Reinkarnasi si Gadis Bertato Naga

The Girl with The Dragon Tattoo

Cast : Daniel Craig, Rooney Mara, Christopher Plummer
Director : David Ficher
Rating : 8,1 (IMDb), 87 persen (Rotten Tomatoes), 4/5  (siAnink)

Selama 40 tahun Henrik Vanger (Christopher Plummer), terteror oleh kiriman bunga kering yang selalu ia terima pada hari ulang tahunnya. Ia yakin bingkisan tanpa nama tersebut merupakan kiriman dari orang yang telah membunuh keponakan kesayangannya, Harriet.

Mikael Blomkvist (Daniel Craig), jurnalis yang sedang tersandung masalah, dan Lisbeth Salander (Rooney Mara), gadis hacker yang sarat masalah, diminta untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Harriet, karena tubuh gadis ini tidak pernah ditemukan. Penyelidikan ini ternyata mengarah pada serangkaian pembunuhan sadis, sekaligus rahasia mengerikan dari anggota klan Vanger

***

Seperti biasa, setiap postingan pasti diawali obrolan ngalor ngidul dulu. Kali ini tentang Let Me In , film Vampir-nya si adek Chloe G. Moretz.

Girl With Dragon Tattoo (GWDT) punya ‘garis hidup’ yang serupa-tapi-tak-sama dengan Let Me In.
Keduanya berasal dari buku Best Seller Swedia, diadaptasi menjadi film di negara itu, kemudian dicomot oleh Hollywood.

Untungnya GWDT ga ngulang ‘kesalahan’ yang dilakukan Let Me In. Bukannya Let Me In jelek, bukan. Filmnya bagus, tapi sayang banyak scene kunci film ini dibuat dengan hampir sama persis (termasuk shot & detail) dengan Let The Right One In, film berbahasa Swedianya.
Akhirnya ada yang beranggapan kalo film ini dibuat untuk orang-orang Amerika yang males baca subtitles.

Beda dengan Let  Me In, GWDT 80 persen berbeda dengan film versi Swedianya. Detail dalam novel yang disingkirkan dari film pertama dimunculkan dalam film ini.
Dibandingkan dengan  versi Swedia yang banyak mengubah detail dalam novel, versi Hollywood ini cenderung lebih ‘setia’ dengan isi novelnya karangan (almarhum) Stieg Larsen ini.

Tapi harus kuakui kalo GWDT versi Hollywood ini punya nilai plus tersendiri yang membedakannya dengan film versi Swedia, dan bahkan novelnya: mereka membawa kegilaan para tokoh yang ada dalam film ini satu level lebih tinggi.

Ini terasa sejak opening film yang abstrak / absurd/ entahlah-apa-kata-yang-pas-menggambarkannya, yang diiringi dengan Immigrant Song-nya Led Zeppelin (yang ternyata diaransemen ulang oleh Trent Reznor dan dinyanyikan Karen O (!!)) .
Atau saat si tokoh antagonis memulai penyiksaan dengan diiringi musik riang gembira.
Atau pengakuan Lisbeth Salander saat dia membalas dendam pada pemerkosanya secara brutal.

Okay.

Tapi kita simpan si Mbak Lisbeth di sesi selanjutnya.

Untuk sebuah tontonan, GDWT lumayan oke, terutama buat yang suka film bergenre misteri atau kriminal. Tapi menurutku alur GDWT ini kurang rapi. Ngebut di bagian awal, lalu sedikit bertele-tele di bagian tengah. Tapi menurutku yang cukup mengganggu adalah subplot tentang konflik yang dihadapi Mikael dengan Wennerstrom.

Masalahnya, subplot ini lebih banyak diulik pada awal cerita, secara teknis dilupakan sepanjang pertengahan cerita, lalu dibahas lagi secara panjang lebar setelah klimaks film. Energi penonton sudah tersedot mengikuti teka-teki keluarga Vanger, jadi  ketika masalah Wennerstrom diungkit lagi, penonton (atau setidaknya aku), mulai ngikutin film sambil setengah beler.
Untung di bagian ini ada bagian yang ‘seger-seger’, saat Lisbeth *SPOILER ALERT* melakukan penyamaran menjadi mbak-mbak canteek nan kece😛

***

Mikael Blomkvist : What are you doing?
Lisbeth Salander : Reading your notes
MB: But they’re encrypted!?
LB : *sigh* Please.

Sepertinya cukup aman kalau aku menyebut karakter Lisbeth Salander  adalah elemen paling kuat yang membuat trilogi ini bernyawa.
Man, dengan penokohan seperti ini, Lisbeth Salander mungkin manjadi salah satu tokoh idola bagi para stalker/   hacktivist  Anonymous.

Dan mau nggak mau aku jadi membandingkan Lisbeth yang dihidupkan oleh Noomi Rapace (GWDT versi Swedia) dengan Rooney Mara.

Lisbeth Salander. Kiri: Noomi Rapache. Kanan: Rooney Mara

 Lisbethnya Noomi dan Rooney sama-sama menarik, namun dengan daya tarik yang berbeda. Bertolak belakang, malah.

Secara fisik, Lisbeth dalam novel lebih dekat dengan yang digambarkan Rooney: anak punk kerempeng yang keliatannya hobi ngelem, tapi sebenarnya punya tampang model.
Noomi kebalikannya : cewe punk berbodi kekar yang kelihatannya tahan banting + bulu ketek model Tante Eva yang gagah perkasa (maap, yang ini harus disebutkan. I can’t get over it, what has been seen can’t be unseen)

Karakter keduanya juga beda. Rooney selalu kelihatan rikuh di sekitar orang lain, sementara Noomi punya rasa percaya diri tingkat tinggi.
Rooney is socially awkward and Noomi just simply doesn’t give a F.

Noomi kelihatan kuat di luar, namun rapuh di dalam.
Sementara dari luar Rooney kelihatan seperti kucing liar penakut: ceking dan selalu waspada terhadap segala sesuatu yang lebih besar dari badannya. Tapi begitu disenggol sedikit, ternyata si kucing liar ini langsung menyerang secara bar-bar.
Parahnya lagi, kucing liar ini ternyata kena rabies. Yap, Lisbeth yang ini gila, Jendral.

Tapi yang aku suka dari versi Hollywood ini adalah hubungan antara Lisbeth dengan walinya, Holger Palmgren, yang dieksplorasi lebih dalam. Somehow sosok Lisbeth jadi terlihat lebih manusiawi.
Namun tetap membawa virus rabies, tentu saja.

Pic Source

The Girl With The Dragon Tattoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s