Red Riding Hood: Not So Dark FairyTale

Red Riding Hood
Director: Catherine Hardwicke
Cast: Amanda Seyfried, Gary Oldman, Shiloh Fernandez, Max Irons
Rating : 4,9/10 ( IMDB ),  12% (Rotten Tomatoes), 2/5 (Rating si Anink)

Sinopsis: Valerie (Amanda Seyfried) yang menjadi kembang  di desanya (duh, bahasanya) dijodohkan dengan Henry (Max Irons) oleh orang tuanya, namun ia hanya mencintai seorang penebang kayu yatim piatu, Peter (Shiloh Fernandez). Awalnya Peter dan Valerie berencana kawin lari, tapi gagal setelah sesosok werewolf mengamuk dan membunuh kakak perempuan Valerie. Seorang pendeta yang terobsesi membunuh werewolf kemudian datang ke desa mereka dan mengumumkan werewolf itu sebenarnya adalah salah satu dari penduduk desa. Tak lama kemudian sang werewolf kembali menyerang desa mereka, dan berhadapan dengan Valerie. Anehnya, Valerie tidak dibunuh makhluk jadi-jadian itu, bahkan ia mengerti perkataan sang serigala yang mengajaknya pergi meninggalkan desa untuk hidup berkelana bersamanya.

***

Oke, ini semacam sekapur sirih:
Awal tahun 90an aku tinggal di Denpasar , dan saat itu siaran TV yang masuk ke tempat tinggalku baru TVRI dengan Dunia Dalam Berita-nya yang melegenda itu. Karena itu saat liburan di rumah Mbahku di Jakarta, jarang sekali posisi dudukku di depan TV  bisa digeser (Waauw… RCTI!!).

Nah, saat nonton di rumah Mbahku itulah aku ingat pernah nonton film yang menurut pikiranku dulu adalah film Cinderella versi aliran sesat. Bagaimana tidak? Di film itu, saat prosesi pencarian sang putri dengan mencoba sepatu kaca, kaki kedua kakak tiri Cinderella yang nggak muat….dipotong supaya masuk ke sepatu sial itu.

Film sesat, kan? Mana ada cerita Cinderella yang kaya gini?

Tapi kemudian aku tahu…

(Once upon a time… before Disney ruined the awesomeness of gruesome and bloody fairy tales of Freddy Krueger’s bed time stories..)

Acara potong-memotong kaki di film Cinderella itu ternyata sesuai dengan dongeng yang dicatat oleh Grimm bersaudara (Baca Cinderellanya Grimm disini).

Hey, Jerman bahkan mengabadikannya dalam bentuk perangko! Neat!

Intinya, dulu cerita dongeng tidak semanis apa yang sekarang orang bilang sebagai ‘cerita dongeng’.
Dongeng zaman baheula bisa dibilang lebih mirip dunia fantasinya Tim Burton dikawin silangkan dengan Jason dari Friday the 13th.

Eniwei, back to the Red Riding Hood.
Begitu mendengar bakal ada film Red Riding Hood yang nuansanya gelap, aku langsung memasukkannya dalam must-watch list, karena 1) Red Riding Hood jarang diadaptasi dibanding dongeng yang lain 2) Aku lumayan suka si Amanda Seyfried 3) Waw, akhirnya dongeng kembali ke jalan yang benar.

Tapi ternyata kenyataan berbicara lain (haiyah).

Jualan utama Red Riding Hood adalah sinematografi .Permainan kontras warna merah jubah dengan salju-hutan-dan rambut pirang Valerie memang cakep dilihat.
Selain itu penampilan fisik para tokohnya (Peter, Valerie dan Henry) memang seperti keluar dari buku-buku dongeng. Tapi sudah, itu saja.

Di banyak review yang aku baca, salah satu tanda bahwa sebuah  film berhasil adalah penonton jadi peduli akan nasib tokoh-tokohnya, bahkan ikut merasakan apa yang mereka rasakan.
Dan aku nggak peduli sama apapun yang terjadi sama mereka.

Satu-satunya yang membuatku tetap bertahan di depan layar adalah untuk tahu siapa sebenarnya si werewolf ini, dan ternyata  tebakanku salah. Dan untuk hal ini, Red Riding Hood kukasih dua bintang. Adil toh?😀

____________________________________________________________________________

Oh, dan satu lagi. Tokoh utama wanita, Valerie samar-samar mengingatkanku sama Isabella Swan.

"Did you just call me?"

Tentunya Isabella Swan yang ini. Yang mana lagi coba?

Entahlah, aku nangkep beberapa persamaan tipis antara dua tokoh ini:

Gadis belasan tahun (Bella / Valerie), tinggal di daerah terpencil yang lokasinya berdekatan dengan hutan (Forks/ Valerie’s Village, can’t remember the name). Ia terlibat cinta segitiga (Edward & Jacob / Henry & Peter), dimana kedua cowok ini mau melakukan apapun demi menyelamatkan si Gadis. Si Gadis punya kemampuan khusus bila berhadapan dengan makhluk supranatural dalam film (bisa menghalangi si vampir membaca pikirannya / bisa membaca pikiran si Werewolf), dan entah terpaksa atau sukarela, ia sempat menjadi umpan untuk si makhluk (Bella di Twilight  sukarela jadi makanan untuk vampir jahat / Valerie diumpankan agar si Werewolf muncul)

Apalagi menurutku kedua film ini sama-sama lebih menekankan sisi romantisme dibanding nuansa horor atau fantasinya. IMO, Red Riding Hood dan Twilight adalah film percintaan yang setting brightness and contrastnya diatur hingga jadi lebih gelap #nobash.

Mungkin saja Catherine Hardwicke, sutradara Red Riding Hood, memang terinspirasi Bella dan Twilight sehingga wajar saja bila… Tunggu dulu!
Catherine Hardwicke ternyata juga menyutradarai Twilight.

Oke.
Baiklah kalau begitu.

***

Pic Source:
1. Red Riding Hood
2. Stepsisters stamp
3. Isabella Swan, beloved lady from Twilight Saga

One thought on “Red Riding Hood: Not So Dark FairyTale

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s