Kacamata Orang Dewasa*)

Dulu waktu tinggiku masih setengah tinggiku yang sekarang, dan umurku sekitar seperempat bilangan yang berhasil kukumpulkan sampai saat ini, ada satu hal yang selalu sukses bikin aku gedek (gedek dalam arti sebel, bukan robot gedek).

Setiap orang yang pernah jadi anak-anak pasti juga mengalami hal ini. Basa-basi om-tante yang lama tak kelihatan, dan sekalinya muncul selalu menyapa dengan kalimat template ‘waah..udah besar ya sekarang’.

Dulu otak anak-anakku biasa membalas (dalam hati tentu saja, demi menjaga nama baik Pak Iwan sekeluarga): Terus maunya apa? Menciut?

Kurang lebih dua puluh tahun kemudian, giliran aku yang mengucapkan kata-kata mutiara itu. Untuk ponakan. Sepupu kecil. Atau anak teman.
Memakai kacamata ‘orang dewasa’, baru kali itu aku sadar kalau kata-kata itu sebenarnya bukan ditujukan pada si anak, tapi lebih pada dialog dengan diri sendiri.

“Lihat, sekian waktu sudah berlalu.
X makan tak lagi perlu disuapi.
Y sudah bisa mengikat tali sepatu sendiri.
Z malah sepertinya sudah akil baligh.
Lalu apa yang berhasil kau capai belakangan ini?”

Well, mungkin ini cuma pikiranku saja yang kadang sok-sok memaknai hal yang sebenarnya nggak perlu lagi dimaknai dalam-dalam.

But this is my thought, and ‘she’ loves to give me a good slap from time to time. But then again, i think i’m getting numb.

image

*) Ini sebenernya postingan yang lama kesimpen dalam bentuk draft, baru sekarang dipublish. Kayaknya cocok dengan tema taun baru. Kayaknya lo.

Sumber gambar:
Dokumentasi Pribadi, instalasi ‘2b or not 2b’ dari Philips AB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s