Jadi Kesimpulannya : Les Misérables = Duren

les_miserables_ver11Yap, judulnya nggak salah. Setelah nonton Les Miserables, aku berkesimpulan film ini persis duren.
Maksudnya?

Jadi waku kemarin nonton film ini, sejak dua jam pertama penonton sudah mulai berguguran. Keluar dari bioskop dan nggak balik-balik lagi. Total sampe akhir film ada sekitar delapan orang yang nyerah ngelarin Les Miserables.

Jadi filmnya jelek? Nggak juga. Buktinya temen sebelahku, nangis sesenggukan macam habis keselek biji kedondong sangking menghayati ini film. Setelah lampu nyala, aku juga liat Mas-mas belakangku lagi elap-elap mata, mempertahankan kemachoannya di depan Mbak-mbak yang dia ajak nonton.

Jadi tergantung orang yang nonton. Menurutku Les Miserables ini tipe film yang cuma punya dua jenis penonton, yang nggak suka banget  dan mereka yang suka banget. Jarang ada yang di tengah-tengah. Persis kaya duren.

***

Kalau Anda yakin kuat nonton film yang 95 persen isinya adalah nyanyian macam di opera ini, jangan lupa kosongkan dulu kandung kemih sebelum duduk di depan layar. Soalnya, film ini panjangnya lebih dari 2,5 jam.

Filmnya menurutku bisa dibagi dalam tiga babak. Yang pertama adalah pengenalan sang tokoh utama, Jean Valjean (Wolver…uh, Hugh Jackman). Ia  menghabiskan 20 tahun kerja paksa di penjara karena mencuri sepotong roti  dan berkali-kali mencoba kabur dari penjara. Ketika akhirnya bebas, Kepala sipir Javert (Russel Crowe) mengingatkan Valjean terkena wajib lapor seumur hidup, bila telat melapor ia akan dilempar balik ke penjara. Ia menemukan ternyata hidup tak kalah sulitnya  di luar dinding penjara.

Valjean akhirnya memutuskan untuk memulai hidup baru setelah bertemu dengan seorang pastor (atau pendeta? aku nggak yakin), dan merobek surat wajib lapornya.

Bagian kedua adalah kehidupan baru Valjean yang berhasil menjadi walikota, dengan nama samaran Madelaine. Lah ndilalah si Javert ternyata dimutasi ke kota ini juga. Sementara itu, Fantine (Anne Hahtaway), buruh muda nggak sengaja dipecat oleh Valjean gara-gara gosip bahwa ia perempuan nakal. Karena harus mengirim uang untuk Cosette, anak perempuan yang dititipkan di penginapan milik Thenadier di luar kota,  ia terpaksa menjadi pelacur jalanan.

Bagian ketiga, Cosette (Amanda Seyfried) akhirnya dibesarkan oleh Valjean, yang  terus diburu Javert. Cosette terlibat cinta segitiga dengan Marius, keturunan bangsawan yang ikut mendukung pemberontakan anak muda  di Paris, serta Eponine (Samantha Barks). Di bagian ini pemberontakkan mencapai puncaknya, begitu pun pengejaran Javert.

***

Sejujurnya aku lumayan buta soal Les Mis. Aku belum baca bukunya. Apalagi nonton teater musikalnya.
Aku cuma tau I Dreamed a Dream, lagu wajibnya Les Mis (*uhuk*SusanBoyle*uhuk), sama nonton film adaptasinya yang memasang Liam Neeson sebagai Valjean. Itu tok. Jadi aku nggak tau versi Les Mis yang ini sesuai dengan novelnya atau nggak.

cosette
cosette

Alur filmya sendiri cukup rapat. Sejak paruh awal film, sequence yang menguras emosi muncul bergantian dengan bagian yang membetot syaraf ketegangan. Puncaknya di pertiga akhir film, waktu pemberontakan akhirnya jadi dilakukan.
Untungnya ada pasangan suami istri tamak  Thenadier yang komikal,  diperankan dua orang yang aslinya memang gila: Helena Bonham Carter dan Sascha Baron Cohen.

Sukses Les Mis sudah pasti disokong sama para pemainnya yang dapet banget nuangin emosinya. Jempolku makin ngacung ke atas ketika tahu mereka juga nyanyi on the spot waktu pengambilan gambar, bukan take vokal dahulu lalu lipsync kemudian. Ini kupetik dari iMDB:

“Typically, the soundtrack for a movie musical is recorded several months in advance and the actors mime to playback during filming. However, on this film, every single song was recorded live on set to capture the spontaneity of the performances. Everyone involved, from Hugh Jackman to Russell Crowe to producer Cameron Mackintosh, have praised this approach as it allowed them to concentrate on their acting as opposed to lip-syncing properly. They have also praised director Tom Hooper for attempting this on such a scale; something no director has ever done before.

Bravo_Bravo

Aku angkat topi untuk mayoritas pemain yang dipasang di sini, mulai dari Jackman, Hathaway, duo Cohen-Carter, sampai bocah yang memerankan Gevroche si anak jalanan. Aku juga nggak bermasalah dengan Russel Crowe, tapi untuk polisi saklek yang punya sudut pandang hitam-putih itu menurutku perlu tampang yang lebih dingin. Hugo Weaving, mungkin? Tapi aku nggak tau si Masnya bisa nyanyi atau nggak.

Yang jadi masalah menurutku… si Amanda Seyfried. Bukan si Amandanya sih sebenernya, tapi tokoh Cosette remaja yang kayaknya kurang dieksplor di film ini. Jadinya dia kelelep dengan tokoh lain, bahkan  bila dibandingan Eponine. Di film ini dia cuma jadi love interest buat si Marius, nggak terlalu berperan aktif dibanding Cosette  versi film satunya yang dimainin Mbak Claire Danes. Mungkin karena filmnya terlalu panjang, atau di buku memang seperti itu? Entahlah.

Di luar itu dosa Les Mis yang menurutku nggak bisa dimaafkan adalah banyak penjelasan yang dilewatin, sehingga film terkesan melompat-lompat. Aku yakin nggak semua penonton Les Mis adalah pembaca novelnya. Jadi kami nggak tahu kenapa hanya berberkal piring dan sendok perak Valjean berhasil menjadi walikota. Atau bagaimana Valjean tetap membawa banyak uang setelah kabur dari Javret hanya dengan baju di badan? Atau bagaimana Marius berhasil diampuni dari cap pemberontak, dan kembali ke kehidupan borjuis, status yang dulu dia nistakan? <— di baris ini ada spoiler. Kalo mau liat diblok aja pake kursor.

Maaf lagi-lagi harus membandingkan dengan versi film satunya. Tapi walaupun kuakui nggak seindah versi tahun 2012, Les Mis tahun 1998 itu berhasil menceritakan detail tersebut, walau hanya dengan dialog atau adegan singkat. Jadi aku nggak ngerti kenapa ini nggak bisa disertakan.

***

Tokoh favoritku di film ini ada dua, yang pertama tentu saja Fantine.

Do they know they're making love to one already dead?
“Do they know they’re making love to one already dead?”

Mustahil nonton Les Mis tanpa pengen pukpuk si Fantine sambil bilang “Sshhh… everything’s gonna be okay.”

Lalu kita potong rambutnya
Lalu kita potong rambutnya

Makasih Mba Hathaway, kalau kata anak zaman sekarang aktingmu ‘kece’. Kalau kata penggemar K-Pop Daebak, you are jjang!
Walau teknik nggak seperti  Oma Boyle, bagian I Dreamed a Dream dahsyat efeknya. Mungkin bisa kubilang mental breakdown pertama di film ini.

Favorit di antara favorit adalah…. Eponine!

"I love him, but only on my own"
“I love him, but only on my own”

Aku baru liat si Mbak  ini, dan dia sungguh keren sekali. Langsung lah masup daftar aktris paporit ane bareng si Ellen Page dkk. The name is Samantha Barks, but she doesn’t bark, she howls  her pain out. And it was hauntingly beautiful.

Walaupun aku selalu terdistraksi ukuran pinggangnya. Dia pake korset ukuran berapa sih?
Walaupun aku selalu terdistraksi ukuran pinggangnya. Dia pake korset ukuran berapa sih?

Nggak cuma suaranya, aktingnya pun jago. Biasanya aku nggak suka akting patah hati yang menye-menye di bawah hujan. Tapi si Mbak ini menye-menye di bawah hujan dengan elegan. Jadi aku suka (hayah). Adegan favorit (yang akhirnya berhasil bikin aku mbrebes  mili) adalah ketika akhirnya Marius memiliki lagu yang hanya dinyanyikan untuk Eponine (Awww….).

Team Eponine FTW!!

Pic Source :

Les Mis

Cosette

Bravo gif

Fantine 1

Fantine 2

Eponine 1

Eponine 2

2 thoughts on “Jadi Kesimpulannya : Les Misérables = Duren

  1. aku pun terdistraksi ukuran koresnnya pipone ning! aku nonton ini di midnite 2 atau 3 minggu yg lalu. saat aku dan temanku sesenggukan, mas-mas di depan malah ketiduran >__<

    btw, aku kenal banyak orang yg suka duren di tengah-tengah. nggak suka suka amat, tapi juga bukan ga suka. jadi teori durenmu kubantah nink. ahahahah…

    1. ahh…. harusnya dirimu kemarin ikut, Mba’e. kita bertiga muter-muter bahas itu film.😦

      Ahhh…. nooooo….. teori duren itu teori yang paling kubanggakannnn…. *brb terjun dari jembatan baswey*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s