Misni Melawan Bapaknya

Misni mengintip dari lubang kunci. Bapak masih disana. Ruang sempit itu diselimuti asap kemenyan yang kian menebal. Seperti malam-malam sebelumnya, Misni selalu ragu Bapak dapat tetap bernafas didalam sana. Dan seperti malam-malam sebelumnya, Misni selalu keheranan dengan kemampuan Bapak bertahan di kamar itu.

Kamar sempit itu selalu membawa misteri bagi Misni. Sejak setahun yang lalu, kamar yang dulu menjadi ruang tidurnya dialihfungsikan secara sepihak oleh Bapak. Suatu sore Misni mendapati kasur tempatnya berbaring tiap malam dan lemari kainnya sudah dikeluarkan dari kamar dan dipindahkan ke kamar depan. Dan sejak itu pula Misni tidur berdua dengan Emak. Bapak tiap selesai makan malam langsung mendekam di kamar itu. Semalaman.

Tapi terkadang Bapak tidur di kamar bersama Emak. Dan kalau sudah begitu, Misni akan diusir keluar kamar dan tidur di ruang tamu, ditemani selembar selimut lusuh. Biasanya saat menggigil di atas tikar pandan tua sebagai alas tidurnya, Misni berpikir apa salahnya sehingga ia harus tidur sendirian, kedinginan sedang Bapak dan Emak berada dalam selimut tebal didalam.

Misni masih mengintip kekamar itu. Walau ruang pandangnya terbatas, ia masih bisa melihat setengah punggung Bapak yang menghadap sebuah patung batu bertaring yang sedang nyengir lebar. Misni membekap mulutnya kuat-kuat.”Hi…jelek banget!” bisiknya disela tawanya yang tertahan.

***

Wah…pintu kamar rahasia itu terbuka sedikit. Tumben kamar ini lupa Bapak kunci. Kalau gini kan bisa lihat si-Patung Nyengir itu lebih jelas! Nah, itu dia! Si Patung Nyengir! Si Patung masih nyengir,  tapi kok kalau keliatan seluruh badan malah lebih juelek dari yang kemarin kulihat, ya?

“Mau apa kamu?” Suara Bapak! Mati aku! Kuputar kepalaku. Waduh, Bapak melotot!

“Misni…Misni mau lihat itu, Pak,” tunjukku ke arah si Patung Nyengir. Mata Bapak tambah melotot. Untung Bapak hari ini ndak pake gesper!

“Anak kurang ajar kamu! Edan! Turunin! Turunin tanganmu! Kualat kamu! Besok-besok, jangan ngintip kamar ini lagi! Atau mau tak hajar, hah! Kamu ndak ada perlunya sama kamar ini! Kamu itu cuma anak perempuan! Yang punya urusan sama kamar ini, cuma adikmu, cah lanang! Kamu ndak ada urusan! Sudah, sana pergi! Bantu emakmu di dapur!”

Leherku sakit. Ndak berani aku lihat muka Bapak. Makanya dari tadi aku menunduk . Di dapur baru aku berani mengangkat kepala. Emak memandangi aku. Aku memandangi perut Emak. Perutnya genduut sekali. Emak hamil. Persis perutnya si Ireng-kambingnya Pak Agus yang paling gede-yang lagi bunting. Disitu ada adik bayiku. Kata Bapak laki-laki. Darimana Bapak tahu aku juga ndak tahu.

Nah…adikku itu disayang sama Bapak. Bapak lebih sayang sama adik bayi yang belum lahir itu daripada aku yang sudah lahir dari dulu. Katanya aku ndak berguna, soalnya aku perempuan. Kata Bapak, nanti kalau adikku yang laki-laki ini sudah gede, dia bakal diajarin ilmunya Bapak. Aku ndak diajarin, soalnya aku perempuan. Padahal aku juga mau diajarin ilmunya Bapak. Bapak kan hebat. Kalau ndak hebat kenapa banyak orang-orang yang datang kesini, minta tolong sama Bapak. Bapakku orang hebat.

“Misni, ngapain kamu bengong disitu? Tuh, kasih makan ayamnya dulu! Terus telor ayamya disimpan. Jangan sampai pecah! Kemarin kamu mecahin dua kan? Makanya hati-hati!”

Kuturuti perintah Emak. Kuambil nasi-nasi sisa yang ditaruh Emak di waskom kecil. Kulirik Emak sedikit.

“Mak, nanti sore Misni mau ke mas…”

“Iya, iya. Terserah kamu pergi ke mana. Asal pulangnya jangan kemaleman. Kamu itu kalau dirumah bikin ribut sama bapakmu saja. Sudah, cepet sana kasih makan ayam!”

Kumajukan bibirku. Ah, ndak Bapak ndak Emak sama saja!

***

Kaki Misni geli menginjak lantai masjid yang dingin. Dia memilih duduk di dekat tiang masjid agar bisa menyandarkan punggungnya. Ditarik-tariknya ujung roknya agar sedikit lebih menutupi lututnya yang koreng. Anak-anak perempuan disini memakai pakaian yang tertutup rapi, dan memakai kerudung.

Asih, teman sepermainannyalah yang mengajaknya pergi ke masjid. Katanya hari ini akan dibacakan cerita tentang Nabi Ibrahim. Sebetulnya Misni  bertanya-tanya, siapa itu Nabi Ibrahim? Pertanyaan tentang nabi-nabi makin memusingkan bagi Misni ketika ia tahu ternyata para nabi itu berasal dari agamanya, Islam.

Selama ini ia memang mengetahui bahwa ia beragama Islam, seperti yang tertulis dalam raport SD-nya. Tapi ia tak pernah mengenal ‘Nabi Muhamat’, ‘Nabi Suleman’ dan para nabi yang lain. Guru agama sekolahnya yang memegang enam kelas untuk pelajaran agama baru masuk sekali, itupun hanya untuk perkenalan diri.

“Assalammualaikum warahmatullah hi wabarakatuh,” seorang perempuan berjilbab kaos lebar memberi salam pada anak-anak didalam masjid.

Misni terkejut setengah mati ketika semua anak menjawab salam tersebut hingga urat-urat lehernya muncul. Perempuan tadi melirik kearah Misni. Misni salah tingkah, ia mengira bajunyalah yang menarik perhatian perempuan berwajah teduh itu.

“Baik, anak-anak. Minggu lalu Ibu berjanji bercerita tentang siapa?”

“Nabi Ibrahiimmm!!!” Misni merasa dirinya telah terbiasa dengan volume suara setinggi itu. Bahkan, ia ikut menjawab pertanyaan ibu guru itu walau dengan malu-malu.

“Ya, pintar. Nah, sebelum Ibu membacakan cerita ini untuk kalian, Ibu minta kalian duduk yang rapi, ya. Ahmad! Jangan mengganggu Titin! Ayo, duduk yang rapi!”

***

Setiap tahun, penduduk Babilon merayakan satu hari besar mereka. Pada hari itu mereka tidak bekerja, hanya bersenang-senang dan berpesta pora di luar kota, termasuk Raja Namrud. Ketika hari itu tiba, Nabi Ibrahim tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh penduduk. Ia tetap tinggal didalam kota.

Setelah kota benar-benar sunyi, Nabi Ibrahim mendatangi rumah pemujaan penduduk Babilon. Dipandanginya semua berhala yang disembah penduduk kota. Lalu dengan menyebut asma Allah ia menghancurkan berhala-berhala itu, kecuali berhala yang paling besar. Ia lalu menggantungkan kapaknya pada leher berhala itu.

Penduduk kota Babilon gempar dengan kejadian itu. Setelah diadakan penyelidikan, mereka berkesimpulan Ibrahim, anak Aazhar si-Pembuat Berhalalah yang melakukan semua ini. Merekapun menyeret Nabi Ibrahim kehadapan penguasa.

“Engkaukah Ibrahim, yang telah merusak Tuhan-Tuhan kami?” tanya para penguasa.

“Benar, saya Ibrahim. Tapi patung terbesarlah yang telah menghancurkan patung yang lainnya. Lihatlah, bukankah ia menyandang kapak di lehernya? Tanyakanlah padanya!”

“Bodoh benar kau Ibrahim! Mana mungkin kami menanyakan hal ini kepadanya. Bukankah ia patung yang terbuat dari kayu dan batu dan ia tak dapat berbicara?”

Ibrahim tersenyum pada semua yang hadir. ”Bila kalian sudah mengetahui patung itu itu tak dapat berbicara, bergerak, melihat dan mendengar, mengapa kalian masih memujanya? Bila kalian sudah paham bahwa patung-patung itu tak dapat menolong diri mereka sendiri, pantaskah kalian menggantungkan diri kalian pada mereka? Mengapa kalian tidak menyembah Tuhanku Allah, Yang Maha Besar. Yang menciptakan langit dan seisi bumi ?”

***

Kulongokkan kepala kedalam masjid. Bu guru itu sedang bersiap pulang. Kuhampiri Ibu itu. Sepertinya ia agak kaget melihatku.

“Namamu Misni, ya? Ibu baru pertama kali ini melihatmu”

“Iya Bu. Misni jarang main kesini. Kata Emak terlalu jauh. Nanti pulangnya bisa kesorean. Ehm…Bu, Misni mau nanya. Boleh  ndak?”

“Ibu malah senang sekali kalau Misni mau bertanya. Nah, Misni mau nanya apa?”

“Itu, Bu. Tadi Ibu kan cerita tentang berhala. Berhala itu apa sih, Bu?

“Berhala itu adalah apa saja yang disembah manusia untuk menyekutukan Allah.”

“Menyekutukan?”

“Iya, menyekutukan Allah artinya menyembah selain Allah.”

“Berhala itu kayak gimana?”

“Kalau berhala zaman dahulu, biasanya berbentuk patung. Lalu orang yang menyembah berhala itu meminta rezeki, perlindungan dan kekuatan pada berhala-berhala itu. Orang yang menyembah berhala itu juga memberikan sesaji pada berhala yang mereka sembah. Supaya berhala itu tidak marah.”

Aku terdiam sejenak. Teringat sesuatu…

“Patung berhala itu nyengir ndak?”

Ibu Guru agak terkejut mendengar pertanyaanku.

“Mungkin ada ya, yang nyengir. Tapi kenapa kamu tanya tentang itu?”

Aku nyengir saja mendengar perkataan Bu Guru.

***

Si-Patung Nyengir masih berdiri disana. Rumah malam ini sedang kosong. Emak kondangan. Pulangnya masih lama. Bapak sudah dari kemarin ndak pulang. Kata Emak Bapak lagi tirakat. Biasanya kalau tirakat Bapak pergi sampai seminggu. Jadi…aman!

Ditanganku sudah tergenggam sepotong kayu yang lumayan besar. Kuputar pegangan pintu. Semoga pintunya ndak dikunci! Klik! Yes! Pintunya ndak dikunci! Kulangkahkan kakiku kedalam kamar. Sisa-sisa bau kemenyan masih tercium. Hih, tempat ini  kok nyeremin banget, ya?  Itu tengkorak beneran atau cuma pajangan? Kulirik si-Patung Nyengir. Dibawah kakinya tersusun bunga-bungaan, yang disela-selanya ada noda darah dan bulu-bulu ayam berwarna hitam.

Ha! Itu pasti Keti! Ayam piaraan yang kemarin lusa Bapak ambil dari kandangnya lalu dibawa masuk kekamar ini. Dan  setelah itu aku tidak pernah melihat Keti dibawa keluar kamar lagi. Keti pasti disembelih Bapak. Dan, apa si Keti disembelih cuma  untuk patung ini? Dasar patung jelek! Aku yang puya ayam saja jarang banget makan ayam kalau bukan hari raya!

Kugenggam kayu itu makin erat. Bismillahirohmannirohim.

***

Lelaki paruh baya itu membelalakkan mata demi melihat ruangan yang hancur berantakan itu. Benda-benda yang terbuat dari tanah liat pecah semua, Bunga sesajian berserakkan, bahkan lemari tempatnya menyimpan benda-benda keramatpun terbalik, isinya tumpah kemana-mana, bahkan banyak yang penyok dan tak berbentuk lagi.

Darahnya menggelegak. Bergegas ia menuju dapur. Ditariknya tangan istrinya yang sedang hamil tua, dan tangannya yang satu lagi menyeret Misni, anak perempuan satu-satunya. Dihempaskannya mereka berdua didepan pintu kamar.

“Siapa yang telah melakukan ini?” teriaknya.

“Saya tidak tahu, Kang,” Istrinya melihat kamar itu dan suaminya secara bergantian. Ketakutan tergambar dengan jelas dimatanya.

Misni dengan tenang berdiri dan menatap mata Bapaknya. “Coba saja Bapak tanya pada patung itu. Coba saja Bapak lihat. Dilehernya ada kayu, kan? Pasti dia pelakunya,” dengan tenang ia merangkai kata. Telunjuknya mengarah pada patung yang terbuat dari batu itu. Patung itulah satu-satunya benda yang masih terlihat utuh diruangan itu. Patung itu berdiri tegak dengan  balok kayu dilehernya.

“Anak kurang ajar, kamu!” sebuah bogem menghajar pipi kiri Misni dengan telak, disambung dengan tamparan yang keras di pipi kanannya. Misni jatuh tersungkur. Emaknya berteriak, tapi tak bisa berbuat apa-apa, sementara itu Misni mencoba bangkit lagi. Wajah mungilnya kembali dihajar jemari penuh dengan cincin besar berbatu akik. Kali ini Misni roboh. Badannya tak punya kemampuan untuk bangkit lagi. Bibirnya mengulas sebuah senyum.

***

Allah Maha Besar. Api itu dingin bagi Ibrahim, meski api itu menghanguskan kayu bakar disekelilingnya. Setelah api padam, Ibrahim keluar dari tumpukan abu tanpa cedera sedikitpun. Bahkan rambut dan pakaian yang dikenakannyapun luput dari kobaran api.

“Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim selain mengatakan: ”Bunuhlah atau bakarlah dia,” lalu Allah menyelamatkannya dari ap.sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman”*

***

Aku langsung terjatuh saat Bapak memukulku pertama kali. Tapi sebelum aku menyentuh tanah Bapak sudah menyambungnya dengan tamparan. Sepertinya lidahku tergigit saat Bapak menamparku. Lidahku terasa asin. Kuludahkan isi mulutku. Merah.

Emak menjerit-jerit. Tapi Emak cuma meringkuk dibelakang dinding. Aku pusing. Bapak menghajarku lagi waktu aku mencoba bangun. Leher belakangku langsung kesemutan begitu Bapak memukulku. Tahu-tahu semuanya mati rasa. Bapak masih terus memukulku, Tapi tak berasa apa-apa.

Tubuhku jadi ringan. Lalu gelap.

*) Al ‘Ankabuut: 24

*)  Tulisan puanjang dan rada bertele-tele ini bertanggal 13 Agustus 2004. Entah bikin tulisan ini untuk apa, tumben begitu syar’i, hahaaa.

One thought on “Misni Melawan Bapaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s