Joger Jelek, Joger Dicari [1]

KALAU ANDA SUKA JOGER, BERARTI ANDA WARAS

TAPI KALAU ANDA TIDAK SUKA JOGER BERARTI ANDA LEBIH WARAS

***

Tersenyum? Tidak heran. Jarang ada orang yang tidak geli setelah membaca tulisan yang tertera pada produk Joger ini. Mungkin karena alasan inilah banyak orang kemudian berbondong-bondong membeli produk yang menelurkan satu desain setiap harinya itu. Atau kalau sedang sial karena kocek kosong dan tidak bisa pergi ke Bali, titip saja pada teman atau keluarga yang akan berlibur ke Bali.

Mengapa harus ke Bali? Tidak lain dan tidak bukan karena Joger hanya dijual di satu toko di satu sudut pulau dewata. Sebelumnya, ada dua outlet Joger lain yang terletak di Denpasar dan beberapa cabang di Jakarta, namun ditutup sejak tahun 80-an. Sekarang, bila seseorang ingin memiliki produk Joger, ia harus menuju Jalan Raya Kuta, dimana terdapat satu-satunya outlet yang menjual produk Joger asli di muka bumi ini.

Keunikan Joger tidak hanya sampai disini. Dalam dunia bisnis, Joseph Theodorus Wuliandi (alias Mr. Joger) pemilik Joger, memainkan strategi nyleneh dalam bisnisnya. Bayangkan saja, disaat produk lain menggembar-gemborkan keunggulan produknya, Joger malah menjelek-jelekkan produknya sendiri dengan tag-line mereka yang terkenal: Joger Jelek, Bali Bagus. Selain itu setiap pengunjung dibatasi pembeliannya sebanyak 12 item perhari. Tepat seperti yang tertulis pada sebuah papan di halaman Joger: Dilarang Membeli Terlalu Banyak!

Meski banyak hal aneh yang diterapkan dalam sistem pemasarannya, strategi Joger yang sering disebut sebagai anti-marketing ini, sama sekali tidak memundurkan perkembangan tempat ini . Buktinya pembeli terus saja mengalir ke Joger, terutama pada musim liburan. Kendaraan-kendaraan pribadi yang bernomor polisi selain DK (nopol daerah Bali) juga banyak diparkir disekitar Joger, bahkan terkadang menimbulkan kemacetan lalu lintas disekitar outlet yang terletak cukup dekat dengan Bandara Internasional Ngurah Rai ini.

Pertama kali memasuki pelataran parkir Joger, kita sudah disuguhi berbagai silang kalimat dengan guyonan ala Joger yang tertulis di tembok maupun papan nama  ’Pabrik Kata’ ini. Toko souvenir paling terkenal di Bali ini ukurannya tidak terlalu luas, maka jangan heran atau cepat naik darah bila kaki terinjak atau barang incaran sudah disambar oleh pengunjung lain terlebih dulu.

Secara umum, terdapat tiga jenis barang yang dijual di toko yang dibuka pada jam 10.00 WiJo (Waktu Indonesia Bagian Joger) ini. Yang pertama adalah barang kerajinan khas Bali, mulai dari sendok dan garpu berukir, sampai tas anyaman bambu. Barang-barang inilah yang pertama kita lihat ketika memasuki Joger. Masuk lebih kedalam kita akan menemukan sebuah ruangan kedua yang terpisah dengan ruangan sebelumnya. Sebuah jalan setapak dari kayu dengan kolam ikan yang berada dibawahnya menghubungkan kedua ruangan ini dengan apik. Ketika menuju ruang kedua ini Joger kembali bercanda dengan para tamunya: setiap tamu yang menuju ruang ini ditempel stiker pengenal VIP. Bukan, stiker ini tidak menunjukkan bahwa para pengunjung adalah Very Important Person, melainkan Very Iseng Person.

Di ruang kedua inilah jualan utama Joger digelar. Beraneka kaos, tas, topi, gantungan kunci, sampai sandal jepit menunggu untuk diserbu pembeli. Dan ya, kata ’diserbu’ memang tidak berlebihan untuk menggambarkan keriuhan para pengunjung Joger dalam ’memperebutkan’ barang incarannya. Di sini memang berlaku hukum rimba: siapa cepat, dia dapat. Jangan harap para pramuniaga Joger akan membantu kita mencarikan ukuran baju atau sandal yang pas dengan ukuran kita, karena mereka sudah sangat sibuk dengan pekerjaan menyetok produk untuk dipajang.

Puncak dari segala keriuhan ini adalah saat musim liburan sekolah. Saat musim ini tiba, ratusan pengunjung dengan beragam dandanan dan juga logat daerah berkumpul menjadi satu,  saling berteriak untuk memastikan setiap kerabat di tempat asal telah mendapat jatah sehelai kaos Joger atau sepasang sandal jepit bertanda tangan sang pemilik Joger.

Joger mematok harga yang relatif terjangkau untuk produk-produknya. Kaos Joger berwarna dasar putih dilepas dengan harga 50 ribu rupiah, sedangkan yang berwarna dijual 55 ribu rupiah. Sepasang sandal jepit Joger dibandrol dengan harga 30-35 ribu rupiah, sementara tas Joger dijual dalam kisaran 100 ribu rupiah. Salah satu produk Joger yang menarik adalah jam yang berjalan mundur, dijual mulai 40 ribu rupiah untuk ukuran terkecil.

Selain keunikannya, harga yang tidak terlalu mahal inilah yang membuat produk-produk Joger ini menjadi primadona. Ini berbeda dengan komoditas Joger ketiga, yaitu benda-benda antik dari berbagai belahan dunia. Showroom untuk barang-barang eksklusif ini letaknya terpisah dari tempat penjualan t-shirt sebelumnya. Berbeda dengan ruangan sebelumnya, aura ketenangan seketika menyergap saat kita memasuki ruangan ini. Tidak banyak memang, pengunjung yang tertarik untuk melihat koleksi patung perak Budha, seperangkat alat upacara minum teh dari Jepang, atau koleksi samurai dan pedang dari berbagai belahan dunia.

Berbelanja di Joger, tidak hanya perkara menukar segepok uang dengan beberapa helai kaos atau sepasang sendal jepit. Lebih dari itu, Joger menawarkan pengalaman tersendiri dalam berbelanja, sekaligus mencoba meyakinkan bahwa bisnisnya tidak untuk mengejar keuntungan semata, melainkan juga kesenangan, baik bagi Joger sendiri, maupun bagi pembelinya. Tengok saja kata-kata dalam sebuah produk Joger, Lebih baik satu tapi cukup, daripada banyak tapi kurang. Joger pun sepertinya tidak ambil pusing, apakah kedatangan kita kedalam toko ini untuk membeli barang, atau hanya sekedar cuci mata, karena begitu melangkah keluar dari Joger, kita dilepas dengan ucapan selamat tinggal yang ramah nan manis: Membeli tidak membeli, tetap thank you.


[1] Postingan ini sebenarnya pertama kali ditulis untuk kepentingan Bulaksumur Pos dan kemudian ditulis ulang dengan beberapa revisi untuk keperluan pribadi (baca: ngelamar pekerjaan, wekekeee….). Karena sepertinya lebih bermanfaat kalo diposting di blog, maka disinilah tulisan ini terdampar sekarang =)

One thought on “Joger Jelek, Joger Dicari [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s