District 9: Semoga Masuk Nominasi Oscar. Amin

district-9-poster

Pertama-tama biar kujelaskan, bahwa sebenernya ada tiga alasan kenapa seharusnya aku NGGAK SUKA sama film ini:
1. Film ini adalah film action yang penuh muntahan peluru, cipratan darah, dan isi kepala yang berceceran kemana-mana
2. Aku ga terlalu suka film sci-fi. I don’t really need those CGIs as sugar eye.
3. Aku jarang banget bisa suka nonton film manusiaVs. Bukan manusia (Entah itu manusia versus ular, lintah, kecoa, semut atau  zombie)

Tapi khusus District 9…. Si Anink Cinta Film Ini!!!

***

Film ini dimulai dengan terdamparnya sebuah pesawat luar angkasa diatas langit kota Johannesburg, Afrika Selatan. Selama beberapa waktu pesawat itu hany diam tak bergerak, sehingga pemerintah setempat memutuskan mendobrak masuk pesawat tersebut.

Disana pemerintah menemukan kumpulan makhluk luar angkasa berbentuk serangga yang kelaparan dan kebingungan. Pemerintah lalu mengevakuasi makhluk-makhluk luar angkasa yang disebut ‘Prawn’ ini  ke sebuah tempat bernama ‘District 9’.

Udang (prawn) yang ini nggak enak dimakan
Udang (prawn) yang ini nggak enak dimakan

Setelah 20 tahun berlalu, District 9 berubah menjadi tempat kumuh yang dihuni jutaan Prawn. mengingat manusia juga butuh tempat tinggal, mereka kemudian menuntut untuk dapat menempati  lahan di District 9 tersebut. Pemerintah lalu memulai program relokasi alien dari District 9 ke District 10, dimana seorang petugas bernama Wikus Van De Merwe menjadi semacam koordinator lapangannya.

Dalam salah satu operasi pemindahan yang dilakukan di sebuah gubuk milik Prawn yang bernama Christopher, si Wikus yang punya tampasng PNS  lapuk ini tersemprot cairan hitam yang dimiliki oleh Christopher. Beberapa waktu kemudian kesehatan Wilbur memburuk sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit. Disana baru diketahui bahwa Wikus bermutasi menjadi Prawn.

Wikus kemudian menjadi buruan pemerintah. Tubuhnya yang bersimbiosis secara sempurna dengan DNA alien membuatnya mampu mengoperasikan senjata alien yang berkekuatan hebat.

Mengingat manusia dan sifat rakus yang dimilikinya, pemerintah kemudian berusaha menguasai senjata alien tersebut, dengan menjadikan Wikus dan Prawn sebagai kelinci percobaan. Singkat cerita, Wikus harus bersatu dengan Christopher untuk menyelamatkan hidupnya, serta menolong para Prawn yang ternyata… hanya ingin pulang ke rumah.

***

Satu hal yang langsung kusuka dari film ini adalah: tidak bersetting Amerika, dan ga menjadikan tokoh Amerika sebagai superheronya (walau di awal film tetap ada sedikit nuansa Amerika dengan munculnya pertanyaan : mengapa pesawat ini tidak muncul di New York, melainkan Johannesburg).

Hal kedua yang kusuka adalah ‘keberpihakan’ film ini, dimana manusia lebih dipandang sebagai tokoh antagonis.
Seperti yang sudah kusebut diatas, aku benci film-film yang menceritakan ‘perjuangan’ manusia (super-protagonis) melawan para makhluk non-manusia (uber-antagonis).

Di film Arachinofobia misalnya. Apa sih salah si labah-labah kalau dia kebetulan beracun banget, terbawa ke Amerika tanpa semau dia, dan membela diri dari orang-orang yang mau menginjaknya?
Atau apa salah si buaya raksasa (judul film aku lupa) kalau dia kelaperan dan kebetulan banyak manusia menetap di halaman belakang sarangnya??

Di District 9 kita mendapat cerita yang jauh berbeda dari biasanya. Si Prawn, walau tampangnya horor, dan berkekuatan besar, dia agak bodoh dan sedikit naif (kecuali Christopher).  Sedikit mirip tokoh Giant di Doraemon, mungkin.
Film ini banyak memperolok manusia atas segala kerakusan, ketidak-manusiawian, dan keegoisan mereka.
Nonton film ini membuatku sedikit merasa malu mengaku manusia.

Film ini juga bisa dibilang komplet. Ada  bagian dimana aku merasa ngilu dan horor melihat kuku tangan Wikus yang lepas satu per satu. Pingin nangis melihat hubungan antara Christopher dengan anaknya. Merasa deg-degan mengikuti aksi perangnya.
Bagian drama dan aksi dalam film ini juga nggak digarap berat sebelah. Pas lah kombinasinya. Cihuy-lah pokoknya.

Awal nonton film ini terus terang aku agak pusing, soalnya banyak gambar yang diambil dengan teknik handheld camera. Jadi berasa nonton bioskop diatas bajaj. Tapi walau pusing, teknik itu berhasil bikin film ini lebih hidup. Selain itu film ini juga banyak menggunakan point of view kamera CCTV. Kita jadi ngerasa menguntit si Wikus kemana-mana, dari meja kantor sampai ke dalam WC.
Yang juga istimewa dari film ini adalah gaya penceritaannya yang semi-dokumenter. Jadi ada bagian dalam film ini yang memperlihatkan orang-orang yang diinterview,  atau potongan-potongan berita, yang membuat kita makin ‘masuk’ ke dalem cerita.

Kalau ada kekurangan film ini, mungkin adalah endingnya yang agak mengganjal buatku. Ada pertanyaan-pertanyaan kenapa ini nggak begini aja sih?
Tapi kekurangan ini menurutku ketutup sama keseluruhan film ini.

Terakhir, kalau boleh ngasih saran buat yang mau nonton film ini, jangan sampe telat masuk bioskop. Soalnya ceritanya sudah digeber dari detik-detik awal film. Memang ritme penceritaan kemudian agak melambat, tapi kemudian tancap gas sampai akhir film.

Nonton District 9 menurut siAnink kaya masuk rumah hantu yang digosipin berhantu beneran. Deg-degan sepanjang jalan. Dan ketika melihat tulisan ‘PINTU KELUAR’ dan merasa sudah aman, tiba-tiba ada yang nepok dari belakang. Mbak-mbak. Kakinya nggak nginjek tanah.

***

Judul: District 9
Cast, Sutradara, Produser, dll: mending liat IMDb

Film ini Cocok Untuk:
1. Orang yang doyan film action/ sci-fi
2. Orang yang doyan film ‘ga biasa’
3. Orang yang doyan film-film bagus (haaa subyektif skaleee)

Film ini ga cocok buat:
1. Mereka yang fobia darah
2. Mereka yang cuma suka film komedi romantis
3. Mereka yang cuma suka a-perfect-happy-ending
4. Mereka yang cuma pengen liat cowok ganteng/ cewek seksi

Komentar Temen Nonton 1 (Inge): Ini film kok nggak ada indah-indahnya ya?
Komentar Temen Nonton 2 (Heni): Filmnya keren ci. SiAnink seneng banget tiap ada orang yang kepalanya meledak.

 

Advertisements

Nerd Dudes Are Cool

Inget Rangga?
Cowo dengan kombinasi aneh: ganteng+nerd+jago bikin puisi,  yang akhirnya lari ke hutan belok ke pantai itu?
Kenapa kutulis kombinasi aneh?  back to the old days, cowok jago bikin puisi+ ganteng sepertinya menyalahi kodrat. Beda dengan cowo ganteng + jago main basket yang lebih bisa diterima akal sehat jaman itu.
Jadi setelah ditambahkan unsur nerd, baru deh, bisa diterima akal sehat =)

Lalu Peter Parker. Cowo aneh yang jago nyium cewek sambil kebalik. Karena ternyata dia punya kekuatan super gara-gara digigit labah-labah.

Contoh cowok aneh yang lebih ‘manusiawi’ mungkin dari Lars (Lars and The Real Girl), cowok yang punya semacam sakit mental, jatuh cinta sama sebiji sex doll.
Tapi biar begitu si Lars tetep dicintai seorang perempuan (aseli, bukan sex doll), dan warga kotanya.

Kalau nerd diartikan sosok yang aneh dan berbeda, mungkin Shrek bisa masuk hitungan. Ogre hijau menyeramkan ini pada akhirnya dapat bersanding dengan Fiona (dalam bentuk ogre juga), karena…. yah, sang putri jatuh cinta dan terkesan dengan  kebaikan hati ogre yang satu ini.

Dan masih banyak lagi cowo aneh yang bertaburan di film-film. Liat aja komedi slapstick remaja buatan Hollywood macam Superbad atau Extreme Movies, atau tokoh di drama serius macam Ricky Fitts (American Beauty).
Apalagi di FTV yang ditayangin  SCTV. Udah ga keitung  judul FTV yang nyeritain cewek ‘gaol’ yang akhirnya jatuh cinta sama cowo-cowo ‘di luar hitungan’ (cowok kampung dengan logat (sok) medok lah, cowok kutu buku, cowok kutu kupret…)

Para cowo itu kalo diliat-liat punya satu kesamaan: Mereka akhirnya dapet cewek yang paling cakep di film tersebut. Atau minimal dapet cewek normal lah.
Dan ternyata, setelah diperiksa lebih lanjut, si cewek akhirnya jatuh cinta sama cowok-cowok ini karena melihat inner-handsome yang dimiliki cowok-cowok tadi.

Di film-film ini, pesan moral yang ditawarkan adalah: ternyata jauh di balik kacamata bulat, rambut belah tengah berminyak, dan baju yang so-last-decade itu, terdapat seorang pria yang jauh lebih keren dari cowok-cowok  populer dengan lengan berotot itu. Cowok baik hati, jujur dan mampu menghargai perempuan.
Singkatnya: Pria Idaman Wanita.

Dan sedihnya, nggak semua yang kita liat itu bener.
‘Orang dengan cap aneh’ tetap jauh berada di ‘luar lingkaran’.

Aku punya temen, dan yah…aku dan semua temenku yang laen (yup, semua) menganggapnya sebagai sesosok cowok yang agak aneh. Beberapa malah menganggapnya psycho.
Dan reaksi temen-temen sama si cowok ini macem-macem, tapi umumnya kita memilih berada sejauh mungkin dan ga terlibat lebih jauh sama si cowok ini.
Sebenernya aku kasian sama dia, gimanapun dia cuma mau temenan. Tapi aku bener-ga punya referensi buat temenan dengan tipe orang seperti dia.
Yah…semoga kau menemukan sahabat sejatimu Nak…

Dan dulu  aku juga punya temen, yang sekarang ketemu lagi via dunia maya (haiyah bahasanya).
Dan ya, dia juga agak aneh.
Bedanya dengan temenku yang kusebut lebih dulu, lumayan ada yang mau berteman dengan dia. Hanya saja dari beberapa komentar dari temannya yang kubaca sepertinya ada kesan yang menunjukkan: Baiklah…sabar…sabar…yang kuhadapi memang orang yang jalan pikirannya ‘ga biasa’…

The thing is:  reality slaps you, geeky.
Nerd Dudes Are Cool (On Screen Only…)

No offense, ini bukan serangan buat orang-orang aneh.
Lagian sesama orang aneh dilarang saling mendahului.

Hanya  sedang membandingkan antara dunia fiksi dan dunia nyata.
And life would never be as good as fairytale.

Tapi tetep aja kuharap kita semua bisa bahagia pada akhirnya.
Karena kita berhak buat bahagia =)

God bless you, my dear weirdos.
God Bless us.

P.S  (I Love You (Not)):

Beda cowok aneh dengan cewek aneh di film?
Kalo cowok aneh, seperti yang kutulis diatas, biasanya ngedapetin cewek cakep yang ngeliat inner-handsome yang dimiliki si cowok aneh tadi.

Kalo cewek aneh biasanya dapet cowok ganteng yang ngeliat inner beauty si cewek aneh tadi.
Hanya saja ada satu syaratnya: si cewek aneh melakukan total make over, dari Ugly Betty jadi persilangan antara Natalie Portman + Megan Fox. Hottie girl with 4B (brain, behavior, and blah blah….)
—-> jangan lupa perhatikan klimaksnya: saat tokoh utama pria terkesima sampai ternganga ngeliat perubahan si cewek.

Bukti: She’s All That, House of Bunny, Bety La Fea, Not Another Teen Movie,  Princess Diary, May…and the list goes on…

Tanya Kenapahhh?????

Neng, Ayo Neng, Kite Maen Kawin-Kawinan =P

Jadi.. sianink baru menyadari bahwa…
Ternyata temen-temen cewek seangkatanku sudah banyak yang sah jadi bini orang
Dan menyadari bahwa stahun belakangan ini mulai sering menerima wejangan pernikahan
Dan tiba-tiba temen-temen bloggerku pada kompakan nulis tentang masalah kawin muda
Dan sianink yang banci tampil dan gak mau kalah akhirnya memutuskan untuk ikut-ikutan nulis tentang nikah muda

wehehehehe…..

Nah. Where should I start?
OK. Ngomongin fakta dulu aja deh. Faktanya adalah: sudah banyak temenku yang menggenggam status Nyonya.

Dan mereka mendapatkan status itu lewat berbagai alasan, mulai alasan klasik (udah ‘tek dung’ duluan), dijodohin ortu (pasti tipe ortu yang nganggep diri mereka masih idup di jaman siti nurbaya), sampe alasan yang aneh banget bikin alis kanan ketemu alis kiri (yah…maap. Yang ini  off d record, Ki Sanak)

Lalu setelah fakta…ada opini.

Kebanyakan temen-temen (cewek) ku berpikir kalau nikah itu bisa nanti-nanti saja.
Kalau sudah puas melihat dunia, kalau sudah meraih apa yang dicita-citakan, dan terutama kalau sudah ada yang melamar (wehehehee…. )

Dan temen-temenku yang berada dalam kelompok ini kebanyakan heran dengan keputusan nikah muda. Perlu digarisbawahi kalau mereka heran dengan keputusan nikah muda, bukan nggak setuju.

Sejujurnya sianink dulu juga bener-bener heran, kenapa temen -temenku cepat mengambil keputusan yang menyangkut kontrak (yang maunya) seumur hidup.
Keputusan yang membebankan tanggung jawab yang besar di pundak mereka tepat setelah para saksi bersorak lantang “SAH!!!”

Tapi setelah beberapa lama, aku jadi berubah pikiran.
Ternyata menikah itu ‘hanyalah’ sebuah pilihan.
Sama seperti pilihan melanjutkan S2 dulu setelah lulus kuliah.
Memilih bekerja di perusahaan Anu atau bikin usaha sendiri.
Memilih ke Jogja dengan cara ngesot atau koprol belakang.

Memilih dimana setiap pilihan pasti ada resikonya.
Bedanya, soal kawin- mawin ini resikonya cenderung lebih gede dari pilihan2 lainnya (kecuali pilihan ngesotVskoprol kali ya).
Makanya kudu dipikirin mateng2. Bukan sekedar keputusan yang diambil semalem (setuju, Tze!)
Dan keputusan menikah muda itu tentu dipilih berdasarkan logika.Pilihan mana yang punya resiko lebih kecil.
Misalnya perempuan yang udah ‘tek dung’ duluan mungkin mikir kalo nikah dengan bapaknya si jabang bayi resikonya lebih kecil buat dia sama anaknya. Dan menikahlah dia.
Atau dua orang yang udah ngerasa cukup masa pacarannya, mikir kalo ternyata nikah resikonya lebih kecil daripada tetep pacaran.
Atau ada orang yang udah punya calon, udah mapan ,siap lahir-batin, dan dikaruniai napsu tinggi,  ngerasa kalo nikah adalah jalan keluar dengan resiko terkecil untuk masalah kenapsuannya (opo iki), maka menikahlah dia. (Karena mau nggak mau kita harus nerima kalo: 1. Dalam hal napsu kadang kita masih kaya makhluk2 di bawah kita, susah diatur , dan 2. pernikahan merupakan satu institusi yang menghalalkan seks, diterima oleh masyarakat, diakui oleh pemerintah, dan diridhoi  Tuahn Yang Maha Esa)
Entahlah, dari seluruh omongan panjang lebar ini aku cuma mau ngomong kalo nikah muda itu ‘cuma’ satu keputusan yang diambil kalo orang itu berada dalam situasi untuk menentukan pilihan antara nikah muda ato nggak.
Dan menurutku mereka memilih dengan pertimbangan kalo keputusan nikah muda itu adalah keputusan dengan resiko terkecil.

Gitu aja.
Entahlah, akhir2 ini aku suka menyederhanakan segala sesuatu.

 

Ps. Buat Sueb: Cinta sebagai sarana menuju perkawinan atau Perkawinan adalah sarana untuk mendapatkan cinta??
Sebagai kapitalis sejati aku menyatakan bahwa aku akan menikah karena cinta, dan dalam pernikahanku aku akan melipat gandakannya.
MWAHAHAHAHAHAHAAAAA….!!!!

That Which Does Not Kill You…

Sekarang aku sedikit geli mengingat ketakutan-ketakutanku yang dulu. Ketakutan-ketakutan yang nggak beralasan.
Um…mungkin ketakutan yang beralasan, hanya saja alasan yang terlalu kubuat-buat.
Justifikasi bila satu saat nanti aku tak bisa, dan memilih untuk menyerah kalah (dan sayangnya, memang ada satu waktu dimana aku yakin kalau aku nggak bisa)

Tapi ternyata ketakutanku hanya setengah terbukti.
Setengahnya lagi nol besar.
Memang aku sempat jatuh lagi, tapi tak apa, anggap saja katarsis.
Jadi ingat satu quote dalam One Litre of Tears:

Apa yang salah dengan jatuh? Tidak apa terjatuh, karena kau selalu bisa bangkit lagi

Yah…mungkin memang pada akhirnya yang terpenting bukanlah apa yang sedang kuhadapi.
Tapi bagaimana aku melihat apa yang sedang kuhadapi itu.

Dan aku berjanji untuk tak pernah melihatnya melalui kacamata kuda lagi.

CampurAduk Pikiran, di Satu Sudut Ibukota

–Di satu sudut metromini no. 46–

Apalah gunanya pagi tadi aku melicinkan kemejaku kalau sekarang setiap penumpang di sebelahku seperti mengadakan perlombaan untuk membuatnya lecek??

Dan disela kewaspadaan mengamankan dompet dan segala barang bawaan dari tangan hina dina pencopet ibukota, aku melihatnya. Seorang laki-laki yang duduk diam disana, dengan mata terpejam dan telinga tersumbat sepasang earphone. Entah lagu siapa yang didengarnya, mungkin de Nasip atau EsTeh 12.
Entah, aku tak tahu, dan tak mau tahu.

Kemudian aku teringat satu definisi mengenai panca indra: sarana untuk menghubungkan diri kita dengan ‘dunia luar’.

Dan si Lelaki ber-earphone ini sudah ‘menyumbat’ dua panca indranya. Membatasi hubungan antara “dunia dalam dirinya’ dengan ‘dunia luar’.

Dan gelembung-gelembung pertanyaan muncul di kepalaku: Mengapa?
Apa tempat ini begitu membosankan bagimu, Ki Sanak?
Membuatmu stres?
Menekanmu, sampai kau mengambil tindakan yang bisa menyelamatkan kesehatan mentalmu?
(Hwokeh, siAnink mulai hiperbola)

Aku tidak tahu, walau aku benar-benar mau tahu.

Kalau aku, aku memilih tetap membuka panca indraku lebar-lebar:
Melihat wajah-wajah dengan bedak yang mulai luntur, walau jam baru menunjukkan pukul 7 pagi
Mencium samar wangi parfum yang dikalahkan sengaknya asap knalpot
Mendengar repetan kernet yang siap sedia meneriakkan tujuan berikutnya
Merasakan setiap dorongan dari penumpang yang berdiri disebelahku, setiap bis mengerem tiba-tiba dengan nakalnya
Mengecap keringnya lidah dan kerongkongan yang belum bertemu sarapan pagi ini…

 

Mungkin pikiranku ini hanya euforia para pendatang baru di Ibukota.
Para pendatang yang tak bosannya menjadi life-observer
Mungkin suatu saat kami (atau aku) akan berada dalam satu titik dimana kami (atau sekali lagi, aku) merasa bosan dan jenuh.
Mengambil tindakan eskapis terhadap dunia luar,
And be an indifferent person as well.

twinkle…twinkle….

Twinkle twinkle little star
 how i wonder what you are
Up above the world so high
Like a diamond in the sky
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are…

 

Ternyata lagu bintang kecil a la orang bule ini kalo diperhatiin rada mellow ya. Tentang seseorang yang cuman bisa mengagumi sesuatu dari jarak jauh (jiah!!).

Kaya si anink dong (hehe), cuma bisa ‘melirik’ jarak jauh via facebook, nontonin up-date statusnya, baca- note-note super pinter yang ditulis sama dia… Sounds pathetic, huh?

I just wonder what does it feel to be inside his “inner circle”?
Kok ada ya orang yang cerdasnya kaya gitu???
(makanya… jangan kelamaan ngaca, Nink…)

Well…twinkle-twinkle little star, how I wonder what you are!!

 

Ps. Urgent, this is not an unrequited love!!
hanya semacam kekaguman yang tak pernah terbahasakan =)