One Book Per Month : Game of Thrones

Jadi ceritanya, saya dan beberapa teman menyadari bahwa semangat membaca kami menurun selepas dari bangku kuliah (tsah). Karena itu kami mencoba menantang diri sendiri untuk ngabisin satu buku per bulan. Ini sebenernya adalah angka yang memalukan, mengingat zaman SMA dulu satu seri HarPot selalu habis maksimal dalam satu setengah hari. Sekarang satu buku per bulan rasanya ambisius sekali😦

Eniwei, buku yang kubaca bulan Oktober adalah Game of Thrones (GoT),  buku pertama dari seri A Song of Ice and Fire tulisannya George R.R. Martin. Btw sinopsisnya panjang, baca aje disini.

Ini cover yang kupunya
Ini cover yang kupunya

Aku tahu novel ini lumayan telat. Awalnya dari meme Brace Yourself yang rame di 9Gag & Reddit, diambil dari serial TV Game of Thrones yang dari judulnya aja sudah kelihatan  film ini diadaptasi dari mana. Berlanjut dengan banyaknya puja-puji buat serial TV ini yang bikin aku makin penasaran. Coba nonton satu episode… dan aku terpikattt.

Mengingat tulisan dan visual memberikan pengalaman yang beda, jadi kuputuskan untuk mulai baca bukunya. Yang mana kumulai dari tahun lalu. Dan baru selesai bulan ini. Yap.
Bukan cuma gara-gara sekarang gampang terdistraksi sama internet dan YouTube.
Bukan juga gara-gara bukunya setebal 800 halaman dengan spasi rapat.

Tapi gara-gara aku udah tau endingnya.

I'll never be ready for thiss
My heart will never be ready for thiss

Oke, mulai dari awal. (*SPOILERS ALERT*)

Sebenernya aku agak nggak terlalu hobi dengan fiksi bergenre fantasi. Bukan apa-apa, aku termasuk pembaca yang sibuk menerka-nerka ending sejak dari halaman pertama membuka buku—terutama  kalau yang lebih ditekankan adalah plot dan bukan teknik bercerita dan narasinya. Semakin jauh akhir cerita dari perkiraanku, semakin gila twist di pengujung cerita, semakin puas aku dibuatnya. Ini alasannya aku suka dua buku Dan Brown yang pertama.

Tapi buku fantasi, hampir selalu berakhir dengan kemenangan di pihak tokoh protagonis utama—walau sebanyak apapun temennya yang mati. Belum lagi biasanya tokoh-tokohnya ini dikelompokkan secara ekstrim, antara baek banget atau bajingan sejati.  Plis, untuk dua hal ini aku tinggal nonton Sailormoon atau Power Rangers.

Untung Mbah Martin jauh-jauh dari ini semua. Beda dengan banyak cerita fantasi tentang ramalan yang menjadi nyata, di sini ramalan bukan sebuah kepastian, malah bisa berbelok dan dipatahkan. Banyak hal yang nggak pasti di GoT. Dan aku suka itu.
Kalau lagi apes, mau dia tokoh utama, tokoh pembantu, atau pembantu beneran, mati ya mati aja. Jarang ada bala bantuan yang tau-tau nongol dari langit.

Eh, tapi nggak mungkin dong tokoh utamanya mati. Lah ceritanya tamat dong.

Ini kerennya Mbah Martin. Dia bener-bener menggali karakter tokoh-tokohnya yang bejibun ini sehingga pembaca bener-bener paham watak dan motif para pelaku. Masing-masing diceritakan dengan sangat kuat, sehinga kalaupun (ehm!) satu tokoh mati, yang lain masih cukup untuk menahan pembaca nggak lari dan membakar buku ini karena frustasi.

Ini.. mungkin saja terjadi
Yang mana hal ini.. sangat mungkin saja terjadi

Untuk mendapatkan bener perwatakan yang kuat macam ini kadang penulis lain menggunakan sudut pandang orang pertama, dengan cara penulisan dan pemilihan kata yang semacam bener-bener keluar dari otak tokoh tersebut. Bukan penulis yang sekadar  memakai kata ganti ‘aku’ dalam tulisannya. Dua buku yang aku suka dan ditulis dengan cara ini misalnya Flowers of Algernon dan Insiden Anjing Tengah Malam yang Bikin Penasaran.

Mbah Martin melakukannya dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu (piye meng-Indonesiakan omniscient?). Tata kalimat dan diksinya seragam—jadi pengenalan wataknya nggak se-instan cara di atas—tapi emosi di dalemnya beda-beda, tergantung sang tokoh yang tengah diceritakan. Dan ini bakal hambar kalau  nggak didesain dengan matang, apa kelebihan, kekurangan, dan terutama insecurity masing-masing tokohnya. Untungnya siMbah meramu GoT bagaikan indomi soto kuah, spesial pake telor dan irisan cabe yang disajikan di tengah musim hujan. Sedap.

GoT terdiri dari puluhan bab, dan masing-masing bab menceritakan dari sisi satu tokoh tertentu saja. Efek sampingnya ya tebelnya itu yang oke punya (denger-denger dua buku terakhir tebelnya 1.500 halaman. Akkk)

A villain is just a victim whose story hasn’t been told‘, begitu kata orang. Karena itu siMbah nggak cuma memberikan cerita dari sisi tokoh protagonis aja, tapi juga antagonis.  Jadi walau kita nggak membenarkan perbuatan si tokoh antagonis, minimal kita ngerti kenapa dia melakukannya.

Selanjutnya adalah cara dia membangun dunia fantasi ini. Nggak cuma bikin peta dunia, konteks sosial-budaya-religi tiap daerahnya, tapi dia juga bikin lambang, sejarah, sampai silsilah masing-masing trah bangsawan.
Kata Mbah Martin, ‘the devil is in the details, the say‘.
Oh, if that’s true then you’re the offspring of Satan himself, Old Man.

Terakhir, adalah… cara Mbah Martin bercerita. Men. Aku seneng banget baca tulisan yang maknanya implisit. Misalnya, Mbah Martin nggak secara langsung dan terang-terangan bilang ‘Catelyn kangen kampungnya’. Ini yang dia tulis:

The southern rain was soft and warm. Catelyn liked the feel of it on her face, gentle as mother’s kisses. It took her back to her childhood, the long grey days at Riverrun.

In the north, the rain fell cold and hard, and sometimes at night it turned to ice. It was as likely to kill a crop as nurture it, , and it sent grown men running for the nearest shelter. That was no rain for little girls to play in.
[Catelyn, p.283]

Oke, aku sudahi saja sebelum puji-pujian ini makin berlebihan😀

P.S: Serial ini belum tamat. Ada tujuh buku, lima udah terbit dan masih ada dua judul lagi yang belum dipublikasikan. Ane 100 persen ngerti kenapa banyak yang berdoa supaya siMbah ini selalu panjang umur dan sehat walafiat.

Edit: Aku baru nemu gambar ini. Pembatas buku warna-warni menandakan ada yang mati di halaman tersebut. *slow clap*


image

Sumber Potrek:

Game of Thrones

I can’t do it twice, Mister!

Have you ever been so mad…<

Korban A Song of Iceand Fire

One thought on “One Book Per Month : Game of Thrones

  1. Yang aku baca bulan oktober adalah descent of man (Darwin), bawaan dari september, tapj belum selesai sampai sekarang. Istilah biologi dalam bahasa inggris itu bikin puyeng. Belum lagi istilah istilah politik jaman dulu yang soal perbudakan manusia (setelah membaca ini aku jadi sadar kenapa toelf ga pernah bisa tembus 600 haha…). Lalu aku menyerah, dan mulai baca color of milk (nell leyshon) sama wild sheep chase (murakami, lagi. Haha) pada november ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s