The Dark Knight Rises: The Epic Conclusion to the Dark Knight Legend (??)

Sejak trailer Dark Knight Rises keluar tahun lalu, tulisan yang muncul di akhir video selalu kurapal macam mantra:

ImageNope.
The Dark Knight was an *Epic* sequel, and Dark Knight Rises is…just … a conclusion.

Dark Knight Rises memang punya beban berat meneruskan Dark Knight yang sukses luar biasa. Tapi dengan jargon ‘Epic Conclusion‘ tadi ya ga salah juga kalau ngarep film yang mengakhiri trilogi ini bakal jadi yang paling badass di antara dua pendahulunya.

Biar begitu, The Dark Knight Rises tetap sangat layak untuk ditonton (Meeen… ada gitu filmnya Christopher Nolan yang ga layak tonton??)

***

Film dibuka delapan tahun setelah huru-hara Joker berhasil dipadamkan. Batman dicap sebagai kriminal dan gak pernah lagi berkeliaran di jalanan Gotham. Harvey Dent mendapat label pahlawan yang hari kematiannya selalu diperingati sebagai ‘Dent Day’. Sementara Bruce Wayne yang patah hati ditinggal mati Rachel mengurung diri di rumah mewah(warisan bapak)nya.

Namun semua rutinitas ini berubah ketika Negara Api menyerang   muncul Bane, kriminal bertopeng yang bersama pasukan huru-haranya, menciptakan chaos di Gotham. Belum lagi Selina Kyle alias ‘CatWoman’, pencuri seksi yang nggak jelas kawan atau lawan. Masih dibantu si polisi jujur Jim Gordon, kini bertambah satu lagi suporter Batman, polisi muda John Blake.

***

Mari ngomongin cakep-cakepnya dulu.

Walau aku lumayan suka The Avengers & Amazing Spiderman, kalau dibandingin Dark Knight Rises dua jawara box office 2012 tadi jadi kaya Mighty Morphin Power Rangers. Levelnya beda, bro.
Plot lebih pelik, ceritanya lebih gelap, dan juga lebih kolosal ( ada adegan mirip perang  Mahabarata mini ala pulisi :D)

Dark Knight Rises juga berhasil ‘memaku’ penonton, terutama di dua per tiga akhir film. Kalau di Dark Knight , kita bakal bertanya-tanya ‘what would Joker do?’  karena doi gila abis, maka di film ini yang kita tanyakan adalah ‘what would Batman do?’. Soalnya, penonton dibuat putus asa dengan nasib Gotham yang gak punya polisi & ditelantarin pemerintah AS, sementara si Batman geletakan nonton tipi gara-gara sakit punggung.

Pemain yang dipasang juga oke, menurutku.

Christian Bale, yang sudah teruji jago ‘berubah bentuk’ dari satu peran ke peran lain, melakukan transformasi Bruce Wayne dengan meyakinkan: mulai dari pria loyo bermata cekung, sampai jadi lelaki seger-buger-berseri-seri yang terapi On Clinic- nya berhasil.

Anne Hathaway!
Ternyata aku suka si Mba ini jadi Catwoman. Maap kalau awalnya aku meragukanmu, Mbaknya.

Catwoman-nya Hathaway bukan kucing rumahan yang kebanyakan grooming. Dia kucing jalanan yang ga percaya siapapun, ga ragu nyakar, dan jago nyolong.
Dan  kostumnya aku suka, terutama visor yang kalo lagi ga dipake bisa ditaro di atas kepala dan jadi semacam pita unyu :3

***

Dan sekarang kekurangannya, Gaaah… dari mana aku harus mulai.

Bane!
Biarpun secara matematis (fisik + taktis) Bane menang telak atas Joker, tapi si cowo berbedak cemong-cemong  dan bergincu ini tetap memenangkan hati penonton (jiaahh).
Ini di luar si Ledger yang memang ngganteng loh ya.

Aku inget waktu pertama nonton Dark Knight, i got chills every time Joker was on screen.
Sampe sekarang aku masih inget kebiasaan Joker melelet-leletin lidah dan berdecak-decak.
Dia ikonik dan berhasil mematok standar super villain kelewat tinggi.

Sementara Bane… for me, he’s just another super villain.
Dengan badannya yang sterek, dia memang keliatan brutal, ganas n berbahaya. Tapi cuma buat Gotham + Batman, bukan buat penonton.

Bukan salahnya Tom Hardy sih.. Masker yang dipakai Bane menghalangi si Hardy berekspresi, sementara si Joker dengan gampangnya bisa celamitan.
Bukan salahnya Nolan juga, karena aselinya di komik tampang si Bane memang kaya gitu.

Tapiii… mungkin ini cuma aku aja, tapi aku nggak suka suara yang dipake Bane. Macam Zordon-nya Power Rangers. Ga bikin serem malah bikin geli.

Sebetulnya aku juga selalu terganggu dengan suara husky-husky-piye yang dipakai Batman. Tapi ini masih bisa kutolerir, karena…

 

 

Oh, dan adegan Bane matahin punggung Wayne kurang eksplisit, jadi kurang mantap😀

Satu lagii… betapa terlalu Hollywood-nya pelem iniii…
Bagaimana si Batman selalu muncul secara ajaib di saat-saat kritis dan bagaimana si kalong ini sempet-sempetnya mengucapkan kata-kata mutiara n nyium cewek di saat lima menit sebelum bom meleduk. Meh.

Dan ‘epic-conclusion’ dari si Dark Knight sepertinya ga cocok blas sama hukum thermonuclear (opo iki? sok-sokan wae kowe ningg)

 

Tapi semua kumaapkeun karenaa…

 

YES! YES YOU ARE!!

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s