Perahu Kertas : The Review

Perahu Kertas Penulis: Dewi Dee
Penerbit: Bentang
Tebal:  Lumayan sakit kalo dipake buat nggaplok
Sinopsis: Kugy, pribadi unik penggemar jam tangan kura-kura ninja bertemu dengan Keenan, seorang pelukis yang menyimpan rapat-rapat perasaannya. Dan hanya keduanya yang bisa mengerti satu sama lain, kecuali untuk satu hal: mereka sama-sama jatuh cinta.

Tidak hanya itu, kisah Kugy dan Keenan juga dibalut kisah persahabatan, konflik keluarga dan juga perjuangan untuk menggapai cita-cita. Tak hanya itu, buku ini juga bercerita tentang cinta segiempat antara Kugy, Keenan, Luhde dan Remi, yang memaksa hati untuk memilih.

Duh, review-ku kok jadi kaya sinopsis film2 alay di Indo***r ya?

***

Okeee, pertama kuakui, review ini (dan update blog-ku ini) keluarnya lamaaaaaaa banget. Maap, kebiasaan males nulis lagi kumat nih (mencari sebab… serta mencari alasan…)

Reaksi pertama  baca Perahu Kertas adalah: yakin ini tulisan Dewi Dee? Kok mirip teenlit yang biasa dibaca temen2 adekku yang alay2 itu? (Dan banyak juga pembaca Perahu Kertas yang berkomentar kalo novel ini mirip teenlit)

Setelah lewat dua-tiga bab… reaksi selanjutnya adalah: Oh…, ya…ya… ini memang tulisan Dee. Bukan teenlit, walau mirip. Mungkin aku harus menyebutnya Deelit. Oh, tapi setelah kupikir-pikir jangan deh. Soalnya jadi mirip kata ‘slilit’ which means makanan yang nyempil di gigi. Iyuh…

Perahu Kertas kukatakan mirip teenlit karena (awalnya) bercerita tentang kehidupan  remaja-remaja SMA, dan diceritakan dengan bahasa yang ringan sekali. Tapi jangan salah, walaupun bahasanya ringan, bukan berarti hambar seperti teenlit kebanyakan. Hey, yang sedang kita bicarakan adalah TULISAN DEE disini, jadi bisa kupastikan hambar adalah rasa yang mustahil muncul ketika membaca novel Dee.

Ini hanya pendapat pribadi siAnink, namun dari dulu aku suka dengan pilihan kata-kata yang dipilih oleh Dee. Nggak biasa dan bikin kaget. Dan pilihan kata yang ditulis Dee untuk setiap tokoh, memberikan karakter tersendiri pada mereka.

Misalnya saja saat membaca bagian yang menceritakan tokoh Kugy, kita seakan dibawa pada dunia Kugy yang cerah ceria bagai dunia dongeng. Sebaliknya ketika menceritakan bagian Keenan, seakan dunia menjadi abu-abu dan sedikit kelam (hayah, nulis opo aku ini. Makanya kalo lagi baca, lampunya dinyalain!!!)

Alasan kedua yang membuat novel ini dikatakan teenlit adalah: Perahu Kertas bercerita tentang…cinta. And guess what, dengan akhir yang bisa ditebak. Kalo ente-ente pade cuma mau tau ending Perahu Kertas, gak usah deh bali novelnya, baca aja review-ku ini. Kalo mau sedikit mikir, pasti tau deh, ending ceritanya.

Tapi sebenernya keasikan baca novel ini emang bukan kaya baca novel2nya Dan Brown. Aku ngerasa asik ngebaca novel ini bukan untuk tau endingnya, tapi untuk ngikutin jalan ceritanya. Untuk tau gimana alur cerita dikisahkan sehingga akhirnya kita ketemu sama si ending yang dari awal udah ketauan itu. Mudheng ga?

Tapi ngomong-ngomong soal ending, perasaanku terhadap ending Perahu Kertas sama seperti perasaanku sama ending 5 Cm.
Berpanjang lebar yang nggak perlu. Menurutku cerita ini berakhir lebih  manis bila diakhiri saat……(ups, nggak mau spoiler ah!!)
Intinya pada akhir bab sebelum epilog lah!!

Dan satu lagi menurutku yang ‘kurang’ dari Perahu Kertas. entahlah, pada bab-bab awal aku ngerasa Dee agak cerewet dalam memberikan segala deskripsi tentang tokoh-tokohnya. Tentang hubungan Noni dan Kugy, misalnya. Disitu diterangkan kalau Noni dan Kugy sudah temenan sejak lama, karena bapak mereka satu kantor, dan bla..bla..

Bukannya jelak…bukan!! Cuma kurasa lebih manis kalau segala deskripsi ini mengalir saja bersama jalannya cerita, bukan ditempel jadi satu halaman penuh.

Overall, buku ini layak dibeli loh!! SErius!!

Novel ini cocok dibaca untuk:
1. Pembaca teenlit yang ingin ‘naik kelas’
2. Orang yang ingin membaca tulisan-tulisan Dee tapi nggak kuat baca Supernova, terutama yang Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh (yep, aku ketemu banyak yang model ini)
3. Orang yang pengen tahu jalan cerita Perahu Kertas sebelum duduk di bangku bioskop (Yup, kabar terakhir yang kudapat, Perahu Kertas bakal difilmin!!! ).

4 thoughts on “Perahu Kertas : The Review

  1. Quote :
    Setelah lewat dua-tiga bab… reaksi selanjutnya adalah: Oh…, ya…ya… ini memang tulisan Dee. Bukan teenlit, walau mirip. Mungkin aku harus menyebutnya Deelit. Oh, tapi setelah kupikir-pikir jangan deh. Soalnya jadi mirip kata ’slilit’ which means makanan yang nyempil di gigi. Iyuh…

    hati-hati ngetik “slilit” salah nulis bisa jadi “s***t” which means “Lubang pembuangan Manusia”
    Kidding….

    Kapan Giliran aku ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s