengah bagian pertama aku ga bisa berhenti mikir. Come on, people. You’re literally fangirling/fanboying to  a moving image on a thin screen!

Setengah bagian selanjutnya, aku baru sadar. Aku dan para fans Miku ini ada di frekuensi yang beda. Di kepalaku, si Miku memang cuma bayangan yang ditembakkan komputer ke layar. Selama aku tetep mikir begini, ya sampai kapanpun rasanya aku tetep berasa silly fangirling si Miku ini. Apalagi aku nggak punya koneksi emosional apapun ama si Miku chan

Tapi yang menurutku menarik adalah sejarah si Miku ini sendiri sebagai pop star, yang baru kuketahui pas liputan.

Awalnya, si Miku ini sebenarnya dibuat hanya sebagai software virtul singer. Intinya, dengan software ini siapa pun yang punya komputer bisa ‘meminjam’ suara Mbaknya untuk membuat sebuah lagu. Tinggal masukin melodi dan lirik, plus iringan instrumen (yang sudah disiapkan juga di software ini), beres.

Mungkin software yang namanya Vocaloid2 Hatsune Miku yang rilis tahun 2007 ini bakal cuma sekadar jadi software biasa, kalau Crypton—perusahaan yang bikin software ini—nggak mengambil langkah jenius: memberikan sebuah identitas pada sang pemilik suara.

Nggak cuma diberi nama Hatsune Miku, tapi juga diberi wujud berupa cewe berkuncir dua berambut toska dengan kostum futuristik. Bahkan karakter ini juga diberi hal detail seperti umur (16 tahun), tinggi badan (158 cm), berat (42 kilogram), dan tanggal lahir (31 Agustus).

Boom. Muncul reaksi domino. Orang yang kepincut image Miku mereproduksi si Mbak dalam berbagai ilustrasi. Lalu muncul sebagai merchandise. Lalu muncul dalam bentuk game.

Sementara yang bikin lagu pake suara Miku juga makin banyak, dan Crypton kemudian mendirikan label untuk membawahi lagu-lagu yang keluar dari tenggorokan virtual sang diva (Salah satunya ternyata lagu dari Nyan Cat! )

DI Jakarta, CEO Crypton, Itoh Hiroyuki, sempat cerita, Miku bisa ditampilkan di game sebagai image 3D dan buanyaak kumpulan lagu-lagu yang dibuat para penggemarnya.
Kenapa nggak sekalian digabungin aja dua hal ini, lalu dibikin konser?
Boom. The rest is history.

Even Gaga Goes Gaga Over Miku!
Even Gaga Goes Gaga Over Miku!

 


Sebagai sebuah produk pop dari Jepang, tentu saja kultur otaku juga hidup dari produk Hatsune Miku. Dan sudahlah, kita nggak perlu bahas kapitalisme, yang tentu saja hidup gemah ripah loh jinawi dalam budaya ini. Contohnya saja: selembar kaos Miku ori harganya bisa sampai setengah juta. Tapi yang ngantre merchandise aseli ini tetep mengular.


“Orang bohongan saja kok sampe segitunya”

Begitu kata bapak-bapak berbaju batik dari pameran minyak yang digelar persis di sebelah venue Miku, yang sempat ge sengaja kudengar.

Betul itu, Miku memang palsu, tapi bukannya begitu juga sebagian besar pop star, jualan image yang ditempelin padanya? Kebanyakan pop star juga membawakan lagu buatan orang lain, jadi apa bedanya? Menurutku Miku ini malah lebih oke lagi, fansnya yang berkontribusi penuh atas lagu-lagu yang dia mainkan.

Pleus, si Miku ini gak akan pernah bad mood di atas panggung. Energinya pun bakal selalu pol-polan.
Si Miku juga gak akan pernah menua, selalu kinyis-kinyis di usia 16.
Gak akan pernah kena skandal, selalu ada untuk memberikan dunia ideal buat para fansnya.

Kalau ada piramida pop star, mungkin, bisa dibilang si Miku ini ada di puncaknya.

 

***

Btw secara obyektif, konsernya sendiri menurutku oke (untuk standar hiburan ya)

Pencahayaan n tata suara mantap. Live band (oh ya, Miku tampil dengan live band, bukan hanya rekaman 100%) asik banget. Dan penonton bener-bener terikat dengan panggung.

Beberapa lagu yang dimainin musiknya ada yang oke, menurutku. Sebagian besar J-Pop banget (ya iyalah)

Hanya saja…sepertinya aku dan Miku nggak akan pernah bisa bersatu.
Tiap denger suara cewe anime sengau-sengau melengking manja kaya begini selalu memancingku untuk menggampar sumber suara, atau setidaknya menggelepar-gelepar di lantai sambil melindungi telinga

P.S:

*) Ini adalah residu dari liputan, opini pribadi super subyektif yang nggak bisa dimasukin koran
**)Buaanyak artikel yang susah kumengerti, dan ini sedikit membantu
***) JKT48 Theatre di F(x) Sudirman, tentu saja

 

Gambar diambil dari sini

1. Konser Miku Jakarta

2. Konser Miku, bukan di Jakarta

3. Daun bawang

2 thoughts on “siAnink Mencoba Mengerti Hatsune Miku*)

  1. setelah ngeliat video konsernya si Miku (panggilan dia Miku ato hatsune, sih?) sepertinya antusiasme penontonnya sama dibanding fans jeketi (iya, aku pernah nonton theaternya :)) ). ps: sampai sekarangpun aku masih gagal paham dengan barisan cecowo berlightstick itu

    1. Kesan pertama: WOW! Lilin komen di tempatku yaasss!
      Kesan Kedua: WOW! Ririn nonton jeketi langsung di lokasi. WOW. *backsound: image seorang Ririn yang pecah berkeping2 di kepalaku*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s