Maling Sandal

Ya Allah, hamba tahu hamba telah berdosa karena meninggalkan panggilanMu untuk menunaikan shalat Jum’at  dan karena hamba telah mengambil apa yang bukan hak hamba. Ya Allah, timpakanlah dosa seberat apa yang telah hamba perbuat. Tetapi ya Allah, hamba mohon dengan amat sangat, berikanlah rizki-Mu atas pemilik barang ini, Ya Allah. Dan Ya Allah, hamba mohon agar anak hamba segera sembuh setelah hamba  membawanya ke dokter. Amin.

***

            Basri menatap orang-orang yang berlalu meninggalkan masjid. Dia berharap dapat menemukan alas kakinya yang sejak tadi tidak nampak. Siapa tahu sepatunya tertindih sandal-sandal yang lain.

Masjid sudah sepi sekarang. Basri termangu. Perasaan tadi kutaruh disini, batinnya. Kini di pelataran masjid hanya ada beberapa pasang sandal jepit, dan bukan itu yang dicari oleh Basri. Sepatu cokelatnya yang masih bau toko, kini raib entah kemana. Basri duduk termenung di pelataran masjid. Bibirnya mengeluarkan makian pada si maling dari yang ’terhalus’ sampai yang paling kasar. Sumpah serapah atas ketidakselamatan si maling pun terus menerus dilontarkannnya.

Basri menghembuskan nafasnya keras-keras, mengusir kekecewaan yang menggelayutinya. Basri memandang jam di dinding masjid. Jam satu lewat sepuluh. Jam setengah dua nanti seharusnya ia ada wawancara. Kini harapannya untuk memperoleh pekerjaan walaupun hanya sebagai sopir taksi, kandas sudah. Ia tak akan tiba tepat waktu di tempat wawancara. Meskipun ia bisa datang, ia tak mungkin datang kesana tanpa alas kaki. Basri melawan air mata yang terus mendesak keluar. Kata emaknya, lelaki pantang menangis.

Basri melihat sekelilingnya. Di masjid hanya ada beberapa orang pengurus masjid yang sedang menghitung recehan dari kotak amal. Di depan  gerbang masjid, seorang tukang siomay sedang melayani pelanggannya. Tak jauh dari tukang siomay itu, seorang bapak setengah baya tampak frustasi mengotak-ngatik mesin mobilnya. Lengan kemeja putihnya disingsingkan sampai kesiku. Peluh sebesar biji jagung membasahi wajahnya. Sebentar-sebentar ia melirik arloji dipergelangan tangannya.

Basri mendekati Bapak itu, “Ada yang bisa saya bantu?”

Bapak itu menatpa Basri dengan pandangan sangat-butuh-pertolongan. “Mobil saya tidak bisa distarter,”ujarnya lirih.

“Biar saya lihat,” Basri menggeser posisi Bapak tadi. Tangannya sibuk mencari-cari kerusakan pada mobil Bapak itu.

“Adik kerja dimana”

Basri kembali mengingat peristiwa siang ini. Kekesalannya kembali membuncah. Basri lalu menceritakan semua yang dialaminya pada Bapak itu. “Yah…memang kalau sudah nasib mau bagaimana lagi,” ujarnya menutup ceritanya. Keheningan membekukan mereka berdua.

“Adik kelihatannya terampil sekali memperbaiki mobil,” Si Bapak memecah kebisuan di antara mereka.

“Dulu, sebelum merantau ke kota ini, saya pernah bekerja di bengkel mobil. Karena ada teman yang mengajak ke kota, saya ikut saja. Ternyata…yah, beginilah. Uang sudah habis, tapi malu kalau balik ke desa”

‘Adik asalnya dari mana?”

‘Dari S, desa D. Tapi saya jadi montir di kota M. Desa saya tempatnya agak  dipelosok. Maklumlah kalau Bapak tidak pernah mendengar nama desa D”.

“Desa D? wah…adik ternyata satu kampung dengan saya. Wah…tidak menyangka! Jarang sekali saya bertemu teman sekampung dikota ini. Kebetulan sekali. Ha..ha..ha.. Oh ya, kamu kenal Mbah Botol?”

‘Oh…saya pernah mendengar Mbah Botol. Tapi orangnya sudah dua tahun yang lalu meninggal..”

“Innalillah…baginilah kalau tidak pernah pulang kampung lagi. Maklum, orang tua  sudah lama tidak ada. Saudara-saudara sudah terpencar semua. Oh, ya…”

Pembicaraan mereka terus berlanjut. Basri telah melupakan sepatunya yang kini telah dijual dengan sepertiga harga aslinya. Jam masjid menunjukkan pukul setengah dua.

***

Basri membukakan pintu mobil untuk tuannya. Berdua mereka kemudian berjalan beriringan menuju masjid tempat mereka bertemu sebulan yang lalu. Selesai shalat Jum’at, belum sempat mereka berdiri, dari arah pojok masjid terdengar teriakan,”Maling sandaaal…!!’

Serentak seluruh kepala menoleh kearah datangnya suara. Beberapa pemuda segera mengejar sosok yang menenteng sepasang sandal bermerk. Teriakan-teriakan liar keluar dari bibir mereka.

Tak lama kemudian mereka berhasil menyergap sosok kerempeng berkulit hitam, sang pencuri sandal. Pukulan, tendangan dan cacian, dilayangkan pada tubuh lelaki itu.

“Maaf, Mas. Anak saya sakit…saya butuh uang…,”sosok hitam itu mengiba disela-sela erangannya. Bibir atasnya  pecah, wajahnya sudah tak berbentuk lagi.

‘Alasan! Mana ada maling ngaku maling! Kamu kira kami percaya, hah!” seorang pemuda gondrong menendang perut lelaki itu. Kembali massa menghakimi tubuh ringkih itu. Si maling sandal berusaha menyebut asma Allah disela-sela pukulan yang mendarat ditubuhnya.

Basri mengamankan tuannya, menjauhi kerumunan itu.  Segera mereka menuju mobil dan pergi meninggalkan masjid itu.

Lelaki kerempeng itu menangis dalam diam. Ia teringat anaknya yang sedang terbaring di kasurnya yang tipis, menunggu sang maut yang segera menjemputnya.

 

*) Cerpen ini bertanggal 19 November 2005. Tulisan ini sungguh merupakan bukti bahwa aku payah dalam hal geografi, atau bahkan sekadar mengarang nama tempat😀 (Desa D? Kota M? Apa itu??)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s