Once Upon A Time, Arya Kamandanu Buried A Time Capsule…

Nemuin satu barang yang sudah lama hilang secara nggak sengaja itu rasanya berkah banget. Apalagi yang ketemu adalah satu flash disk 4 Gb yang isinya tulisan dan foto-foto jadul :D
Rasanya seperti nemu time capsulenya Arya Kamandanu dan nemuin Pedang Naga Puspa di dalemnya  *haiyah*

Eniwei, aku nemu satu tulisan, yang dulu kuserahin sebagai contoh tulisan waktu aku ngelamar di Tem*o akhir tahun 2009. Meeen… lumayan ngakak bacanya. Banyak banget kata-kata ‘ajaib’ kusisipkan ke tulisan ini, mungkin dulu maksudnya untuk membuat orang-orang di Tem*o berpikir kalau aku cerdas (Semoga saat ini mereka gak menyesali keputusannya).

Jadi, ini tulisannya ( untuk blog ini, gambar sengaja disisipkan):

____________________________________________________________________________

Contoh Tulisan: Resensi novel ‘Negeri Lima Menara’

 

Laskar Pelangi Rasa Santri

Judul               : Negeri Lima Menara

Penulis             : Ahmad  Fuadi

Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama

Fikri ngambek. Keinginannya untuk masuk SMA umum ditentang oleh Amak[1]nya. Akhirnya Fikri mengambil keputusan setengah hati: kalau memang harus masuk pondok, biarlah aku sekalian masuk pondok yang jauh dari kampung halaman! Dan jadilah Fikri muda meninggalkan Pulau Celebes menuju sebuah pesantren di pelosok Jawa Timur: Pondok Madani.

Sejak pertama kali menginjakkan kakiknya di pondok itu, Fikri banyak menemui hal-hal baru. Yang pertama adalah suasana pondok yang memacu neuron otaknya untuk terus menyerap ilmu. Lalu ada lima sahabat baru dengan latar belakang jauh berbeda yang dipersatukan oleh hukuman jewer kuping di hari kedua mereka bersekolah. Dan tak lupa juga seorang siswa penjaga disiplin pondok yang saking mengerikannya sampai mendapat julukan Tyson.

Pondok Madani adalah sebuah kawah Candradimuka yang tidak ada henti-hentinya mengalirkan ilmu untuk Fikri dan sahabatsahabatnya. Tidak hanya pelajaran agama dan ilmu pengetahuan yang mereka pelajari, tapi juga ilmu untuk menjalani hidup. Mereka belajar cara menyeimbangkan hidup dari Rais pondoknya, belajar ilmu ikhlas dari para ustad mereka, bahkan belajar makna sportivitas dari seorang penebar horor seperti Tyson.

Di Pondok Madani ini juga mereka mempelajari satu ‘mantra’ ajaib yang jika dihayati maknanya dengan sungguh-sungguh, maka keinginan apapun dalam hidup dapat diperoleh. Mantra yang membius mereka berbunyi ‘Man Jadda Wajada’. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Namun sebetah apapun Fikri di Pondok Madani, sebuah cita-cita lama terus menggedor kesadarannya: ia ingin bersekolah di SMA umum. Ia ingin menggapai ilmu dunia setinggi-tingginya, menjadi almamater ITB, dan menjadi Habibie. Keinginan ini bagai bensin tersulut api setelah mendengar cerita Randai, sahabat di kampungnya, mengenai kehidupan SMA yang dijalaninya. Dan hasrat keluar dari Pondok Madani makin kuat begitu salah seorang sahabatnya memutuskan untuk meninggalkan Pondok Madani.

***

Satu ingatan melayang tak terkendali saat membaca Negeri Lima Menara: Laskar Pelangi. Ada sesuatu yang mengingatkan Negeri Lima Menara dengan novel fenomenal ini. Mungkin spirit yang sama dari kedua novel ini, yaitu dunia pendidikan. Mungkin pula gaya bahasa berbunga khas Melayu yang serupa tapi tak sama, mengingat Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi sama-sama berasal dari daerah Sumatera dan sekitarnya.

Bukan menuduh kemunculan Negeri Lima Menara sebagai sebuah kelatahan, namun tak dapat dipungkiri bahwa garis besar kedua novel ini tak jauh berbeda. Seorang anak (Ikal/ Fikri) memasuki sebuah institusi pendidikan yang kental bernuansa agama (SD Muhammadiyah Belitong/ Pondok Madani), membentuk sebuah ‘geng pertemanan’ dengan ‘nama resmi’ (Laskar Pelangi/ Sahibul Menara), dan mereka merancang pertunjukkan bersama (Pawai 17 Agustus/ Class Six Show), harus melepas satu sahabat pergi meninggalkan sekolah (Lintang/ Baso), hingga merasa cinta monyet pada pandangan pertama (A Ling/ Sarah). Bahkan bila sekuel Laskar Pelangi yang berjudul Sang Pemimpi juga ikut dihitung, maka makin tampak benang merah antara karya Ahmad Fuadi dan Andrea Hirata ini, yaitu sama-sama menjual mimpi. Atau lebih tepatnya sama-sama menjual semangat untuk meraih mimpi.

Diluar semua perbandingan dengan Laskar pelangi, Negeri Lima Menara merupakan sebuah makanan otak sekaligus hati untuk pembacanya. Ahmad Fuadi dengan lugas mengalirkan kisah dalam Negeri Lima Menara, dan tak sungkan memasukkan muatan lokal kedalam tulisannya. Misalnya saja ketika bercerita dengan setting Sumatera, A. Fuadi tidak canggung menggunakan bahasa daerah amak dan ambountuk menggantikan kata ibu dan saya. Begitu pula saat menceritakan kehidupan pondok, penulis sangat royal menyebar kata-kata berbahasa Arab di sepanjang tulisan. Untungnya hal ini tidak membingungkan pembaca, malah memperkuat setting penceritaan sekaligus membuat pembaca semakin masuk dalam cerita.

Buku pertama dari trilogi ini secara luwes menceritakan kehidupan khas santri pondokan dari sudut pandang orang pertama. Dari mata Fikri, pembaca dibawa pada kerasnya dunia pondok, sekaligus eratnya persaudaraan antara sesama santri. Pembaca diajak membayangkan bagaimana rasanya melawan kantuk saat dibangunkan untuk solat malam, sekaligus bersenda gurau bersama para santri sambil menikmati kopi hitam yang diseduh secara masif dalam ember besar yang biasa dipakai mencuci. Para santri ini juga membuat kita tersenyum dengan tingkah mereka saat mengintip para santriwati di pondok sebelah, atau terkesima saat menatap otot Arnold Schwarzenegger yang bertonjolan bagai ‘sapi bunting’. Bagaimanapun juga para santri ini adalah remaja laki-laki biasa dengan aktivitas hormon yang sedang tinggi-tingginya.

Cover negeri Lima Menara dipenuhi testimony bernada pujian dari banyak tokoh, mulai dari mantan presiden BJ Habibie, Riri Riza, Andy Noya, Ahmad Syafii Maarif, Emha Ainun Najib, sampai Farhan. Pujian itu tidak sekedar lip service belaka. Membaca Negeri Lima Menara bagai menyeruput segelas minuman pembangkit semangat. Bila dari luar negeri kita mengenal buku seri Chicken Soup For the Soul, maka Negeri Lima Menara bolehlah kita sebut sebagai STMJ for the Soul.

For The Soul.

Saat membaca lembar demi lembar Negeri Lima Menara, pembaca bagai mendapat resonansi dari semangat para santri pondok atas kalimat sakti Man Jadda Wajada. Sesungguhnya kalimat bijak inilah yang menjadi nafas novel ini. Nafas yang penulis coba tiupkan kepada pembaca, bahwa hanya mereka yang benar-benar mau berusahalah yang akan berhasil nantinya.


[1] ibu

Credit:

1. 5 Menara Pic
2. Tyson Pic
3. STMJ Pic

Comments (5)

Red Riding Hood: Not So Dark FairyTale

Red Riding Hood
Director: Catherine Hardwicke
Cast: Amanda Seyfried, Gary Oldman, Shiloh Fernandez, Max Irons
Rating : 4,9/10 ( IMDB ),  12% (Rotten Tomatoes), 2/5 (Rating si Anink)

Sinopsis: Valerie (Amanda Seyfried) yang menjadi kembang  di desanya (duh, bahasanya) dijodohkan dengan Henry (Max Irons) oleh orang tuanya, namun ia hanya mencintai seorang penebang kayu yatim piatu, Peter (Shiloh Fernandez). Awalnya Peter dan Valerie berencana kawin lari, tapi gagal setelah sesosok werewolf mengamuk dan membunuh kakak perempuan Valerie. Seorang pendeta yang terobsesi membunuh werewolf kemudian datang ke desa mereka dan mengumumkan werewolf itu sebenarnya adalah salah satu dari penduduk desa. Tak lama kemudian sang werewolf kembali menyerang desa mereka, dan berhadapan dengan Valerie. Anehnya, Valerie tidak dibunuh makhluk jadi-jadian itu, bahkan ia mengerti perkataan sang serigala yang mengajaknya pergi meninggalkan desa untuk hidup berkelana bersamanya.

***

Oke, ini semacam sekapur sirih:
Awal tahun 90an aku tinggal di Denpasar , dan saat itu siaran TV yang masuk ke tempat tinggalku baru TVRI dengan Dunia Dalam Berita-nya yang melegenda itu. Karena itu saat liburan di rumah Mbahku di Jakarta, jarang sekali posisi dudukku di depan TV  bisa digeser (Waauw… RCTI!!).

Nah, saat nonton di rumah Mbahku itulah aku ingat pernah nonton film yang menurut pikiranku dulu adalah film Cinderella versi aliran sesat. Bagaimana tidak? Di film itu, saat prosesi pencarian sang putri dengan mencoba sepatu kaca, kaki kedua kakak tiri Cinderella yang nggak muat….dipotong supaya masuk ke sepatu sial itu.

Film sesat, kan? Mana ada cerita Cinderella yang kaya gini?

Tapi kemudian aku tahu…

(Once upon a time… before Disney ruined the awesomeness of gruesome and bloody fairy tales of Freddy Krueger’s bed time stories..)

Acara potong-memotong kaki di film Cinderella itu ternyata sesuai dengan dongeng yang dicatat oleh Grimm bersaudara (Baca Cinderellanya Grimm disini).

Hey, Jerman bahkan mengabadikannya dalam bentuk perangko! Neat!

Intinya, dulu cerita dongeng tidak semanis apa yang sekarang orang bilang sebagai ‘cerita dongeng’.
Dongeng zaman baheula bisa dibilang lebih mirip dunia fantasinya Tim Burton dikawin silangkan dengan Jason dari Friday the 13th.

Eniwei, back to the Red Riding Hood.
Begitu mendengar bakal ada film Red Riding Hood yang nuansanya gelap, aku langsung memasukkannya dalam must-watch list, karena 1) Red Riding Hood jarang diadaptasi dibanding dongeng yang lain 2) Aku lumayan suka si Amanda Seyfried 3) Waw, akhirnya dongeng kembali ke jalan yang benar.

Tapi ternyata kenyataan berbicara lain (haiyah).

Jualan utama Red Riding Hood adalah sinematografi .Permainan kontras warna merah jubah dengan salju-hutan-dan rambut pirang Valerie memang cakep dilihat.
Selain itu penampilan fisik para tokohnya (Peter, Valerie dan Henry) memang seperti keluar dari buku-buku dongeng. Tapi sudah, itu saja.

Di banyak review yang aku baca, salah satu tanda bahwa sebuah  film berhasil adalah penonton jadi peduli akan nasib tokoh-tokohnya, bahkan ikut merasakan apa yang mereka rasakan.
Dan aku nggak peduli sama apapun yang terjadi sama mereka.

Satu-satunya yang membuatku tetap bertahan di depan layar adalah untuk tahu siapa sebenarnya si werewolf ini, dan ternyata  tebakanku salah. Dan untuk hal ini, Red Riding Hood kukasih dua bintang. Adil toh? :D

____________________________________________________________________________

Oh, dan satu lagi. Tokoh utama wanita, Valerie samar-samar mengingatkanku sama Isabella Swan.

"Did you just call me?"

Tentunya Isabella Swan yang ini. Yang mana lagi coba?

Entahlah, aku nangkep beberapa persamaan tipis antara dua tokoh ini:

Gadis belasan tahun (Bella / Valerie), tinggal di daerah terpencil yang lokasinya berdekatan dengan hutan (Forks/ Valerie’s Village, can’t remember the name). Ia terlibat cinta segitiga (Edward & Jacob / Henry & Peter), dimana kedua cowok ini mau melakukan apapun demi menyelamatkan si Gadis. Si Gadis punya kemampuan khusus bila berhadapan dengan makhluk supranatural dalam film (bisa menghalangi si vampir membaca pikirannya / bisa membaca pikiran si Werewolf), dan entah terpaksa atau sukarela, ia sempat menjadi umpan untuk si makhluk (Bella di Twilight  sukarela jadi makanan untuk vampir jahat / Valerie diumpankan agar si Werewolf muncul)

Apalagi menurutku kedua film ini sama-sama lebih menekankan sisi romantisme dibanding nuansa horor atau fantasinya. IMO, Red Riding Hood dan Twilight adalah film percintaan yang setting brightness and contrastnya diatur hingga jadi lebih gelap #nobash.

Mungkin saja Catherine Hardwicke, sutradara Red Riding Hood, memang terinspirasi Bella dan Twilight sehingga wajar saja bila… Tunggu dulu!
Catherine Hardwicke ternyata juga menyutradarai Twilight.

Oke.
Baiklah kalau begitu.

***

Pic Source:
1. Red Riding Hood
2. Stepsisters stamp
3. Isabella Swan, beloved lady from Twilight Saga

Comments (1)

Semacam DeJa Vu Saat Nonton Film Animasi

Meen.. sudah lima bulan blog ini dianggurin.
Baiklaaah…kali ini nulis  yang ringan-ringan dulu aja deh. Hitung-hitung ngasih napas buatan sama si blog yang mati suri ini.

****

Jadi ceritanya, pada satu malam, aku nonton dua film animasi, Rio dan Gnomeo and Juliet. Lalu ada satu adegan yang sama-sama muncul di dua film ini: Manuver Heimlich.

Lalu setelah kuinget-inget, kok rasanya ada beberapa ramuan sama yang diulang berkali-kali di beberapa film animasi. Mungkin memang belum bisa dibilang sebagai tren, tapi…gimana ya? Nilai sendiri dah…

1.Funny Accent

Apa persamaan antara Donkey (Shrek) dan Marty (Madagascar)?

Meet Marty and Donkey.Both are sidekick, and have funny Afro-American accent.
Kebetulan? Bisa jadi.

Tapi belakangan ini film animasi dengan tokoh binatang anthropomorph (punya kemampuan seperti manusia, misalnya bicara), biasanya punya minimal satu tokoh  dengan logat bicara non-Amerika yang biasanya jadi badut-badut di film tersebut. Masih butuh contoh? Gerombolan pinguin pimpinan Robin Williams di Happy Feet, dua burung di Rio,  juga Stella si Sigung di Over The Hedge.

Ohyah, tentang aksen Amerika ini, aku yakin semua juga udah ngeh kalo di hampir semua film animasi mainstream  buatan Hollywood, di belahan dunia manapun setting cerita film itu,  hampir bisa dipastikan kalau tokoh utamanya beraksen ala Om Sam. Masih butuh bukti? Inget Po, Panda aseli kelahiran negeri Tiongkok di Kung Fu Panda? Atau  Jewel, si burung biru kelahiran Rio de Jeneiro di film Rio? Trio Manny-Sid-Diego yang hidup di zaman Ice Age?

*singing Rammstein: We are living in Americaaa, Americaa.. Americaaaa*

2. Cewe Perkasa

Yang ini biasanya muncul di film animasi dengan tema percintaan.

Kalo inget film animasi Disney keluaran awal  seperti Snow White (1937), Cinderella (1950) sampai Sleeping Beauty (1959),  perempuan tokoh utama digambarkan sebagai  sosok yang halus dan lemah lembut macam putri keraton . Berubahnya hidup mereka yang malang ini  tergantung pada kedatangan seorang pangeran tampan berkuda putih yang datang menawarkan sepatu kaca yang cuma sebelah/ ciuman penghapus kutukan (medieval princes kinda pervert, yes?).

Lalu , Disney mulai mengubah karakter Disney Princess menjadi lebih pemberontak (Ariel, 1989 dan Jasmine, 1992), danlebih mandiri (Belle,  1991). Belakangan Disney malah membuat para putri yang bisa masuk ke dunia para lelaki, seperti peperangan dan petualangan (Pocahontas, 1995 & Mulan, 1998), dan juga sebagai pencari nafkah (Tiana, 2009).

Seperti Disney Princess yang terus berubah, para tokoh  putri di film animasi yang awalnya gemulai ini lama-lama berubah bagai  jagoan wanita macam Saras 008 (meh, aku ga yakin ada yang inget tokoh ini :p)
Ingat siNinja-Juliet yang mencuri hati  Gnomeo ?

atau Princess Fiona yang menggebuk  kawanan Merry Men dengan jurus tendangan tanpa bayangan?

WATTTAAAA!!!

Setelah dilihat-lihat, beberapa tokoh perempuan malah digambarkan lebih gahar dibanding peran utama laki-laki. Coba saja

bandingkan Eve dengan Wall-E  (Wall E), Jewel dengan Blu (Rio), dan juga Astrid dengan Hiccup (How to train your Dragon). Semua tokoh cewe ini diperlihatkan memandang rendah para tokoh pria yang menurut mereka payah, sebelum akhirnya jatuh hati sama cowo-cowo itu (teteeeup. yah, namanya juga tema percintaan).

3.Formula Boyband

Salah satu tema yang paling banyak diwujudkan sebagai film animasi adalah petualangan, dan petualangan dalam film animasi, mayoritas dilakukan dalam bentuk tim. Kalaupun petualangan ini diawali oleh sendirian, biasanya di perjalanan ia akan bertemu dengan tokoh lain yang akan menjadi rekan satu tim.

Daaaan… menurut Hollywood, berapa jumlah ‘anggota’ ideal dalam sebuah tim untuk sebuah ikatan persahabatan yang kukuh dan tetap tegak meski diterjang badai?? *jeng jeng*

Madagascar. they like to move it, move it!

Up

Shrek (2, 3, 4)

The Wild

How to Train Your Dragon (Karena si kembar menunggang 1 naga, jadi mereka dihitung sepaket. Curang? yo ben :p )

Setelah kulihat-lihat, sebuah tim dalam film animasi  biasanya memakai formula boyband alias jumlah anggotanya 4-5 personel untuk menentukan jumlah anggota dalam satu tim. Formula tiga personel seperti trio Manny-Diego-Sid di Ice Age atau duo Marlin-Dory di Finding Nemo relatif  jarang muncul.

Lebih lebih lagi, biasanya formula boyband ini gak cuma berlaku untuk tim yang didaulat menjadi pemeran utama, tapi juga untuk tim-tim bintang tamu, seperti Furious Five (lima  personel) di Kung Fu Panda, The Penguins of Madagascar (empat personel). atau juga lima penguin yang dipimpin Robin Williams di Happy Feet.

Dan betewe formula ini juga dipakai di film animasi bertema keluarga, misalnya The Incredibles (lima personel) dan Despicable Me (empat personel)

Oke.
Kenapa tim dengan empat atau lima personel ini laris ya?
Padahal SM*SH aja anggotanya ada tujuh orang. *apa hubungannyaaaaa??* #dirajam smashblast

Pic Source:
1. Marty
2. Donkey
3 Madagascar
4. Up
5. Shrek
6. The Wild
7. How to Train your Dragon

Leave a Comment

« Newer Posts · Older Posts »
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.