CampurAduk Pikiran, di Satu Sudut Ibukota

–Di satu sudut metromini no. 46–

Apalah gunanya pagi tadi aku melicinkan kemejaku kalau sekarang setiap penumpang di sebelahku seperti mengadakan perlombaan untuk membuatnya lecek??

Dan disela kewaspadaan mengamankan dompet dan segala barang bawaan dari tangan hina dina pencopet ibukota, aku melihatnya. Seorang laki-laki yang duduk diam disana, dengan mata terpejam dan telinga tersumbat sepasang earphone. Entah lagu siapa yang didengarnya, mungkin de Nasip atau EsTeh 12.
Entah, aku tak tahu, dan tak mau tahu.

Kemudian aku teringat satu definisi mengenai panca indra: sarana untuk menghubungkan diri kita dengan ‘dunia luar’.

Dan si Lelaki ber-earphone ini sudah ‘menyumbat’ dua panca indranya. Membatasi hubungan antara “dunia dalam dirinya’ dengan ‘dunia luar’.

Dan gelembung-gelembung pertanyaan muncul di kepalaku: Mengapa?
Apa tempat ini begitu membosankan bagimu, Ki Sanak?
Membuatmu stres?
Menekanmu, sampai kau mengambil tindakan yang bisa menyelamatkan kesehatan mentalmu?
(Hwokeh, siAnink mulai hiperbola)

Aku tidak tahu, walau aku benar-benar mau tahu.

Kalau aku, aku memilih tetap membuka panca indraku lebar-lebar:
Melihat wajah-wajah dengan bedak yang mulai luntur, walau jam baru menunjukkan pukul 7 pagi
Mencium samar wangi parfum yang dikalahkan sengaknya asap knalpot
Mendengar repetan kernet yang siap sedia meneriakkan tujuan berikutnya
Merasakan setiap dorongan dari penumpang yang berdiri disebelahku, setiap bis mengerem tiba-tiba dengan nakalnya
Mengecap keringnya lidah dan kerongkongan yang belum bertemu sarapan pagi ini…

 

Mungkin pikiranku ini hanya euforia para pendatang baru di Ibukota.
Para pendatang yang tak bosannya menjadi life-observer
Mungkin suatu saat kami (atau aku) akan berada dalam satu titik dimana kami (atau sekali lagi, aku) merasa bosan dan jenuh.
Mengambil tindakan eskapis terhadap dunia luar,
And be an indifferent person as well.

One thought on “CampurAduk Pikiran, di Satu Sudut Ibukota

  1. hahahhaha….. tulisan ini kamu banget deh nink,, jadi inget zaman2 ga enak itu..
    eh, itu Golden ages apa the Dark ages sih? =p
    keep posting yak😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s