(Mencoba) Melihat dari Kacamata Ibu-Ibu

Bukan, postingan ini nggak bakal ngomongin siAnink yang minjem kacamata emaknya

Definitely not talking about this crap
Definitely not talking about this crap

 

Ini (lagi-lagi) tentang siAnink yang mulai menyadari satu lagi tanda bahwa dia mulai masuk ke usia dewasa: Para perempuan yang tumbuh bersamaku sudah banyak yang jadi ibu.
And trust me, once a woman gave birth, she is not the same person ever since.

Sebelum punya si jabang bayi, siapapun yang mengenal mereka akan setuju kalau mereka adalah perempuan-perempuan yang memiliki tujuan yang tinggi dalam hidupnya. Mereka tipe perempuan yang sejak awal bercita-cita tidak akan berhenti dengan status “Ibu Rumah Tangga”.

Tapi namanya jalan hidup, nggak ada yang tahu.
Ternyata beberapa dari mereka berhenti dalam status itu.

Sekali lagi.
Mereka, perempuan2 dengan bakat dan kemauan besar, menghentikan cita-citanya demi status Ibu rumah tangga.

Bukannya hendak mengasihani mereka atau gimana.
Aku yakin itu pilihan itu mereka ambil karena memiliki resiko paling kecil (geez, kenapa aku percaya banget sama pendapatku ini ya)

Tapi sebagai orang-orang yang harus mengorbankan cita-cita yang sejak awal diperjuangkan, aku harusnya melihat banyak kesedihan disitu. 
I  mean there should be tons of sadness and sorrow, maybe with a little  grief or moan. 

Tapi ternyata nggak.
Yang kuliat adalah sedikit kekecewaan+banyak rasa ikhlas.

Nggak tahu ya, setiap kali aku melihat ibu-ibu muda ini bersama anak mereka, aku ngeliat kalo semuanya terbayar sudah.
Mungkin terdengar (atau terbaca) berlebihan, tapi setiap kali mereka melihat anak-anak mereka, semua definisi mereka tentang hidup ada pada bayi mereka.

Hidup mereka untuk anak mereka. Hidup mereka adalah anak mereka.|
Anak-anak mereka adalah hal yang terbesar yang berputar dalam poros kehidupan mereka.
Yang lainnya hanya debu kosmis tak berarti.

Bagaimana cita-cita masa muda dapat dikalahkan oleh makhluk-makhluk mungil yang cuma bisa nangis, beol dan ngompol…adalah satu hal yang sama sekali nggak kumengerti.
Atau belum kumengerti.
Semoga nanti aku bisa mengerti (tanpa harus mengorbankan cita-citaku yang sekarang, tentu saja!!!)

 

P.S:
Aku membayangkan tiga atau empat tahun lagi. When those little babies grow up: bigger, older, smarter…but less cute.
Saat mereka mulai belajar untuk meniru Malin Kundang dengan segala kedurhakaannya (ya, karena sebagai anak-anak, kita cuma bertingkah laku seperti anak-anak pada umumnya: boong, ngelawan orang tua, ngambil duit belanja emak buat jajan…)

Gimana perasaan ibu-ibu muda ini nantinya ya?
Saat tatapan penuh kasih ini tergantikan tatapan sedih dan marah?

Sama kaya perasaan ibuku dulu mungkin ya.
Maapkan anakmu ini Mak…..

2 thoughts on “(Mencoba) Melihat dari Kacamata Ibu-Ibu

    1. Ahaha..bukan abis dr rumah sapa2 Jeng. Cuma lg mikir aja. Btw aku bukanny ga suka anak2-aku suka kok- tp ya itu,ada yg blom kumengerti aja kali y.

      Wuidih, bs ngurus diri sendiri+bs diajak backpacking? Itu anak apa porter barang Jeng?
      Hwehehee..

      *menuju blog JengAjeng*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s