Review Life of Pi. Or My Never Ending Hatred Towards Hyena

Apa ada hal yang lebih buruk dibanding kapalmu karam di Laut Pasifik dan sebatang kara terapung-apung dalam sekoci penyelamat?
Jawabannya: Ada.

Kapalmu karam di Laut Pasifik, sebatang kara terapung-apung dalam sekoci penyelamat dengan hanya ditemani seekor harimau bengal yang punya nama jauh lebih keren dari namamu.

Inilah yang dialami Piscine Molitor Patel, alias Pi, remaja tanggung India yang namanya terinspirasi dari… nama kolam renang. Pi harus meninggalkan tanah kelahiran dan gebetan pertamanya saat hijrah ke Kanada, bersama puluhan hewan koleksi kebun binatang milik keluarganya dengan kapal laut ‘TsimTsum’.

Di tengah badai, kapal ini karam dan menelan seluruh isi kapal ke dalam lautan, kecuali Pi, dan beberapa hewan yang terangkut dalam sekoci penyelamat, termasuk si harimau ganteng Richard Parker.

Mampukah Pi bertahan hidup menghadapi ganasnya laut, depresi dan kesepian, juga  Richard Parker?

***

Jawabannya: Bisa.
He.. tenang… ini bukan spoiler. Film ini memang berjalan dengan alur flashback. Sejak awal ditampilkan Pi dewasa yang menceritakan pengalamannya pada seorang penulis. Sekitar 15 menit awal Pi bercerita panjang lebar mengenai nama, agama, hingga gebetannya.

Untung ada beberapa penyelamat di bagian yang sedikit bertele-tele ini. Pertama Pi kecil yang ganteng (atau aku yang pedofil?), Anandi, gebetan Pi,  juga  Mamaji, paman Pi dengan bentuk badan yang sedikit absurd.

Dan tentu saja Richard Parker.

Halooo ganteng
Halooo ganteng

Kemunculan pertama si harimau ini sukses membuat penonton satu bioskop tempatku nonton ber-woooah.  Men, salut sama tim cgi yang sukses menampilkan si Richard Parker dengan gagah. Yap, CGI. Si Richard Parker lebih banyak ditampilkan lewat bantuan teknologi, bukan hewan aseli.

“Kami nggak mau aktor kami dimakan,” begitu katanya.

***

Selain untuk CGI,  aku juga suka cast Life of Pi, terutama Suraj Sharma, pemeran Pi remaja. Nggak seperti Irfan Khan (Pi dewasa) yang biasa nongol di film-film Hollywood, ini pertama kalinya aku lihat Suraj.

Cemerlang, mungkin cocok menggambarkan Suraj. Bayangin, lebih dari setengah bagian film berdurasi dua jam ini hanya mengandalkan Suraj sendiri, terapung di tengah setting minimalis. Apalagi ia harus berinteraksi dengan macan yang sebenarnya nggak pernah ada, cuma efek visual belaka.

Bukan cuma itu, Suraj juga berhasil mengaduk emosi di beberapa adegan kunci. Misalnya  saat Pi yang seorang vegetarian meminta maaf pada seekor ikan yang terpaksa dibunuhnya demi bertahan hidup, juga saat perpisahan dengan Richard Parker.

Untuk sinematografisnya… yah gimana ya, film ini memang dibuat untuk 3D, karena itu banyak potongan adegan yang tampilannya dilebih-lebihkan. Aku nggak bilang ini jelek,   it’s just a little bit silly. Macem mbak-mbak cantik yang kebanyakan bergincu.

Tapi dari semua potongan gambar pemanis mata ini, favoritku justru gambar sederhana,  yang menyorot Pi dan Richard dari atas. Soalnya itu persis cover buku Life of Pi yang kubaca dulu, dan ilustrasinya keren abis kaka..

cover lifeofpi

***

Ngomongin film Life of Pi nggak bisa cuma dari aspek teknis doang, tapi isi filmnya. Bukan cuma jalan ceritanya, tapi pemikiran di baliknya. Nggak harus takut untuk nonton Life of Pi, karena film ini memang ngajak mikir, tapi nggak harus mikir untuk ngerti ceritanya.

Aku liat dari twit, blog, dll, ‘pesan moral’ yang ditangkep orang-orang yang udah nonton pun beda-beda. Mungkin tergantung apa pikiran yang putarannya paling kenceng di kepala. Ada yang nangkep tentang sisi religiusnya, tentang menghadapi ketakutan, dan sebagainya.

Ini indahnya film ini.

Buatku sendiri ‘pesan moral’ film ini: mungkin biasanya kita memang memilih untuk percaya hanya pada hal yang ingin kita percayai.

***

Ah, aku belum menyebutkan satu hal lagi yang aku suka banget dari Pi: background musiknya, terutama lagu ini, yang digubah Om Mychael Danna:

Aku nggak tau isi lagunya tentang apa, tapi lagu ini memunculkan semacam bittersweet feeling waktu didengerin. Menenangkan sekaligus memilukan. Dan yang paling penting, si mbak Bombay Jayashri  berhasil mematahkan stereotip bahwa penyanyi cewe India cuma bisa melengking nyakitin kuping.

***

Eniwei, hari Sabtu  dua minggu lalu waktu aku nonton film ini banyak keluarga ngajak anaknya yang masih kecil nonton Life of Pi.
Ini. Salah. Besar.
Biarpun tentang binatang, Life of Pi bukan Lion King atau Bambi, Bapak Ibu.

Ada beberapa adegan sadis yang cukup eksplisit disini, lumayan bikin hati mencelos. Terutama kalo kamu seperti aku, lebih peduli nasib binatang daripada nasib manusia dalam film.

Kecuali si Hyena.
Sejak kecil aku suka nonton tayangan soal fauna, dan nggak pernah bisa dapet dimana bagusnya binatang yang punya suara macem Mak Lampir ini.
Dan film ini makin meneguhkan ke-enggak sukaanku ama si Hyena, terima kasih banyak.
(“No, not the Orang Utan, you filthy animal!! Pi! Kill it KILL IT!!!)

 

Bonus:India punya Pi, bocah yang berkawan dengan Richard Parker si harimau bengal.
Indonesia? Jangan khawatir… Indonesia punya Abdullah Soleh :

 

Pic Source :

Richard Parker

 – Cover buku Life of Pi

 

 

 

 

2 thoughts on “Review Life of Pi. Or My Never Ending Hatred Towards Hyena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s